Logo STUDILMU Career Advice
STUDILMU Career Advice - Kemampuan Meraih Kesuksesan

Kemampuan Meraih Kesuksesan


STUDILMU Users
by Heria Windasuri
Posted on Aug 24, 2018

Banyak orang meyakini, bahwa untuk mencapai kesuksesan dalam pekerjaan dan hidup, Anda harus cerdas. Dengan kata lain, IQ sangat berperan. Namun jika Anda pernah mendengar nama William James Sidis, mungkin Anda akan berubah pikiran. Di usia 1 tahun 6 bulan Sidis sudah bisa membaca New York Times, pada usia 8 tahun sudah dapat menguasai 8 bahasa dan ia juga menulis beberapa buku tentang anatomi dan astronomi. William James Sidis, tokoh jenius dengan kejeniusan tidak kurang dari Einstein – IQ antara 250-300, meninggal di usia 46 tahun karena pendarahan di otak, sebelum banyak menyumbangkan ilmunya. 
 
Ironis, mengingat kecerdasan merupakan pemandu (guide) bagi individu untuk mencapai berbagai sasaran dalam hidup. Pendapat umum yang beredar di masyarakat adalah bahwa orang cerdas akan lebih sukses dibanding orang yang kurang cerdas, karena mereka lebih mampu memilih strategi-strategi pencapaian sasaran yang jauh lebih baik daripada orang yang kurang cerdas. Tetapi hal tersebut tidak terjadi pada Sidis. IQ nya yang tinggi tidak diimbangi AQ yang baik. Ia membiarkan dirinya dihimpit oleh Circle of Concern yang kian membesar.
 
Kemampuan meraih kesuksesan sangat tergantung pada masing-masing individu. Hal ini terkait dengan kekuatan kepribadian dan kemampuan masing-masing dalam merespon dan bertahan hidup. Orang sukses dan orang gagal sama-sama mengalami berbagai kesulitan dalam pekerjaan dan kehidupan. Perbedaannya terletak pada kecerdasan menghadapi dan merespons kesulitan hidup yang dijalaninya. Keputusan mereka untuk terus mencari cara mengatasinya. Yang artinya, orang sukses lebih cerdas dari pada orang gagal dalam menghadapi kesulitan hidupnya. 
 
Penelitian mengatakan bahwa orang-orang yang tidak memiliki kecerdasan dalam menghadapi tekanan (Adversity Quotient) yang baik akan sangat terhambat dalam mengoptimalkan hidup pribadi, relasi sosial, dan karirnya. Konsep Adversity Quotient pertama kali digagas oleh Paul G. Stoltz. Stoltz dalam dua bukunya berjudul "Adversity Quotient” (1999) dan "Adversity Quotient at Work” (2000) yang secara komprehensif menjelaskan apa yang dimaksud kecerdasan menghadapi kesulitan dan bagaimana meningkatkan kecerdasan baru tersebut. Menurut definisi Stoltz, Adversity Quotient adalah, “The capacity of the person to deal with the adversities of his life. As such, it is the science of human resilience”. Atau bila diterjemahkan, “Kemampuan seseorang untuk menghadapi tantangan kesengsaraan dalam hidupnya”. Mereka yang memiliki AQ tinggi akan menunjukkan perilaku Climbers. Sedangkan mereka yang berpuas diri hingga mudah menyerah adalah para Campers dan Quitters.
 
Adversity Quotient adalah bentuk kecerdasan selain IQ, SQ, dan EQ yang ditujukan untuk mengatasi kesulitan. AQ dapat dipandang sebagai ilmu yang menganalisis kegigihan manusia dalam menghadapi setiap tantangan sehari-hari. Kebanyakan manusia tidak hanya belajar dari tantangan, tetapi mereka bahkan meresponnya untuk memeroleh sesuatu yang lebih baik.  AQ juga dapat digunakan untuk menilai sejauh mana seseorang ketika menghadapi masalah rumit. Dengan kata lain, AQ dapat digunakan sebagai indikator bagaimana seseorang dapat keluar dari kondisi yang penuh tantangan.
 
