Logo STUDILMU Career Advice
STUDILMU Career Advice - 6 Alasan Mengapa Orang Gagal Mengembangkan Diri

6 Alasan Mengapa Orang Gagal Mengembangkan Diri


STUDILMU Users
by Studilmu Editor

“Heran gue... Tiap kali ada project, pasti gini! Ada aja tu orang ulahnya. Ga berubah-berubah.”. Curhatan mantan rekan kerja via video call sore itu membuat saya menahan tawa. Bukan bermaksud tidak punya hati atau tak bersimpati, tapi ekspresi kesal kocak wajah chubby di layar gadget itu memang lebih tepat direspon dengan tawa ketimbang iba. Untuk mengalihkan kegelian, sambil memasang roman serius saya merespon singkat, “Iya gue tau. Sabar... orang sabar kuburannya pake AC.”. “Sabar mulu! Bisa kurus gue lama-lama. Untung gue laki. Kalo gue cewek, lagi hamil pula, bisa mirip anak gue ma dia!” rekan saya menyambar dengan kesal. Saya tertawa. “Kan dari dulu memang udah gitu orangnya? Ya udah, ditahanin aja. Next time dapat project, coba minta partner lain, jangan dia.”. 

Selesai sesi curhat ria, saya jadi mengenang rekan yang dibicarakan. Kami dulu bekerja di perusahaan yang sama. Ruang kerja di lantai yang sama, beda divisi. Ia Supervisor divisi Marketing Promotion, sedangkan saya berada di Customer Care Center. Hanya saja project-project terkait customer membuat kami harus sering berinteraksi intens, dan akhirnya saya mengakrabkan diri agar pengerjaan project kami lebih bagus chemistry nya. Saya mulai mengajaknya makan siang bersama, atau sekedar mengajaknya ngobrol sambil membagi snack saat senggang. Di awal kedekatan kami, banyak rekan yang terheran-heran. Pertanyaan seperti “Ngapain sih lu ngobrol ma dia?”, atau “Betah amat lu temenan ma tu orang?” sering saya terima. Pernah suatu kali saya mengajaknya bergabung di acara nongkrong akhir pekan, dan seluruh rekan yang sepakat ikut memprotes saya habis-habisan. Pada akhirnya hanya tersisa dua orang partisipan (termasuk saya), karena rekan lainnya enggan nongkrong bareng penyandang predikat ‘Jelek Adat’ (bertabiat buruk).
 
Mantan rekan saya itu terkenal kurang pandai bertutur kata. Kalimat-kalimatnya tajam dan kerap menyakiti. Terlebih saat ia emosi. Ia salah satu orang paling reaktif yang saya kenal. Ia bisa memaki team member nya di depan publik, atau berargumen keras (ini bahasa halus saya untuk bertengkar) di depan puluhan karyawan lain, tanpa pandang bulu. Seingat saya, tidak ada karyawan yang belum pernah “bersinggungan” dengannya, termasuk saya sendiri. Anggota timnya kerap mengeluh pada saya, sebelum akhirnya bongkar pasang. Tidak banyak yang cukup lama bertahan di bawah koordinasinya. Mungkin karena loading kerja mereka memang luar biasa padat dan melelahkan. Tetapi sungguh ia adalah sosok karyawan yang tangguh dan berpengalaman. 
 
Setelah sekian tahun berlalu, saya pikir banyak hal yang berubah membaik dalam dirinya. Apalagi saya tahu, perusahaan kami cukup concern dengan pengembangan karyawan, dan tidak pelit mengirimkan karyawannya untuk mengikuti pelatihan atau training. Pasti ia telah banyak mengikuti berbagai training pengembangan diri. Dan tentu juga mendapat banyak feedback perbaikan dari berbagai level, agar menjadi leader yang lebih baik. Testimoni sore itu menjadi bukti bahwa dugaan saya salah. Ia gagal move on dari dirinya yang lama, gagal menjadi pribadi baru yang lebih baik.
 
Saya selalu yakin bahwa setiap orang dapat berubah dan berkembang. Hanya saja kebanyakan tidak menganggapnya sebagai sebuah prioritas. Agaknya saya bukan satu-satunya yang menyadari keengganan para leader atas pengembangan diri sendiri. Dalam 360 assessment yang Joseph Folkman lakukan dengan lebih dari 50.000 leader, para leader diminta mengurutkan tingkat kepentingan dari 16 kompetensi. Pada tiap tingkatan, para leader ini menempatkan “Pengembangan diri sendiri” di urutan terakhir.  Padahal pengembangan diri sendiri adalah pintu gerbang menuju pengembangan setiap kompetensi, dan ini tidak boleh diabaikan. Ini yang tampaknya terjadi pada mantan rekan kerja saya tadi. Ia gagal mengembangkan diri, atau mungkin memang mengabaikan dan menghindarinya?
 
