Logo STUDILMU Career Advice
STUDILMU Career Advice - 4 Tips Anti Menunda

4 Tips Anti Menunda


STUDILMU Users
by Studilmu Editor

 
Saya yakin pasti kita semua pernah sekali, dua kali, atau bahkan berkali-kali menunda-nunda pekerjaan yang ada. Lalu, pasti kita semua dapat menebak bagaimana konsekuensinya saat menunda-nunda tugas? Yap! jawabannya adalah tugas kita akan semakin menumpuk, meskipun kita berhasil menyelesaikan semuanya, kita tidak dapat menyelesaikannya dengan hasil semaksimal mungkin. 
 
Faktanya, hal ini tidak hanya terjadi kepada kita lho! Tetapi, orang-orang yang memiliki prestasi tinggi juga cenderung menunda-nunda pekerjaan mereka ketika merasa kewalahan dan stres, namun mereka tahu betul cara yang baik untuk segera bangkit dan menyelesaikan semua pekerjaan yang sempat tertunda. 
 
Kunci utama untuk berhenti dalam menunda-nunda pekerjaan adalah dengan melakukan sebuah proses yang spesifik, yang nantinya akan bekerja dengan psikologi kita untuk dapat melawan kebiasaan buruk ini. 
 
Berita baiknya, kiat-kiat ampuh yang akan kita bahas pada artikel ini hanya memerlukan waktu yang cukup singkat untuk penerapannya dan dijamin akan berhasil jika kita melakukannya dengan benar. Apakah pembaca setia Career Advice penasaran? Jika “ya”, Yuk kita simak formula anti-menunda pekerjaan di bawah ini. 

Formula Ampuh Anti-Menunda Pekerjaan 

Sebenarnya, formula untuk berhenti dari penundaan tugas cukup sederhana. Langkah awal yang perlu kita lakukan adalah menanyakan diri kita sendiri, “Bisakah saya memasukkan komitmen mikro di sini?”.
 
Komitmen mikro disini memiliki arti sebagai sesuatu yang sangat kecil dan sederhana sehingga kita siap mengatakan "ya" untuk melakukannya bahkan jika kita hanya memiliki sedikit motivasi terhadap aktivitas tersebut.
 
Katakanlah Anda tetiba merasa malas dan ingin menunda pembuatan materi presentasi yang harus dipresentasikan dalam tiga hari kedepan. Anda bisa tanyakan ini kepada diri sendiri “Bisakah saya hanya butuh satu jam, setidaknya hanya untuk menyelesaikan dua lembar dari bab pendahuluan saja?” Yap, cukup alokasikan waktu yang sedikit saja dan kerjakan sebuah komitmen yang kecil, maka kita dapat melihat perubahan internal dari dalam diri kita untuk segera mengeksekusi hal tersebut.
 
Selain itu, pernahkah sesekali pembaca merasa malas untuk tidak melakukan apapun, contohnya berolahraga. Tetapi herannya, begitu kita memaksakan diri untuk memulai berolahraga, kita malah sangat termotivasi untuk melanjutkan?.
 
Nah, hal ini terjadi karena momentum yang kita buat akan menghasilkan motivasi. Meskipun begitu, kita tidak boleh menunggu untuk termotivasi, baru mulai mengerjakan. Kenapa? Karena kita tidak akan pernah tahu kapan motivasi akan datang menghampiri kita. Ambil langkah kecil yang dapat menghasilkan motivasi dan kemudian terus bertanya pada diri sendiri, “Bisakah saya melakukan sedikit lagi?”
 
Setelah menindaklanjuti komitmen kecil itu untuk menyelesaikan dua lembar dari bab pendahuluan, otak kita mungkin akan berpikir, “saya sudah berhasil memulainya, sepertinya saya bisa melanjutkan bagian yang lain, mumpung saya sedang merasa termotivasi” Bisa jadi tanpa kita sadari, ternyata kita bukan hanya berhasil menyelesaikan dua halaman bab pengantar, tapi juga sudah menyelesaikan beberapa halaman dari konten presentasi, hebat bukan? 
 
Setelah mengetahui formula di atas, mari kita lihat bagaimana formula ini dapat digunakan untuk menaklukkan empat faktor utama dalam penundaan, yaitu: ketakutan, kewalahan, ketidakpastian, dan perfeksionisme.
 

1. Mengatasi Ketakutan Secara Perlahan-Lahan

Sering kali saya menunda-nunda pekerjaan yang sangat saya takuti. Mungkin ini juga terjadi pada para pembaca Career Advice. Dan, tidak dapat dielakkan lagi bahwa hal ini sangat menghambat gerak diri kita dalam melangkah maju dan menyelesaikan tugas-tugas yang ada.  
 
