×
STUDILMU Career Advice - Simpati dan Empati, Mana yang Terbaik?
Self Improvement

Simpati dan Empati, Mana yang Terbaik?

STUDILMU Users By STUDiLMU Editor

 
Beberapa tahun yang lalu saya mengalami perpisahan yang memilukan. Itu traumatis, menyakitkan dan menghancurkan. Satu-satunya titik terang di tengah-tengah air mata dan sakit hati yang saya alami adalah pengertian, pengabdian, dan kepedulian yang tulus yang ditunjukkan oleh keluarga dan teman-teman saya saat saya menjalani proses penyembuhan. Itu sangat berarti bagi saya.
 
Beberapa bulan kemudian salah satu anggota keluarga saya jatuh sakit. Sekali lagi saya beralih ke support sistem saya. Namun kali ini, respons mereka sedikit berbeda. Bukan karena mereka tidak peduli, mereka mengungkapkan perasaan mereka sedikit berbeda. Saya merasakan bahwa mereka tidak bisa merasakan apa yang saya rasakan. Mereka tampaknya lebih pengertian dan mendukung emosional saya saat saya berpisah. Respons mereka yang suam-suam kuku dan agak jauh membuat saya merasa marah, bingung, dan terluka.
 
Pengalaman ini mengajari saya perbedaan simpati dan empati. Apakah rekan pembaca memiliki pemahaman yang jelas tentang kedua hal ini?
 

Simpati

Simpati adalah hal yang kita berikan ketika kita tidak memiliki pengalaman yang sama dengan yang dialami orang lain. Seringkali, simpati yang disampaikan dalam bentuk nasihat. Simpati hanya menyampaikan tanggapan tetapi tidak terdapat kepedulian, terasa dingin dan tidak berperasaan. Simpati hanya melihat suatu kejadian dari sisi penonton. Simpati terpisahkan oleh jarak dan pengalaman.
 
Simpati sama halnya dengan menonton film, kita seringkali mengucapkan ‘Jika saya menjadi dia, itu pasti akan sangat menyakitkan. Tetapi saya akan …’ Ya, simpati adalah perasaan yang kita ungkapkan terhadap apa yang dialami orang lain dari sudut penonton.
 

Empati

Empati adalah kemampuan untuk melihat situasi dari sudut pandang orang lain. Ini adalah kemampuan untuk tahu persis apa yang orang lain alami dan rasakan. Ketika kita memiliki pengalaman yang sama dengan orang lain, kita sering kali mengatakan ‘Saya tahu bagaimana perasaan Anda. itu tidak mudah, ambil waktu sebanyak mungkin untuk menyelesaikan ini.’ atau ‘Hubungi saya kapan saja kamu membutuhkan. Saya akan mendengarkan.’ Tanggapan ini dapat diberikan hanya oleh orang yang benar-benar tahu perasaan seseorang dan pernah merasakan pengalaman yang sama.
 

Mengapa kita memerlukan empati lebih dari sekedar simpati?

Ketika seseorang mengalami kesakitan atau kesedihan, dukungan emosional adalah hal yang sangat dibutuhkannya. Jika kita memberikan nasihat, itu malah akan menambah kekacauan. Tentu maksudnya pasti baik, tetapi memberikan nasihat yang tidak diminta bukan merupakan ide yang baik. Berdasarkan survei, sembilan dari sepuluh mengatakan bahwa ketika merasa putus asa mereka hanya ingin didengar dan dipahami. Sesulit apa pun, mendengarkan seseorang dapat menjadi hal paling bermanfaat dan sangat menghibur yang dapat Anda lakukan. Ketika seseorang mengalami kesedihan, dukungan emosional selalu mengalahkan nasihat-nasihat bijak sekalipun.
 