Stoltz bahkan mengatakan bahwa orang-orang yang memiliki Adversity Quotient yang rendah dapat mengalami dampaknya pada:
· Kemampuan untuk menyelesaikan tanggung jawab
· Kemampuan untuk memberikan respon yang tepat sesuai dengan situasi
· Kemampuan untuk menahan tekanan (stress) sehari-hari
· Semangat atau daya juang di kehidupan sehari-hari
· Kemampuan untuk tetap berharap
· Bahkan kesediaan untuk tetap bertahan hidup
 
Penelitian yang dilakukan oleh Thomas J Stanley yang kemudian ditulisnya dalam sebuah buku berjudul "The Millionaire Mind" (2003) menjelaskan hal yang sama, bahwa mereka yang berhasil menjadi millioner di dunia ini adalah mereka dengan prestasi akademik biasa-biasa saja (rata-rata S1), namun mereka adalah pekerja keras, ulet, penuh dedikasi, dan bertanggung jawab, termasuk tanggung jawab yang sangat besar terhadap keluarganya. 
Berbeda dengan Stoltz, Mortel berpandangan bahwa makin besar harapan seseorang terhadap dirinya sendiri, maka makin kuat pula tekadnya untuk meraih kesuksesan dan keberhasilan dalam hidup. Mortel berpendapat bahwa kegagalan adalah suatu proses yang perlu dihargai, suatu pengalaman yang akan menghantar seseorang untuk mencoba berusaha lagi dengan pendekatan yang berbeda. Sedangkan Maxwell mengatakan bahwa ketekunan yang dimiliki oleh seseorang akan memberinya daya tahan. Daya tahan tersebut akan membuka kesempatan baginya untuk meraih kesuksesan dalam hidup. 
 
Saat seseorang memutuskan menjadi Climbers, segala resiko dan kesulitan yang mungkin muncul dia hadapi, untuk tetap menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Manusia climber adalah pendaki yang tidak mudah menyingkir berteduh karena panas, atau lapuk karena hujan. Sebagai sosok pendaki, jika menemukan ada hambatan, ia mencari jalan lain. Climbers akan melakukan terbaik yang ia bisa. Totalitas dalam setiap tugas yang dipercayakan kepadanya.
 
Climbers bukan Quitters yang sekedarnya bekerja dan hidup, mudah putus asa dan menarik diri di tengah jalan. Quitters tidak senang perubahan, sehingga orang sering menyebutnya sebagai mudah menyerah atau lemah. Mereka memilih untuk keluar, menghindari kewajiban, mundur dan berhenti, lalu menyalahkan orang lain, banyak mengeluh. Climbers bukan pula Campers yang selalu mempertimbangkan resiko yang akan dihadapi, yang tidak ngotot untuk menyelesaikan pekerjaan karena berpendapat akan mengalami resiko. Campers mau melakukan perubahan, tetapi jika menghadapi satu kesulitan mudah patah semangat dan berhenti layaknya orang yang sedang berkemah. Campers bahkan bersuka-ria menikmati jeda waktu istirahat tersebut, tidak berupaya untuk mengatasi kesulitan yang sedang mereka hadapi. Climbers bukanlah Campers yang mudah berpuas diri.
 
Untuk bisa sukses kita dituntut memiliki kecerdasan IQ juga mampu mengendalikan emosi, yaitu mempunyai Kecerdasan Emosional – Emotional Quotient (EQ) yang baik. Melengkapi itu semua, seorang yang menginginkan kesuksesan perlu memiliki Adversity Quotient yang baik, dan mampu menerapkan AQ secara baik dan benar. Dengan AQ, pemimpin mampu mengatasi permasalahan bisnis dan kinerja karyawan, sehingga memberikan contoh dan menginspirasi anggota timnya. Dengan AQ, karyawan mampu menunjukkan kelayakan menjadi sosok baru pengemban tampuk kepemimpinan.
 
