Logo STUDILMU Career Advice
STUDILMU Career Advice - 5 Cara Mengatasi Konflik dengan Tegas

5 Cara Mengatasi Konflik dengan Tegas


STUDILMU Users
by Studilmu Editor
Posted on May 10, 2019

 
Halo rekan pembaca Career Advice, jika Anda adalah orang yang baik, mengatasi konflik bisa menjadi tantangan tersendiri. Cara kita mengatasi konflik dapat memajukan karier atau menghancurkan karier kita. Untuk kita memerlukan strategi yang tepat dalam mengatasi konflik. Jika kita bersikap agresif dalam situasi konflik, ini akan merusak kinerja kita. Kita marah kepada orang lain dan bahkan mengasingkan teman kita. Sementara, jika kita terlalu pasif dalam mengatasi konflik, ini akan menghambat kemampuan kita dalam mencapai tujuan.
 
Orang baik akan cenderung bersikap pasif dalam mengatasi konflik. Tetapi, jika kita tidak dapat mengendalikan kepasifan tersebut, kepasifan tersebut akan dapat berkembang menjadi sikap agresif. Kita harus belajar untuk bersikap tegas dalam mengatasi konflik. Bersikap tegas adalah cara yang sehat dalam mengatasi konflik. Konflik yang sehat tidak akan mengabaikan atau menyepelekan kebutuhan setiap pihak. Dan cara kita mengatasinya adalah hal yang sangat berpengaruh.
 
Bagaimana kita dapat mengatasi konflik dengan tegas, khususnya jika kita adalah orang baik yang selalu merasa tidak enak terhadap orang lain? Berikut adalah 5 cara mengatasi konflik dengan tegas. Dengan begitu, rekan pembaca akan mampu menyelesaikan setiap konflik yang dihadapi dengan baik tanpa harus merugikan diri sendiri atau pihak lain.
 
1. Katakan ‘dan’ bukan ‘tetapi’.
Tindakan sederhana yang dapat kita lakukan dalam mengatasi konflik dengan tegas adalah mengganti kata ‘tetapi’ dengan kata ‘dan’. Ini akan membuat konflik menjadi lebih konstruktif dan kolaboratif. Misalnya, katakanlah, rekan tim kita, Johan ingin menggunakan sebagian besar anggaran untuk memasarkan produk, tetapi kita khawatir hal itu tidak akan menyisakan cukup uang untuk mempekerjakan karyawan baru yang dibutuhkan. Daripada kita harus mengatakan, "Saya melihat bahwa Anda ingin menggunakan uang itu untuk pemasaran, tetapi saya pikir kita memerlukan uang tersebut untuk mempekerjakan karyawan baru," cobalah untuk mengatakan "Saya melihat bahwa Anda ingin menggunakan uang itu untuk pemasaran, dan saya pikir kita perlu merekrut seorang karyawan baru.” Perbedaannya halus, tetapi jika kita menggunakan kalimat pertama, kita mematikan nilai ide yang dimiliki Johan. Dalam kalimat kedua, kita mencoba untuk menyatakan masalah yang ada tanpa merendahkan idenya, dan kemudian membuka kesempatan untuk diskusi. Menggunakan kata "dan" membuat pihak lain merasa seperti sedang diajak kerjasama, bukan bukan sedang dilawan.
 
2. Gunakan hipotesis.
Ketika kita ingin menjadikan diri lebih tegas, jangan sampai kita melemahkan ide yang dimiliki pihak lain. Hipotesis adalah cara terbaik yang dapat kita gunakan. Jika kita mengatakan, “Ide produk yang Anda miliki tidak akan mungkin berhasil karena Anda terlalu mengabaikan tim penjualan”, pernyataan ini akan membuat kita terlihat sangat agresif. Jadi lebih baik kita mengatakan, “Menurut Anda, apa yang harus dilakukan oleh tim penjualan kita dalam memasarkan produk terbaru kita?’”
 
