Logo STUDILMU Career Advice
STUDILMU Career Advice - Aplikasi Sosial Media dan Pengaruhnya

Aplikasi Sosial Media dan Pengaruhnya


STUDILMU Users
by Studilmu Editor

 
Apakah rekan pembaca seorang penggila game? Atau seseorang yang tidak bisa melewatkan satu hari saja tanpa media sosial? Kenyataannya, kebanyakan dari kita menghabiskan waktu dan uang demi aplikasi sosial seperti game selular atau media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter dan lain-lain. Coba tebak berapa banyak waktu yang dihabiskan orang-orang untuk bermain game selular setiap bulannya? Jawabannya adalah 1,15 miliar jam setiap bulan loh! Mengejutkan bukan? 
 
Faktanya, rata-rata kita menghabiskan 2 jam pada aplikasi sosial media setiap harinya, dan ini sama saja seperti 5 tahun, 4 bulan selama seumur hidup. Bahkan, para peneliti membuat hal ini sebagai candaan bahwa manusia bisa terbang ke bulan dan kembali lagi ke bumi selama 32 kali dengan waktu yang kita habiskan untuk aplikasi sosial media. Waduh! Lama juga ya. 
 
Seperti yang kita ketahui bahwa waktu adalah aset berharga yang dimiliki oleh setiap manusia. Ini lebih dari emas atau uang, karena kita semua tidak dapat mengembalikkan waktu seperti sedia kala dengan membayar berapapun uang yang kita miliki. Masalahnya, kita bukan hanya membuang-buang waktu, namun kita juga membuang-buang ribuan sampai jutaan rupiah untuk beberapa aplikasi di seluler kita. 
 
Sebagai contoh, rekan-rekan pembaca masih ingat tidak dengan game terlaris yang masuk ke Indonesia seperti game ‘Pokemon Go’ atau ‘Candy Crush’? Bagi rekan-rekan pembaca yang suka bermain game di ponsel pasti tahu kan kedua game tersebut memiliki banyak penggemar, yang sangat gila memainkannya. Tahukah rekan pembaca bahwa game Pokemon Go menghasilkan pemasukan sebanyak $2,3 juta per harinya dan game Candy Crush menghasilkan $1,1 juta dalam sehari. Wih! 
 
Nah, sekarang pembaca Career Advice sudah tahu kan betapa kita sangat dirugikan oleh aplikasi sosial media yang jika kita tidak bisa mengontrol diri kita, maka ini akan menjadi ‘candu’ yang sangat merugikan. Kita bukan hanya kehilangan waktu yang sangat berharga, namun juga uang beribu-ribu dan berjuta-juta rupiah yang dikeluarkan untuk hal-hal yang kurang berdampak. 
 
Selain game selular, coba kita lihat infografis di bawah ini yang menunjukkan berapa banyak waktu yang kita habiskan pada setiap aplikasi sosial media yang kita miliki: 
YouTube adalah aplikasi sosial media yang paling sering kita buka. Dari data yang didapat, setiap harinya kita menghabiskan waktu selama 40 menit untuk membuka dan menonton video-video di Youtube, 35 menit untuk membuka, mengunggah foto dan menulis status di Facebook, 25 menit untuk menggunakan Snapchat, 15 menit untuk membuka Instagram dan 1 menit untuk Twitter. 
 
 
Mengapa kita bisa menghabiskan banyak waktu di ponsel untuk berkelana pada aplikasi sosial media di atas? Ini dikarenakan rasa bosan yang kita hadapi dan ponsel kita sudah sangat pintar untuk ‘menjamu’ kita dengan berbagai macam aplikasi sosial yang sangat menghibur. Yap, kemajuan teknologi benar-benar sangat membantu kita dalam hal ini, bukan? 
 
Kebosanan adalah situasi yang sangat menjengkelkan dan tidak membuat kita bahagia. Maka dari itu, sangatlah wajar jika kita ingin menyingkirkannya dan tidak peduli akan kehilangan waktu atau uang. Perilaku impulsif seperti bermain dengan telepon, adalah cara yang sering kita gunakan untuk menghilangkan rasa bosan.
 
Pada poin sebelumnya, kita sudah membahas bahwa rata-rata kita menghabiskan waktu 2 jam pada aplikasi sosial media setiap harinya, dan ini sama saja seperti 5 tahun, 4 bulan selama seumur hidup. Perhitungan tersebut didapatkan dari infografis yang kita dapatkan di bawah ini: 
 
 
Nyatanya, 5 tahun 4 bulan itu bukan waktu yang singkat, bukan? Ada begitu banyak hal yang bisa kita lakukan dengan waktu tersebut. Seperti contoh yang kami sampaikan sebelumnya, seorang manusia bisa bulak balik ke bulan-bumi selama 32 kali dengan waktu di atas. Ternyata, ada beberapa aktivitas lain yang bisa kita lakukan loh dengan waktu yang diberikan di atas. Apa saja ya? 
 