Jadi, ketika rekan pembaca memiliki teman, sahabat atau kerabat yang mengalami kesedihan, cobalah untuk mendengarkan mereka terlebih dulu. Coba untuk memahami perasaan mereka. Bayangkan perasaan mereka, bukan perasaan Anda. Kemudian jika Anda harus berbicara, katakan hal-hal yang mengatasi masalah mereka seperti, ‘Kamu menghabiskan begitu banyak waktu dan energi untuk pekerjaan itu, saya mengerti mengapa kamu merasa dikhianati,’ atau ‘Kamu benar, mereka seharusnya setidaknya melakukan hal tersebut.’ Hanya mendengarkan, menghapus air mata dan membiarkan mereka tahu bahwa Anda ada di sini adalah hal yang sangat berarti.
 
Lalu, bagaimana kita dapat mengubah simpati menjadi empati?

1. Temukan cara untuk terhubung dengan yang orang lain alami.

Cobalah untuk mebangun pemikiran yang sama. Contohnya, ketika seorang teman yang sangat berpengalaman kehilangan pekerjaanya, cobalah mengaitkan penolakan yang dirasakannya. Kita semua pasti pernah mengalami penolakan dalam bentuk apapun. Mungkin ditolak orang yang kita sukai, atau masih banyak lagi. Situasinya memang berbeda, tetapi terdapat perasaan yang sama. Gunakan perasaan itu untuk menunjukkan empati terhadap apa yang ia rasakan.

2. Temukan kesamaan dengan orang yang Anda temui.

Menemukan cara untuk terhubung dengan orang-orang di sekitar tidak hanya membuat Anda lebih berempati, tetapi juga membuat Anda lebih nyaman. Ketika bertemu orang baru, biasakan untuk menemukan setidaknya tiga hal yang sama dengan Anda.
 
Ketika seseorang berbagi pengalaman, berusahalah untuk melibatkan imajinasi dan memvisualisasikan apa yang mereka katakan. Cobalah memasukkan diri Anda ke dalam situasi dan rasakan apa yang mereka rasakan. Hal ini membantu Anda melatih otak untuk beralih dari keadaan egosentrisme menjadi fokus terhadap orang lain.
 

3. Merespon dengan perasaan, bukan kata-kata.

Saat seseorang baru saja terluka, mengalami kesedihan, maupun kemarahan, ia sendiri juga merasa bingung. Itulah sebabnya, kita harus mendengarkannya agar dapat memahami keadaannya dan menunjukkan empati. Dengarkan dengan telinga, mata dan hati, inilah yang terpenting. Kita harus dapat mendengarkan apa yang tidak dikatakan.
 
Siapa pun yang bekerja dengan anak-anak memahami konsep ini. Anak-anak, terutama ketika masih sangat kecil, tidak memiliki kosa kata untuk mengekspresikan diri mereka secara memadai. Orang dewasa harus menilai situasi, menafsirkan bahasa tubuh dan ekspresi wajah dan mengaitkan hal dengan apa yang dialami anak. Orang dewasa kemudian merespon apa yang dirasakan anak itu sebagai pengganti apa yang mereka katakan.
 

4. Dengar, dengar dan dengarkan.

Mendengarkan adalah kunci untuk menghibur seseorang yang terluka. Anda bisa saja pernah mengalami hal yang sama tetapi setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda. Anda mungkin berpikir tahu bagaimana perasaan mereka, tetapi Anda tidak pernah bisa memastikannya sampai ia mengatakannya.  Anda harus mampu menahan diri untuk mengatakan sesuatu jika Anda tidak yakin apa yang harus dilakukan atau dikatakan. Ia akan memberitahu Anda melalui kata-kata, air mata, dan tindakan mereka. Dengarkan saja.
 
Ya, empati bukan hanya menempatkan diri pada posisi orang lain, ini juga mengharuskan kita membayangkan jika kita yang berada pada posisi tersebut. Ketika dilakukan dengan benar, empati menuntun pada belas kasih. Belas kasih, yang dibangun dari empati adalah bentuk kenyamanan paling sejati yang dapat kita berikan sebagai manusia. Yuk, kita mulai belajar untuk memiliki empati terhadap orang lain.

Featured Career Advice