Logo STUDILMU Career Advice
STUDILMU Career Advice - Feedback is a Gift

Feedback is a Gift


STUDILMU Users
by Studilmu Editor
Posted on Sep 03, 2018

Salah satu hal yang dibutuhkan untuk membantu seorang leader mawas diri dan berkembang adalah menerima feedback. Feedback dari siapa saja, termasuk rekan kerja (yang nota bene adalah pesaing dalam prestasi kerja) dan team member kita. Kita tidak mungkin mengukur tubuh sendiri saat hendak menjahit pakaian. Dengan kata lain, kita adalah penilai yang buruk bila itu mengenai diri kita sendiri. Dalam artikelnya, Joseph Folkman menyarankan bahwa untuk lebih sukses dalam karir kita harus menjadi ahli dalam meminta feedback pada orang lain dan menindaklanjutinya. Feedback is a gift. Feedback penting bagi pengembangan karena tiap orang memiliki blind spot. Mereka tidak dapat melihat karakteristik-karakteristik tertentu dalam dirinya. Walau banyak yang berasumsi bahwa atasan dan rekan kerja hanya melihat kekurangan saja, kenyataannya banyak yang juga dapat menunjukkan kekuatan kita. Feedback adalah perangkat paling edukatif untuk menolong kita memahami persepsi orang lain mengenai diri kita, dan menjadi acuan perbaikan yang harus dilakukan.
 
Tidak mudah untuk bisa menerima feedback dengan besar hati. Feedback begitu terhubung dengan kritik, terutama dalam perusahaan yang tidak akrab dengan feedback positif alias pujian. Bukan rahasia jika dalam lingkungan kerja, karyawan – apapun jabatannya – kerap berusaha keras tampil tanpa kelemahan. Kelemahan ibarat cacat produk yang dapat mengurangi nilainya di mata atasan dan perusahaan. Karena itu masih sedikit sekali perusahaan yang mengenalkan budaya feedback dalam timnya. Jajaran manajemen sendiri kerap menghindari feedback, karena itu berarti membuka peluang yang sama bagi karyawan untuk memberi mereka feedback (khususnya kritik). Coba tanyakan pada karyawan Anda (atau mungkin Anda sendiri), apakah mereka pernah mendapat pengalaman traumatis dalam mendapat feedback korektif, dalam lingkungan kerja maupun keseharian. Kebanyakan akan menjawab “Ya”. Pengalaman negatif ini yang membuat mereka menjadi gelisah dan anti panti terhadap feedback.
 
Neuroscientist telah meneliti apa yang terjadi saat orang mendapatkan feedback, yang umumnya negatif atau korektif. Reaksinya mirip dengan manusia gua saat bertemu harimau. Tiga reaksi paling umum adalah Melawan, Kabur, atau Terpaku. Reaksi paling umum dan manusiawi terhadap feedback (negatif atau korektif) adalah Melawan. Misalnya dengan mendebat, dan atau menyangkal. Sangat naluriah, karena insting alami manusia saat merasa terancam adalah mempertahankan atau menyelamatkan diri. Reaksi ke dua adalah Kabur, seperti menghindari pembicaraan lebih lanjut atau mengabaikan. Respon ini bisa jadi adalah bentuk pasif Melawan, karena tidak ingin terlibat perdebatan yang membuat situasi menjadi tidak enak dan canggung. Reaksi ke tiga, yaitu Terpaku, tidak melakukan apapun. Entah sebagai wujud keterkejutan, atau bentuk lain pengabaian. 
 
Bila demikian pula reaksi yang kita berikan, maka kita tidak akan mendapatkan nilai apapun dari feedback itu. Meskipun feedbacknya mungkin amat akurat dan berguna, reaksi negatif ini akan membuat setiap orang tidak bisa mempergunakan feedback untuk pertumbuhan dan perkembangan dirinya. Apalagi Anda sebagai atasan. Mindset “harga diri gue sebagai boss” akan membuat Anda stuck di taraf boss jika terus menerus alergi terhadap feedback korektif.
 