Jadi silahkan buat pilihan terbaik. Menjadi Climbers, atau terpinggirkan sebagai Quitters.
Featured Career Advices
Perencanaan Keuangan yang Salah di Umur 20-an

Perencanaan Keuangan yang Salah di Umur 20-an

Pentingnya Integritas dan Kejujuran Hati di Dunia Kerja

Pentingnya Integritas dan Kejujuran Hati di Dunia Kerja

Asumsi adalah Penyebab Kegagalan Wirausaha

Asumsi adalah Penyebab Kegagalan Wirausaha

Rapat Kerja dengan Keberagaman Suku Bangsa

Rapat Kerja dengan Keberagaman Suku Bangsa

5 Cara Membuat Logo Produk Menjadi Terkenal

5 Cara Membuat Logo Produk Menjadi Terkenal

Cara Mengatasi Stress terhadap Finansial

Cara Mengatasi Stress terhadap Finansial

Pengertian E-learning dan Lanskapnya pada 2019

Pengertian E-learning dan Lanskapnya pada 2019

Pentingkah Memiliki Tujuan Bekerja?

Pentingkah Memiliki Tujuan Bekerja?

Rapat Kerja dengan Komunikasi yang Efektif

Rapat Kerja dengan Komunikasi yang Efektif

5 Cara Pengusaha Sukses Tetap Bahagia

5 Cara Pengusaha Sukses Tetap Bahagia

7 Cara Menjadi Tokoh Terkenal di Dunia Bisnis

7 Cara Menjadi Tokoh Terkenal di Dunia Bisnis

10 Kesalahan Fatal yang Menghancurkan Bisnis Plan

10 Kesalahan Fatal yang Menghancurkan Bisnis Plan

Etika Memuji Rekan Kerja di Lingkungan Kerja

Etika Memuji Rekan Kerja di Lingkungan Kerja

Satu Pertanyaan yang Mengubah Hidup Lebih Baik

Satu Pertanyaan yang Mengubah Hidup Lebih Baik

3 Alasan Cerita Singkat Baik untuk Bisnis

3 Alasan Cerita Singkat Baik untuk Bisnis

Menjual Produk dan Jasa melalui Cerita Singkat

Menjual Produk dan Jasa melalui Cerita Singkat

4 Karakter Kepemimpinan yang Wajib Dimiliki

4 Karakter Kepemimpinan yang Wajib Dimiliki

Peranan E-Learning dalam Pengembangan Karier

Peranan E-Learning dalam Pengembangan Karier

3 Pikiran Negatif yang Menghambat Kebahagiaan dalam Karier

3 Pikiran Negatif yang Menghambat Kebahagiaan dalam Karier

Bagaimana Cara Mengembangkan E-Learning atau Pembelajaran Online?

Bagaimana Cara Mengembangkan E-Learning atau Pembelajaran Online?

4 Karakteristik Manusia yang akan Sukses di Dunia Bisnis dan Kesehatan

4 Karakteristik Manusia yang akan Sukses di Dunia Bisnis dan Kesehatan

6 Cara Menentukan Harga Jual Produk yang Tepat

6 Cara Menentukan Harga Jual Produk yang Tepat

5 Cara Menguji Strategi Bisnis yang Baru di Media Sosial

5 Cara Menguji Strategi Bisnis yang Baru di Media Sosial

10 Cara Mencintai Diri Sendiri untuk Karier Cemerlang

10 Cara Mencintai Diri Sendiri untuk Karier Cemerlang

5 Manfaat Menjaga Kebahagiaan Sejati Karyawan bagi Perusahaan

5 Manfaat Menjaga Kebahagiaan Sejati Karyawan bagi Perusahaan

Bisakah Memasarkan Bisnis Startup Sendirian?

Bisakah Memasarkan Bisnis Startup Sendirian?

11 Cara Memiliki Pola Pikir untuk Berani Memulai Bisnis

11 Cara Memiliki Pola Pikir untuk Berani Memulai Bisnis

7 Rahasia Menjadi Tangguh di Dunia Kerja

7 Rahasia Menjadi Tangguh di Dunia Kerja

10 Cara Membawa Rasa Bahagia di dalam Tim Kerja

10 Cara Membawa Rasa Bahagia di dalam Tim Kerja

4 Cara Menuju Pensiunan Dini di Umur 40 Tahun

4 Cara Menuju Pensiunan Dini di Umur 40 Tahun