 
Kita dapat pergi menelusuri tembok China yang begitu panjangnya selama 3.5 kali loh! Kita juga dapat menonton serial The Simpsons sebanyak 215 kali, mendaki Gunung Everest selama 32 kali, lari maraton sebanyak lebih dari 10 kali dan berjalan-jalan dengan anjing peliharaan kita selama 93 kali. Waw! Ternyata banyak banget ya yang bisa kita lakukan. Dan, satu aktivitas di atas bisa dilakukan lebih dari 1 kali, bahkan berkali-kali lipat.
 
Sekali lagi kami sampaikan bahwa aplikasi sosial media sering mendapatkan perhatian dari kita karena itu tampak begitu menarik, dapat menghilangkan kebosanan yang menghinggapi kita dan memberikan kebahagiaan yang kita perlukan. Apalagi jika ponsel selalu berada di dekat kita. Wah, kita akan semakin tergoda untuk memainkannya. 
 
Tapi, tahukah rekan-rekan Career Advice bahwa bermain-main dengan telepon ternyata tidak dapat benar-benar membunuh kebosanan kita?
Berdasarkan hasil dari sebuah penelitian yang diadakan oleh sebuah universitas terkenal di Amerika Serikat menunjukkan bahwa bermain dengan ponsel tanpa pertimbangan yang panjang tidak akan menghilangkan kebosanan, ini malah akan semakin menggerogoti kesabaran kita serta pengendalian diri yang semakin berkurang. Semakin banyak waktu yang kita habiskan untuk aplikasi sosial media di seluler, semakin mudah kita merasa bosan.
 
Tidak hanya itu, kita juga akan semakin impulsif, yang berarti kita akan semakin sulit untuk jauh dari ponsel. Satu hari tanpa ponsel rasanya seperti bertahun-tahun tidak pegang ponsel. 
 
Sekarang, apa yang dapat kita perbuat akan hal ini? 
Rekan-rekan Career Advice, berikut adalah beberapa tips yang dapat membantu kita melakukan detoksifikasi dari kecanduan aplikasi sosial media.
 
Tantang Diri untuk Tidak Memainkan Ponsel Selama Waktu Siaga
Biasanya, kita akan selalu tergoda untuk memainkan ponsel saat waktu siaga datang menghampiri seperti, menunggu bus datang, mengantri di loket pembayaran, dan kegiatan membosankan lainnya. Nah, coba deh sembunyikan aplikasi game atau sosial media kita di ponsel ke dalam folder tersembunyi atau folder di halaman terakhir, dan jangan lupa untuk menonaktifkan pemberitahuannya.
 
Asumsikan diri bahwa kita tidak memiliki aplikasi apapun di folder tersembunyi tersebut. Apabila kita berhasil tidak membuka folder di halaman awal, maka besar kemungkinan kita tidak akan menjelajah ke folder lainnya. 
 
Menjauhkan diri dari godaan ponsel adalah cara terbaik untuk terhindar dari sikap impulsif. Coba cari kegiatan yang lebih menarik dari bermain ponsel yang ada di sekitar kita. Contohnya, ngobrol dengan calon penumpang lain yang sedang menunggu bus di halte, tersenyum dan menyapa nenek yang ada di belakang kita saat menunggu di loket antrian, dan lain sebagainya. 
 
Kita harus menyadari bahwa kita memiliki kehidupan nyata di luar Facebook, Instagram, Twitter, dan aplikasi sosial media lainnya. Akankah lebih baik jika kita bertemu dan makan siang langsung dengan teman-teman lama kita dibandingkan hanya bertegur sapa di dinding Facebook, menulis blog atau buku daripada hanya sekedar menulis caption yang panjang di Instagram, memasak atau memanggang kue yang resepnya hanya kita sukai dan simpan di beranda Facebook, dan kegiatan-kegiatan lainnya di dunia nyata.
 
Ketika kita belajar untuk menghargai dan menikmati hal-hal menarik di dunia nyata, kita tidak akan kembali lagi ke ponsel. Bahkan, kita bisa ‘hidup’ tanpa ponsel, yang mana ketergantungan akan ponsel akan semakin memudar. 
 
Ingatlah bahwa ponsel memang memberikan kita banyak manfaat, namun kita harus bijak dalam menggunakannya. 
 
Coba tanyakan pertanyaan ini pada diri sendiri, “apakah saya benar-benar merasa senang saat bermain dengan ponsel saya, atau apakah saya hanya merasa bosan?” dan “bisakah saya melakukan kegiatan lain yang lebih bermanfaat daripada main dengan ponsel? Nah, sekarang rekan-rekan Career Advice sudah tahu pengaruh yang akan didapatkan saat kita terlalu menggantungkan diri dengan ponsel dan aplikasi sosial media. Pengaruh yang diberikan juga memberikan dampak yang cukup negatif. Jadi, tunggu apalagi? Yuk, bersama kita kontrol penggunaan ponsel dan aplikasi sosial media kita mulai dari sekarang. Semangat terus ya, rekan-rekan Career Advice.
Featured Career Advice
6 Gaya Kepemimpinan dalam Menjadi Manajer yang Efektif

Leadership

6 Gaya Kepemimpinan dalam Menjadi Manajer yang Efektif

Mengapa Anak-Anak Harus Diajarkan Pola Pikir Kewirausahaan?