Pengembangan diri masih memiliki benang merah dengan mawas diri. Karena hanya dengan mawas diri kita akan mau melakukan pengembangan diri. Dengan menganalisa dan mengamati para leader yang berada di presentil ke-90 dan ke-10 pada efektifitas kompetensi ini, Joseph Folkman menemukan enam alasan mengapa orang gagal pada pengembangan diri sendiri.
 

1. Mereka tidak tahu caranya mendengarkan

Skill penting bagi mereka yang ingin mengembangkan kemampuan diri – terutama bagi leader – adalah dengan menjadi pendengar yang efektif. Ini sudah kita bahas di awal. Menjadi leader tidak berarti menjadi orang yang selalu hanya didengarkan, tetapi juga harus bisa mendengarkan. Orang-orang yang tidak mampu mendengarkan dengan baik akhirnya mengerjakan hal-hal yang mereka kira penting, tetapi bisa jadi bukanlah hal yang terpenting. Atau sama sekali tidak melakukan hal yang penting, karena mengabaikan apa yang orang lain sampaikan. Hanya autobiographically listening, yang berhenti di tahap evaluating dan tidak menyetujui. 
 

2. Mereka tidak terbuka pada gagasan orang lain

Beberapa orang biasa merespon negatif terhadap masukan apapun. Mereka mungkin menganggap bahwa ide-ide merekalah yang paling baik, atau mereka menganggap bahwa orang lain lancang dengan mengajukan ide. Hal yang sama mereka lakukan terhadap feedback korektif. Menyangkal dan atau mendebat mungkin ibarat auto mode yang menyala saat mendapat feedback korektif. Apapun penyebabnya, bereaksi negatif terhadap feedback membuat orang lain jadi enggan memberikan saran dan gagasan. Ini memperburuk proses pengembangan diri sendiri.

3. Mereka tidak jujur kepada diri sendiri

Ini salah satu penyebab seseorang tidak bisa menerima feedback korektif. Orang yang tidak biasa bicara terus terang mengenai isi pikiran mereka cenderung lebih rentan dalam menghadapi fakta tentang diri mereka sendiri. Tidak jujur kepada orang lain, akhirnya cenderung tidak jujur pula terhadap diri sendiri. Penyangkalan diri artinya menolak atau memelintir fakta mengenai dirinya yang dirasa sulit ia terima, seringkali karena fakta itu menyinggungnya. Fakta tersebut menuntut adanya perubahan dalam cara berpikir dan bertindak. Perubahan diri hanya dapat terjadi bila seseorang menerima fakta bahwa ia harus belajar keahlian dan pengetahuan yang baru, bahkan mungkin memperbarui sikap. 
 

4. Mereka tidak meluangkan waktu untuk mengembangkan orang lain

Pengembangan adalah hal yang menular. Ketika pemimpin mengembangkan orang lain, beberapa pengembangan tersebut akan menular padanya. Saat pemimpin terlibat dalam aktivitas pengembangan diri, sinyal kuat yang terpancar adalah bahwa ia percaya dan melakukan pengembangan terhadap orang lain juga. Tetapi ini hanya berlaku bagi atasan yang walk the talk, bukan hanya gencar membagi teori.
 

5. Mereka tidak mengambil inisiatif

Memperoleh pengetahuan baru, mempelajari keahlian baru, atau mengubah praktek memerlukan inisiatif. Inisiatif selalu berarti mengembangkan diri Anda melampaui yang diharapkan dari atau ditentukan oleh peran Anda. Ini berarti melihat masalah sebelum terjadi, dan maju untuk menyelesaikannya. Seringkali kita berasumsi bahwa talenta hebat ada karena keberuntungan atau kemampuan bawaan. Yang benar adalah talenta hebat adalah fungsi dari latihan dan pencarian kesempatan.
 
Banyak orang percaya bahwa pekerjaan kantor lebih penting daripada pengembangan diri mereka. Padahal beberapa hasil riset terkait pengembangan diri yang telah saya share di awal membuktikan bahwa saat leader mengembangkan keefektifan dirinya, perusahaan mendapat keuntungan besar. Pemimpin yang lebih baik membuat turnover menjadi rendah, engagement karyawan baik, kepuasan customer lebih tinggi, dan niat kerja, profit dan sales yang lebih tinggi.
 
Mungkin kita memang sangat sibuk. Harus berurusan dengan ratusan email, meeting dadakan, project yang tiba-tiba, target kerja yang meningkat, kompetisi yang makin sulit, masalah-masalah tak terduga, dan goal-goal baru dari atasan yang membuat jam kerja seolah terlalu cepat berakhir setiap harinya. Belum lagi urusan keluarga dan pribadi yang kerap tiba-tiba muncul. Semuanya itu hanya menyisakan waktu amat sedikit bagi pengembangan diri kita sendiri. Tapi percayalah, Anda akan menjadi lebih baik jika meluangkan sedikit waktu dan tenaga untuk pengembangan diri Anda sendiri. Anda harus bisa move on from the old YOU, dan menjadi sosok baru yang lebih baik. Mengembangkan diri Anda berarti mengembangkan perusahaan di mana Anda bekerja dan pada akhirnya akan membuat hidup Anda lebih baik.