Salah satu cara untuk mengatasi penundaan terhadap pekerjaan yang menakutkan adalah secara bertahap memaparkan tugas-tugas yang kita takuti ke dalam lingkungan yang aman.
 
Sebagai contoh, saya harus mempresentasikan laporan saya dalam dua hari kedepan. Masalahnya adalah saya tidak pernah melakukan tugas ini sebelumnya. Ini benar-benar membuat perasaan saya kacau dan ketakutan. Lalu, saya berdialog dengan diri sendiri dengan memaparkan tugas menakutkan ini (setidaknya, ini menakutkan bagi saya). Saya harus berlatih sambil membayangkan melakukan presentasi di depan keluarga serta teman-teman dekat di rumah saya. Setelah melakukannya selama lima menit, saya rasa boleh juga untuk mengundang satu orang asing untuk menjadi pendengar presentasi saya. Setelah saya berlatih selama sepuluh menit, saya berpikir kembali, “sepertinya jika pendengar saya terdiri dari satu grup kecil yang tidak saya kenal sama sekali, oke juga nih!” dan begitu selanjutnya sampai kita merasa bahwa tidak ada masalah jika harus melakukan presentasi di depan rekan-rekan kerja atau bos di kantor. 

2. Menghindari Kewalahan atas Permasalahan yang Besar 

“Ahh, tugas ini terlalu berat dan besar bagi saya, mungkin perlu saya tunda sampai permasalahan ini terasa tidak begitu sulit.” Apakah pembaca pernah berpikir hal yang serupa dengan pernyataan tersebut? 
 
Ya, ini adalah hal yang umum terjadi. Seringkali kita merasa sulit untuk berkonsentrasi dan kewalahan sampai akhirnya kita menunda sebuah pekerjaan, karena pekerjaan tersebut terasa sangat berat dan sulit. 
 
Inilah mengapa banyak para mentor ahli menyarankan, jika kita memiliki sebuah tujuan yang besar, pecahlah tujuan tersebut menjadi langkah tindakan yang lebih kecil. Dengan begitu, kita dapat fokus dalam menyelesaikan beberapa langkah kecil tersebut dan cenderung menjadikan setiap perilaku kecil tersebut menjadi sebuah kebiasaan. Setelah itu menjadi kebiasaan, maka kita dapat menambahkan kebiasaan baru tanpa merasa kewalahan.
 

3. Mengatasi Ketidakpastian dengan Mengeksplor Diri

Yap! ini juga merupakan salah satu faktor mengapa kita selalu menunda-nunda pekerjaan. Terlalu banyak ketidakpastian yang hadir di kehidupan kita, sehingga kita menjadi ragu untuk mengambil langkah berikutnya. 
 
Terkadang satu-satunya cara untuk mendapatkan kejelasan adalah mengambil beberapa tindakan dan kemudian meminta umpan balik untuk mengoreksi apa yang telah kita kerjakan.
 
Jika kita tidak yakin tentang karier apa yang ingin dituju, kita dapat menanyakan hal ini kepada diri sendiri, “Bisa ga yah saya mencoba satu aktivitas baru minggu ini agar saya bisa tahu apa yang saya sukai dan yang tidak saya nikmati?”
 
Dikarenakan tidak ada kejelasan inilah, yang membuat kita menunda-nunda pekerjaan yang ada sekarang, karena kita takut jika sudah berhasil menyelesaikan semua tugas yang ada, setelah itu apa yang akan kita lakukan? Mungkin tidak ada. 
 
Inilah mengapa kita penting untuk mencari kejelasan karier, agar dapat segera menyelesaikan tugas yang ada sekarang, dan bersiap menyambut tugas-tugas berikutnya. 

4. Mengatasi Perfeksionisme dengan Belajar dari Kesalahan

Meskipun mengerjakan segala hal dengan perfeksionisme adalah hal yang baik.  Tetapi, kita juga perlu memberi peluang kepada diri sendiri untuk tidak terlalu memaksa keadaan untuk berjalan benar-benar sesuai dengan keinginan kita. Sesekali melakukan kesalahan adalah hal yang wajar. Jangan sampai karena kita takut melakukan kesalahan, ini membuat kita mengulur-ulur waktu dalam mengerjakan tugas.
 
Ketika kita menghilangkan tekanan untuk menjadi sempurna, kita dapat menemukan bahwa seiring berjalannya waktu, kita akan dapat menghasilkan karya terbaik yang sebelumnya mungkin belum pernah kita buat.