Entah sebuah feedback adalah kritik ataupun pujian, seperti ucapan Joseph Folkman, Feedback is a gift. Feedback itu adalah hadiah atau anugerah. Dan umumnya setiap orang senang bila diberi hadiah. Tapi untuk membuat feedback menjadi seperti hadiah yang diharapkan, menjadi efektif dan berharga, terletak pada pendekatan sang penyampai dan penerima. Banyak juga orang yang memiliki pengalaman di mana feedback dari orang lain membantunya mencapai peningkatan efektivitas dan mempengaruhi kesuksesannya. Feedback yang disampaikan dengan cara yang tepat tidak akan terasa mengancam, hingga yang mendengarnya tidak ketakutan dan kabur atau melawan. Agar feedback menjadi efektif, orang yang menyampaikan membutuhkan ketrampilan yang tepat. Dan orang yang menerima membutuhkan sikap yang pantas. 
 
Seperti big boss saya yang meledak di tengah monthly meeting, jika tidak ada orang yang memberinya feedback untuk mengoreksi sikap yang ia tunjukkan, dapat dipastikan bahwa ia tidak akan berubah. Begitu juga dengan persepsi karyawan dan team member terhadap dirinya. Ia perlu diberi tahu lewat feedback korektif. Bukan hanya tentang kebaikan dirinya, tetapi juga demi kebaikan seluruh tim. Jika dibiarkan, tim Anda layaknya tubuh yang kekurangan kalsium: rapuh dan keropos di dalam, tidak solid. Tidak ada perbaikan, maka tidak ada perubahan. 
 
Sebagai leader yang proaktif dan terbuka, mintalah feedback dari lingkungan Anda. Anda harus percaya diri dan terus meminta feedback dari atasan, rekan dan orang lain di sekitar Anda. Dengan meminta feedback, akan meningkatkan kemungkinan penerimaan feedback. Anda tentu ingat pengalaman saat menerima feedback mendadak dari boss dengan cara yang tidak mengenakkan. Umumnya reaksi kita adalah melawan, kabur, atau terpaku. Dengan lebih sering meminta feedback, kita melatih diri untuk menjadi siap mendengarkan.
 
Amat membantu pula bila kita sering menerima feedback, agar kita tahu kapan harus membenahi diri sebelum terlampau familiar dan menjadi kebiasaan. Keuntungan feedback secara berkala mirip dengan keuntungan upgrade GPS bila dibandingkan dengan peta biasa. GPS menunjukkan posisi Anda saat ini dengan akurat, dengan menggunakan empat satelit untuk menentukan lokasi. Seperti halnya feedback membutuhkan sumber yang beragam untuk bisa akurat. 
 
Cara orang lain melihat diri Anda jauh lebih baik daripada cara Anda melihat diri Anda sendiri. Orang lain telah banyak melewati waktu dengan berinteraksi, melihat, dan menilai diri Anda. Bersikap terbuka terhadap pengamatan orang lain dengan meminta feedback mereka akan memberi Anda senjata rahasia membangun efektivitas dan membuat Anda lebih sukses. Terkadang pengamatan mereka salah, tetapi seringkali mengandung kebijaksanaan dan insight. Buang jauh-jauh pikiran negatif bahwa mereka berkomentar karena ingin menjatuhkan atau mempermalukan Anda. Sebaliknya, kecintaan mereka pada Anda lah yang membuat mereka tidak membiarkan Anda memelihara hal negatif. Mereka bukan silent customer Anda. Mereka adalah keluarga besar yang menginginkan bertumbuh dalam kepositifan bersama. 
Featured Career Advices
5 Cara Meningkatkan Harga Diri