Ketika kita melihat ada kekurangan dalam suatu ide, memberikan hipotesis adalah cara untuk memberi kesempatan kepada pihak lain untuk menjelaskan bagaimana ide yang mereka miliki bisa berhasil. Ini juga menunjukkan bahwa kita bersedia mendengarkan lawan bicara kita. Jadi, daripada kita harus mengatakan bahwa ide yang mereka miliki salah, cobalah memberikan mereka kesempatan untuk membagikan ide yang mereka miliki.
 
3. Jangan menggunakan perkataan yang absolut.
Tidak ada seorangpun yang selalu melakukan sesuatu atau tidak pernah melakukan sesuatu. Tidak seorang pun melihat diri mereka dengan sudut pandang satu dimensi. Jadi, seharusnya kita tidak memandangnya seperti itu. Jangan gunakan perkataan yang absolut seperti, ‘Anda selalu’ atau ‘Anda tidak pernah’. Menggunakan frasa ini dalam mengatasi konflik membuat orang tersebut bersikap defensif dan menutup diri terhadap penjelasan kita.
 
Daripada kita harus menunjukkan bahwa hal yang dilakukan orang tersebut merupakan sebuah masalah, lebih baik berpegang pada kebenaran yang ada. Kita dapat mengganti perkataan tersebut dengan frasa yang lebih mengarah ada frekuensi perilaku yang dilakukan orang tersebut. Misalnya, “Saya perhatikan Anda sering melakukan ini.” Atau “Saya perhatikan, Anda cukup sering melakukan ini.”
 
4. Ajukan pertanyaan sampai mencapai inti masalahnya. 
Ketika menghadapi konflik, kita harus menemukan hal yang menjadi pemicu konflik tersebut. Cobalah untuk memahami posisi orang lain. Jadi, penting untuk kita mengajukan pertanyaan seperti: 
- Mengapa Anda melakukan hal tersebut?
- Apa maksud Anda melakukan hal tersebut?
- Bisakah Anda membantu saya lebih memahami hal ini?
 
Pertanyaan-pertanyaan ini dapat ditanyakan untuk membangun kepercayaan dan pemahaman bagi kedua belah pihak. Jadi, untuk mengatasi konflik, kita harus menanyakan pertanyaan yang tepat dalam menemukan inti permasalahan yang sebenarnya.
 
5. Berikan solusi.
Percayalah, tidak ada seorangpun yang suka jika ide yang mereka miliki ditolak mentah-mentah oleh orang lain. Jadi, ketika kita berusaha menantang orang lain untuk memberikan idenya, jangan lupa untuk memberikan solusi. Ini menunjukkan bahwa kita ingin bekerja sama dalam menghasilkan perbaikan. Ketika kita berusaha menawarkan solusi, kita tidak melemahkan ide mereka, kita memperkuat nilai ide yang mereka miliki.
 
Misalnya, katakanlah, “Masalah potensial yang akan timbul dari ide Anda tersebut adalah _. Namun, saya pikir masalah tersebut dapat diatasi jika kita mampu mempelajari cara untuk _.” Dengan begitu, kita tidak hanya memberikan solusi. Kita juga mengakui bahwa kita ingin bekerjasama dengannya untuk menemukan jalan keluar.
 
Menjadi ahli dalam mengatasi konflik membutuhkan kecerdasan emosi. Ketika kita memiliki kecerdasan emosi yang baik, kita kan tahu bagaimana mengatasi konflik dengan cara yang terstruktur dan tegas. Ingatlah, kita juga harus mempertimbangkan perasaan orang lain dan jangan membunuh ide yang mereka miliki.
 
Semoga dengan 5 cara ini, rekan pembaca dapat mengatasi konflik dengan tegas. Sehingga, Anda akan menemukan jalan keluar yang terbaik bagi kedua belah pihak tanpa mematikan ide siapapun dan menimbulkan kerugian bagi siapapun.
Featured Career Advices
5 Cara Menangani Kasus Nepotisme di Tempat Kerja