Entrepreneurship

Mengapa Anak-Anak Harus Diajarkan Pola Pikir Kewirausahaan?

4 Cara Membangun Merek yang Menarik Perhatian Gen Z dan Milenial

Marketing & Sales

4 Cara Membangun Merek yang Menarik Perhatian Gen Z dan Milenial

Bagaimana Rasa Syukur dapat Memperbaiki Kondisi Finansial Anda?

Self Improvement

Bagaimana Rasa Syukur dapat Memperbaiki Kondisi Finansial Anda?

10 Cara Sederhana untuk Mencintai Pekerjaan yang Kita Miliki

Self Improvement

10 Cara Sederhana untuk Mencintai Pekerjaan yang Kita Miliki

7 Cara untuk Meningkatkan Motivasi Karyawan

Motivation

7 Cara untuk Meningkatkan Motivasi Karyawan

Bagaimana Cara Tetap Merasa Bahagia Walau Tanpa Uang Banyak?

Happiness

Bagaimana Cara Tetap Merasa Bahagia Walau Tanpa Uang Banyak?

5 Ide Bisnis Rumahan yang Cocok untuk Pensiunan

Entrepreneurship

5 Ide Bisnis Rumahan yang Cocok untuk Pensiunan

4 Cara Bertanggung Jawab terhadap Hidup yang Kita Miliki

Self Improvement

4 Cara Bertanggung Jawab terhadap Hidup yang Kita Miliki

Pengertian Creative Thinking dan Contoh Keterampilannya

Innovation

Pengertian Creative Thinking dan Contoh Keterampilannya

5 Tanda Bisnis Anda Memerlukan Staf Human Resource

Leadership

5 Tanda Bisnis Anda Memerlukan Staf Human Resource

5 Cara Merangkul Konsumen Generasi Millennial melalui Instagram

Generation Millennials & Z

5 Cara Merangkul Konsumen Generasi Millennial melalui Instagram

13 Tips Ampuh untuk Merekrut Karyawan yang Berkualitas Tinggi

Resume & Interviewing

13 Tips Ampuh untuk Merekrut Karyawan yang Berkualitas Tinggi

4 Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Menjadi Penulis Freelance

Self Improvement

4 Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Menjadi Penulis Freelance

4 Pertanyaan Penting dalam Memilih Ide Bisnis yang Tepat

Entrepreneurship

4 Pertanyaan Penting dalam Memilih Ide Bisnis yang Tepat

4 Tren Teratas Bidang Human Resource di Tahun 2020

Leadership

4 Tren Teratas Bidang Human Resource di Tahun 2020

3 Cara Memastikan Ide Bisnis Rumahan Kita adalah yang Terbaik

Entrepreneurship

3 Cara Memastikan Ide Bisnis Rumahan Kita adalah yang Terbaik

5 Alasan Pentingnya Rencana Bisnis Ketika Memulai Usaha

Entrepreneurship

5 Alasan Pentingnya Rencana Bisnis Ketika Memulai Usaha

8 Tips untuk Menyewa Kantor Anda Pertama Kalinya

Productivity

8 Tips untuk Menyewa Kantor Anda Pertama Kalinya

3 Hal yang Diperlukan untuk Customer Service yang Berkelanjutan

Customer Service

3 Hal yang Diperlukan untuk Customer Service yang Berkelanjutan

4 Cara Meningkatkan Creative Thinking untuk Meraih Kesuksesan

Innovation

4 Cara Meningkatkan Creative Thinking untuk Meraih Kesuksesan

8 Kecerdasan Emosional yang Membantu Kita Melupakan Masa Lalu

Emotional Intelligence

8 Kecerdasan Emosional yang Membantu Kita Melupakan Masa Lalu

7 Cara Membuat Presentasi Penjualan yang Hebat

Marketing & Sales

7 Cara Membuat Presentasi Penjualan yang Hebat

3 Cara Meraih Kebahagiaan dengan Menerima Diri Sendiri Apa Adanya

Happiness

3 Cara Meraih Kebahagiaan dengan Menerima Diri Sendiri Apa Adanya

7 Cara Menjadi Lebih Percaya Diri Ketika Bertemu Klien

Self Improvement

7 Cara Menjadi Lebih Percaya Diri Ketika Bertemu Klien

12 Pengembangan Diri Menjadi Pemimpin dan Individu yang Lebih Baik

Self Improvement

12 Pengembangan Diri Menjadi Pemimpin dan Individu yang Lebih Baik

15 Cara yang Perlu Dikuasai untuk Membangun Kredibilitas di Kantor

Self Improvement

15 Cara yang Perlu Dikuasai untuk Membangun Kredibilitas di Kantor

10 Kebiasaan yang Membantu Staf Human Resource Menjadi Sukses

Self Improvement

10 Kebiasaan yang Membantu Staf Human Resource Menjadi Sukses

10 Kebiasaan Milenial yang Berbeda dengan Baby Boomers

Generation Millennials & Z

10 Kebiasaan Milenial yang Berbeda dengan Baby Boomers