Logo STUDILMU Career Advice
STUDILMU Career Advice - Motivasi Bekerja untuk Karyawan yang Hilang Passion

Motivasi Bekerja untuk Karyawan yang Hilang Passion


STUDILMU Users
by Studilmu Editor

 
Motivasi bekerja, saya yakin semua orang pasti memiliki motivasi bekerja yang berbeda-beda. Ada karyawan yang memiliki motivasi kerja yang sangat tinggi dan ada juga yang memiliki motivasi kerja yang biasa-biasa saja. Kalau ditanya dari sisi para pemimpin dan pemilik perusahaan, pastinya mereka lebih memilih karyawan yang memiliki motivasi bekerja yang tinggi, selalu datang kerja dengan tepat waktu, menghormati tim manajemen, memberikan kinerja terbaik setiap harinya. Dan, tentunya seperti yang kita ketahui bahwa karyawan seperti ini sulit untuk ditemukan. 
 
Jika kita lihat kembali, bagaimana kinerja karyawan kita di beberapa minggu pertama saat mereka baru memulai pekerjaan. Wah, hubungan karyawan dengan manajemen pasti sangat harmonis sekali, ya? Pada saat itu, kedua belah pihak merasa sangat optimis, bersemangat, dan bertekad untuk membuat segalanya berjalan dengan lancar. Para karyawan baru akan sangat bersemangat dan bersenang hati dalam menerima setiap proyek baru yang diberikan. Mereka juga akan aktif dalam meminta umpan balik dari atasannya. Dalam kata lain, segala yang diinginkan oleh setiap pemimpin, ada di dalam kinerja para karyawan baru ini. 
 
Seiring berjalannya waktu, ada beberapa hal yang mulai berubah. Karyawan yang dulu sering kerja lembur, sekarang memilih untuk pulang tenggo (jam lima teng langsung go!), Mereka yang dulu ‘haus’ akan proyek tambahan, sekarang memilih untuk mengerjakan proyek yang tidak terlalu sulit, mereka juga melakukan lebih banyak kesalahan dalam pekerjaan dan perubahan-perubahan lainnya yang terjadi setelah beberapa bulan mereka bekerja. 
 
Ini memang terjadi secara alami, motivasi dan semangat yang karyawan rasakan, bisa sirna begitu saja. Pertanyaan yang perlu kita pikirkan dalam hal ini adalah, “bisakah kita menyalakan kembali motivasi bekerja para karyawan yang sudah redup?” Atau, “perlukah kita sebagai pemimpin mulai mencari pengganti mereka?”
 
Jangan khawatir rekan-rekan Career Advice, karena pada artikel kali ini kita akan membahas lima inisiatif sederhana untuk mencoba mengembalikan gairah atau passion terhadap pekerjaan. Penasaran? Yuk, kita simak penjelasan berikut ini. 
 

1. Berbincang-bincang seperti saat Wawancara Pertama Kali

Sebelum karyawan masuk bergabung ke dalam perusahaan kita, pastinya mereka melalui tahapan wawancara terlebih dahulu. Saya yakin, sesi wawancara yang terjadi saat itu pasti sangat menyenangkan, bukan? Perekrut bertanya tentang pencapaian, tantangan, dan tujuan mereka mengapa ingin bergabung bersama perusahaan kita. Pada sesi yang bersamaan, mereka juga menceritakan bagaimana pengalaman belajar dan organisasi mereka selama di perguruan tinggi dan apa harapan mereka kepada para pemimpin perusahaan. Dari situlah hubungan profesional antara kita sebagai pemimpin atau perekrut dengan mereka sebagai kandidat terjalin. Dalam sesi wawancara tersebut, terlihat bahwa perekrut dan kandidat saling terlibat satu sama lain. 
 
Nah, ini dia akar permasalahannya! Penyebab utama mengapa staf semakin merasa kurang terlibat karena mereka berpikir bahwa pemimpin mereka sudah berhenti terlibat dengan mereka. Tidak ada lagi perbincangan seru dengan penuh rasa optimisme antara pemimpin dengan staf. Yang ada hanya perbincangan serius yang semakin membosankan. Bahkan, amarah yang selalu terucap saat pekerjaan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pemimpin. 
 

Apa yang harus kita lakukan?

Tentukan satu atau beberapa karyawan yang rekan pembaca rasa, mereka sangat memerlukan motivasi baru untuk bekerja. Ajak mereka ke luar kantor untuk makan siang atau sekedar minum kopi di kedai kopi terenak di sekitar kantor. Buatlah perbincangan santai dan tanyakan beberapa hal menarik yang mungkin belum pernah kita ketahui sebelumnya. 
 
Sebagai contoh, “Rudi, apakah kamu punya hobi lain selain main basket?”. “Tasya, menurut kamu rasa kopi hitam ini bagaimana?” Ajak mereka berbincang sebagaimana seperti teman akrab yang sedang ngobrol. Jauhkan urusan pekerjaan untuk sementara, dan buat mereka terlibat dalam diskusi ringan yang kita rencanakan. Ketika mereka merasa bahwa tim kepemimpinan mereka benar-benar peduli tentang mereka dan kesejahteraan mereka, maka mereka akan memberikan peranan lebih kepada perusahaan. 
 