5 Cara Menangani Kasus Nepotisme di Tempat Kerja

10 Frasa Pasif-Agresif yang Dapat Menghancurkan Bisnis

10 Frasa Pasif-Agresif yang Dapat Menghancurkan Bisnis

3 Tips Memiliki Kepercayaan Diri dalam Setiap Percakapan

3 Tips Memiliki Kepercayaan Diri dalam Setiap Percakapan

12 Karakteristik Orang yang Memiliki Kesadaran Diri

12 Karakteristik Orang yang Memiliki Kesadaran Diri

4 Cara Mendapatkan Pengembangan Diri yang Baik

4 Cara Mendapatkan Pengembangan Diri yang Baik

7 Elemen Etos Kerja yang Sangat Penting

7 Elemen Etos Kerja yang Sangat Penting

7 Cara Meningkatkan Kesehatan di Lingkungan Kerja

7 Cara Meningkatkan Kesehatan di Lingkungan Kerja

4 Tanda Memiliki Hubungan Kerja dengan Klien yang Tidak Baik

4 Tanda Memiliki Hubungan Kerja dengan Klien yang Tidak Baik

4 Cara Meredakan Amarah

4 Cara Meredakan Amarah

5 Cara Mendorong Inovasi Terbaru di Perusahaan

5 Cara Mendorong Inovasi Terbaru di Perusahaan

8 Kunci Kebahagiaan dan Kesuksesan ala Richard Branson

8 Kunci Kebahagiaan dan Kesuksesan ala Richard Branson

6 Cara Menumbuhkan Kreativitas dan Inovasi

6 Cara Menumbuhkan Kreativitas dan Inovasi

8 Karakteristik Orang yang Menjadi Penghambat Kesuksesan

8 Karakteristik Orang yang Menjadi Penghambat Kesuksesan

5 Cara Mudah Memenangkan Hati Atasan

5 Cara Mudah Memenangkan Hati Atasan

7 Sifat Negatif Pemimpin yang Menjadi Penghambat Kesuksesan Tim

7 Sifat Negatif Pemimpin yang Menjadi Penghambat Kesuksesan Tim

3 Cara Mengatasi Emosi Negatif

3 Cara Mengatasi Emosi Negatif

Fungsi Moodle dalam Bidang Pendidikan

Fungsi Moodle dalam Bidang Pendidikan

8 Cara Generasi Milenial Menjadi Jutawan dalam 5 Tahun

8 Cara Generasi Milenial Menjadi Jutawan dalam 5 Tahun

10 Cara Orang Sukses Berhenti Merendahkan Harga Diri Mereka

10 Cara Orang Sukses Berhenti Merendahkan Harga Diri Mereka

7 Cara Meningkatkan Kebahagiaan Sejati dan Produktivitas Para Karyawan

7 Cara Meningkatkan Kebahagiaan Sejati dan Produktivitas Para Karyawan

10 Rasa Takut yang Harus Diatasi Ketika Memulai Bisnis

10 Rasa Takut yang Harus Diatasi Ketika Memulai Bisnis

Pengertian Moodle dan 9 Fungsi Moodle di dalam Bisnis

Pengertian Moodle dan 9 Fungsi Moodle di dalam Bisnis

10 Hal yang Tidak Boleh Diucapkan di Tempat Kerja

10 Hal yang Tidak Boleh Diucapkan di Tempat Kerja

6 Prinsip Dasar yang Dapat Menciptakan Inovasi dan Kreativitas

6 Prinsip Dasar yang Dapat Menciptakan Inovasi dan Kreativitas

6 Tips Membuat Rapat Tinjauan tentang Peningkatan Kinerja Karyawan

6 Tips Membuat Rapat Tinjauan tentang Peningkatan Kinerja Karyawan

5 Alasan Pentingnya Pelatihan untuk Menjadi Trainer Handal

5 Alasan Pentingnya Pelatihan untuk Menjadi Trainer Handal

5 Tips untuk Rapat Kerja yang Lebih Baik

5 Tips untuk Rapat Kerja yang Lebih Baik

Training for Trainer, 7 Cara Pelatihan Menjadi Trainer Handal

Training for Trainer, 7 Cara Pelatihan Menjadi Trainer Handal

Pertemanan adalah Hal yang Bermanfaat di Tempat Kerja

Pertemanan adalah Hal yang Bermanfaat di Tempat Kerja

6 Tips Bekerja dengan Rekan yang Tidak Memiliki Kesadaran Diri

6 Tips Bekerja dengan Rekan yang Tidak Memiliki Kesadaran Diri