5 Cara Meningkatkan Harga Diri

Kebahagiaan adalah Kunci Kesuksesan

Kebahagiaan adalah Kunci Kesuksesan

Hubungan Pengaturan Waktu dan Produktivitas Kerja

Hubungan Pengaturan Waktu dan Produktivitas Kerja

5 Ciri-ciri Kepemimpinan yang Baik dan Menginspirasi

5 Ciri-ciri Kepemimpinan yang Baik dan Menginspirasi

5 Cara Menangani Kasus Nepotisme di Tempat Kerja

5 Cara Menangani Kasus Nepotisme di Tempat Kerja

10 Frasa Pasif-Agresif yang Dapat Menghancurkan Bisnis

10 Frasa Pasif-Agresif yang Dapat Menghancurkan Bisnis

3 Tips Memiliki Kepercayaan Diri dalam Setiap Percakapan

3 Tips Memiliki Kepercayaan Diri dalam Setiap Percakapan

12 Karakteristik Orang yang Memiliki Kesadaran Diri

12 Karakteristik Orang yang Memiliki Kesadaran Diri

4 Cara Mendapatkan Pengembangan Diri yang Baik

4 Cara Mendapatkan Pengembangan Diri yang Baik

7 Elemen Etos Kerja yang Sangat Penting

7 Elemen Etos Kerja yang Sangat Penting

7 Cara Meningkatkan Kesehatan di Lingkungan Kerja

7 Cara Meningkatkan Kesehatan di Lingkungan Kerja

4 Tanda Memiliki Hubungan Kerja dengan Klien yang Tidak Baik

4 Tanda Memiliki Hubungan Kerja dengan Klien yang Tidak Baik

4 Cara Meredakan Amarah

4 Cara Meredakan Amarah

5 Cara Mendorong Inovasi Terbaru di Perusahaan

5 Cara Mendorong Inovasi Terbaru di Perusahaan

8 Kunci Kebahagiaan dan Kesuksesan ala Richard Branson

8 Kunci Kebahagiaan dan Kesuksesan ala Richard Branson

6 Cara Menumbuhkan Kreativitas dan Inovasi

6 Cara Menumbuhkan Kreativitas dan Inovasi

8 Karakteristik Orang yang Menjadi Penghambat Kesuksesan

8 Karakteristik Orang yang Menjadi Penghambat Kesuksesan

5 Cara Mudah Memenangkan Hati Atasan

5 Cara Mudah Memenangkan Hati Atasan

7 Sifat Negatif Pemimpin yang Menjadi Penghambat Kesuksesan Tim

7 Sifat Negatif Pemimpin yang Menjadi Penghambat Kesuksesan Tim

3 Cara Mengatasi Emosi Negatif

3 Cara Mengatasi Emosi Negatif

Fungsi Moodle dalam Bidang Pendidikan

Fungsi Moodle dalam Bidang Pendidikan

8 Cara Generasi Milenial Menjadi Jutawan dalam 5 Tahun

8 Cara Generasi Milenial Menjadi Jutawan dalam 5 Tahun

10 Cara Orang Sukses Berhenti Merendahkan Harga Diri Mereka

10 Cara Orang Sukses Berhenti Merendahkan Harga Diri Mereka

7 Cara Meningkatkan Kebahagiaan Sejati dan Produktivitas Para Karyawan

7 Cara Meningkatkan Kebahagiaan Sejati dan Produktivitas Para Karyawan

10 Rasa Takut yang Harus Diatasi Ketika Memulai Bisnis

10 Rasa Takut yang Harus Diatasi Ketika Memulai Bisnis

Pengertian Moodle dan 9 Fungsi Moodle di dalam Bisnis

Pengertian Moodle dan 9 Fungsi Moodle di dalam Bisnis

10 Hal yang Tidak Boleh Diucapkan di Tempat Kerja

10 Hal yang Tidak Boleh Diucapkan di Tempat Kerja

6 Prinsip Dasar yang Dapat Menciptakan Inovasi dan Kreativitas

6 Prinsip Dasar yang Dapat Menciptakan Inovasi dan Kreativitas

6 Tips Membuat Rapat Tinjauan tentang Peningkatan Kinerja Karyawan

6 Tips Membuat Rapat Tinjauan tentang Peningkatan Kinerja Karyawan

5 Alasan Pentingnya Pelatihan untuk Menjadi Trainer Handal

5 Alasan Pentingnya Pelatihan untuk Menjadi Trainer Handal