2. Kurangi Interaksi Melalui Email 

Saran kami yang kedua adalah kurangi interaksi dengan karyawan melalui email. Terutama, hindari mengirim email kepada karyawan di sore hari. Mengapa begitu? Sore hari bukanlah waktu yang tepat untuk berbincang hal-hal yang berat. Akankah jauh lebih baik jika melakukan perbincangan di pagi atau di siang hari, karena di sore hari fokus karyawan sudah semakin berkurang dan terpecah belah. Selain itu, mengirim email secara terus menerus sama saja seperti mengisolasi karyawan, terlebih lagi jika ternyata manajer kita selalu ada di kantor. 
 

Apa yang harus kita lakukan?

Daripada sibuk menulis dan mengirim email, akankah lebih baik jika kita berdiskusi dengan karyawan secara langsung. Terlalu banyak email di kotak masuk hanya akan membuat kita merasa pusing kepala mengeceknya. Berdiskusi secara langsung juga dapat meminimalisir kesalahpahaman yang bisa terjadi antara karyawan dan manajer. 
 
Dengan mengajak karyawan berdiskusi langsung, ini akan membuat mereka merasa dihargai dan didengarkan dengan baik oleh atasan mereka. 
 

3. Ajak Karyawan Melihat Divisi Kerja yang Lain

Redupnya motivasi yang dimiliki karyawan, bisa jadi karena mereka terlalu sibuk membanding-bandingkan diri mereka dengan kolega mereka yang berasal dari divisi lain. Seringkali terdengar ucapan-ucapan seperti, “Ah, dia sih enak pekerjaannya tidak terlalu banyak seperti saya”, “Sepertinya divisi saya saja deh yang terlalu banyak pekerjaan, yang lain kok seperti oke-oke saja ya!” 
 
Memang sih, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau dibandingkan apa yang kita miliki sekarang. Ini adalah salah satu contoh nyata yang terjadi di perusahaan-perusahaan Indonesia. Saling membandingkan dan akhirnya motivasi karyawan semakin menurun.   
 

Apa yang harus kita lakukan?

Jika karyawan kita kehilangan passion atau merasa bosan dengan tanggung jawab mereka seperti ini, coba ajak karyawan tersebut untuk membayangi kolega mereka dari departemen lain. Ajak mereka mengenal pekerjaan apa saja yang dikerjakan oleh rekan-rekan kerja yang mereka cemburui. Apakah benar pekerjaan tersebut jauh lebih menarik dari tugas yang mereka miliki sekarang atau tidak, biarlah karyawan itu sendiri yang menilai setelah melakukan bayangan. Namun, apabila mereka memang tertarik dengan posisi kerja tersebut, mungkin kita bisa menawarkan posisi baru tersebut kepada mereka. Kedua opsi akan tetap menguntungkan, bukan? 
 

4. Jangan Lupa Mengapresiasi Karyawan

Pada poin pertama, kita sudah membahas bahwa kurangnya motivasi dari para karyawan bisa disebabkan karena kurangnya keterlibatan antara kita dengan mereka. Tidak hanya itu, kurangnya apresiasi yang diberikan kepada karyawan juga sangat berpengaruh atas rasa motivasi yang dimiliki oleh mereka. Coba kita balikkan skenarionya ya. Jika kita seorang karyawan teladan, namun tidak ada apresiasi apapun dari manajer, apa yang akan kita rasakan? Pastinya sedih dan tidak bersemangat. 
 
Bagaimana tidak, kita sudah berusaha untuk menjadi karyawan yang baik, namun tidak ada apresiasi apapun. Lalu, apa bedanya kita dengan karyawan lain yang kinerjanya tidak terlalu bagus? 
 

Apa yang harus kita lakukan?

Ketika kita menemukan karyawan dengan integritas yang tinggi, aktif dalam menyumbangkan ide-ide yang cemerlang selama rapat berlangsung, atau mungkin karyawan yang berhasil mencapai target penjualan mereka, cobalah untuk berterima kasih secara pribadi kepada mereka. Lebih baik lagi, berikan mereka suatu tanda apresiasi yang unik untuk membedakan mereka dengan karyawan lainnya. Ini juga akan membuat karyawan lain bersemangat untuk menjadi karyawan teladan seperti mereka. Benda unik tersebut mungkin bisa berupa piala atau pin prestasi. 
 

5. Bersikap Transparan kepada Karyawan

Transparansi adalah keterampilan yang hampir tidak digunakan oleh banyak para pemimpin. Nyatanya, masih banyak loh para pemimpin yang takut untuk bersikap transparan dengan karyawan mereka. Yap, memang bersikap transparan tidak semudah yang kita bayangkan, namun jika ini sangat diperlukan, maka kita harus melakukannya. 
 

Apa yang harus kita lakukan?

Apabila kita melihat karyawan yang benar-benar turun motivasi bekerjanya, ajaklah mereka bicara secara personal, dari hati ke hati dan tentunya dengan penuh kejujuran. Ungkapkan perubahan apa saja yang kita nilai dari mereka. Tetapi, jangan lupa sampaikan semua penilaian tersebut secara objektif, ya. Dengan menerapkan ini, karyawan diharapkan akan berterus terang tentang alasan yang mereka miliki atas motivasi yang kian menurun. Sehingga, kedua belah pihak dapat saling melakukan evaluasi tentang hal-hal apa saja yang perlu diperbaiki. 
 
Kelima cara di atas mungkin bisa membantu rekan-rekan Career Advice yang sedang kewalahan menghadapi karyawan yang semakin lama semakin loyo dalam bekerja. Yuk, terapkan cara-cara di atas dan jangan menyerah untuk terus memotivasi para karyawan hebat kita ya. Semangat terus ya, rekan-rekan Career Advice.