Logo STUDILMU Career Advice
STUDILMU Career Advice - Konflik Dalam Organisasi. Perlukah?

Konflik Dalam Organisasi. Perlukah?


STUDILMU Users
by Studilmu Editor
Posted on Feb 15, 2019

 
Tidak ada yang angkat bicara lagi untuk menyumbangkan pendapat, kecuali dua orang. Pada akhirnya, setiap orang diminta – mungkin tepatnya terpaksa – memilih satu diantara dua usul yang ada. Dan di akhir hari, satu ide diterima untuk dijalankan, dan orang-orang kembali ke pekerjaannya. Beberapa dengan pikiran yang masih menentang, beberapa dengan kepasrahan, beberapa dengan pengabaian, sisanya dengan optimisme dan hati tenang. Tapi tidak ada yang buka mulut lebih lanjut, hanya menjalankan dengan isi kepala masing-masing. Merasa akrab dengan peristiwa ini?
 
Di banyak organisasi, ada istilah dalam lingkungan karyawan yang dikenal dengan 4L; “Lu lagi, lu lagi”. Istilah yang diberikan saat melihat bahwa orang yang sama berulang-ulang tampil di berbagai issue, entah sebagai juru bicara, penginisiasi ide, atau penanggung jawab. Minoritas yang mendominasi mayoritas peristiwa, menguasai lebih dari separuh suara dalam diskusi, dan hampir memborong setiap spotlight di berbagai panggung kerja. Segelintir orang, yang merajai segerombolan. Muncul karena mayoritas enggan bicara, memang mereka minoritas yang senang tampil, ide-ide mereka lebih banyak berbobot, atau gabungan kesemuanya. Tapi tidak selalu berarti kaum 4L ini adalah anggota tim dengan pasokan ide terbaik, analisa terbaik, dan berbagai kualitas terbaik lainnya. Tidak jarang, mereka menjadi “satu-satunya” yang dipunya. Pernah merasakan pesan satu makanan karena pedagang makanan lainnya tidak ada yang buka dan sisanya dagang minuman? Kira-kira seperti itu.
 
Jika Anda ada di peran memimpin, menonton fenomena ini berulang dalam tim harusnya mengaktifkan alarm Anda. Anda harus menyadari bahwa ini berbahaya. Tim yang adem ayem bukan ibarat desa asri yang gemah ripah loh jinawi, alias tenang dan menghasilkan banyak prestasi. Tidak bisa seperti itu. Apalagi jika ketenangannya berasal dari minimnya keterlibatan anggota dalam diskusi. Ini adalah ketenangan sebelum badai. Ketenangan yang di dalamnya suhu yang “menghangat” dikumpulkan, sebelum pecah menjadi amukan badai.
 
Kebanyakan orang tidak mau berkonflik di dalam organisasi, dan tidak tahu bagaimana menyikapinya. Saya pun harus mengakui bahwa demikianlah saya belasan tahun yang lalu. Jujur, menyetujui biasanya lebih mudah daripada berkonfrontasi dengan seseorang, setidaknya dalam jangka pendek. Dan memang rasanya menyenangkan ketika seseorang manggut-manggut pada sesuatu yang kita katakan, atau mengamini dengan kalimat, "Saya setuju dengan pendapat Anda...". Dan pada mereka yang menyanggah, lebih mudah bagi kita untuk merasa diserang dan melabeli mereka sebagai “orang sulit”. Dengan demikian, kita pun berusaha tidak menjadi si orang sulitnya.
 
Ketidaksepakatan, ketidaksetujuan, adalah bagian yang tidak terhindarkan, normal, dan sehat dalam berhubungan dengan orang lain (terutama hubungan kerja). Tidak ada yang namanya lingkungan kerja atau organisasi yang bebas konflik. Anda boleh berangan-angan bekerja dalam negeri yang damai, tetapi sadarilah bahwa itu tidak baik untuk perusahaan Anda, pekerjaan Anda, juga Anda. Karena konflik dalam organisasi tidak selalu berarti hal yang negatif. Konflik yang tepat dan dikelola dengan tepat, justru akan membuahkan banyak hal positif.
 
Laporan CCP Global Human Capital memperkirakan biaya tahunan konflik di organisasi di AS sekitar $359 miliar terkait waktu dan produktivitas yang hilang. “Tetapi ketika didekati dengan cara yang positif, konflik dalam organisasi dapat memicu inovasi, kepercayaan dan keterlibatan (engagement)” kata Nate Regier, seorang mantan psikolog dan penulis Conflict Without Casualties. “Tidak semua konflik dalam organisasi akan menjadi baik, tentu saja, dan ada kalanya seorang pemimpin harus menjadi orang tua” kata Brit Poulson, psikolog, pakar pengembangan kepemimpinan, dan penulis "The Clarity Compass" (Vision Creation Inc., 2017). Ambil inisiatif dan langsung atasi masalah jika terlalu panas di antara tim Anda.
 
Dikutip dari businessnewsdaily.com, Stephen Hecht, co-author Nonflict: The Art of Everyday Peace making (Two Harbors Press, 2016), menyebut konflik dalam organisasi sebagai proses kreatif bersama, di mana pihak-pihak yang tidak setuju bersatu untuk menemukan solusi yang memenuhi kebutuhan semua orang. Ini melibatkan saling memahami kebutuhan masing-masing, kemudian membayangkan bersama skenario terbaik, dan menentukan bagaimana memenuhi visi itu. Dan karena itu, konflik dalam organisasi merupakan hal baik yang perlu dimiliki setiap tim.
 
 
"The better able team members are to engage, speak, listen, hear, interpret, and respond constructively, the more likely their teams are to leverage conflict rather than be leveled by it."
-Runde and Flanagan-
Featured Career Advices
3 Tips Memiliki Kepercayaan Diri dalam Setiap Percakapan

3 Tips Memiliki Kepercayaan Diri dalam Setiap Percakapan

12 Karakteristik Orang yang Memiliki Kesadaran Diri

12 Karakteristik Orang yang Memiliki Kesadaran Diri

4 Cara Mendapatkan Pengembangan Diri yang Baik

4 Cara Mendapatkan Pengembangan Diri yang Baik

7 Elemen Etos Kerja yang Sangat Penting

7 Elemen Etos Kerja yang Sangat Penting

7 Cara Meningkatkan Kesehatan di Lingkungan Kerja

7 Cara Meningkatkan Kesehatan di Lingkungan Kerja

4 Tanda Memiliki Hubungan Kerja dengan Klien yang Tidak Baik

4 Tanda Memiliki Hubungan Kerja dengan Klien yang Tidak Baik

4 Cara Meredakan Amarah

4 Cara Meredakan Amarah

5 Cara Mendorong Inovasi Terbaru di Perusahaan

5 Cara Mendorong Inovasi Terbaru di Perusahaan

8 Kunci Kebahagiaan dan Kesuksesan ala Richard Branson

8 Kunci Kebahagiaan dan Kesuksesan ala Richard Branson

6 Cara Menumbuhkan Kreativitas dan Inovasi

6 Cara Menumbuhkan Kreativitas dan Inovasi

8 Karakteristik Orang yang Menjadi Penghambat Kesuksesan

8 Karakteristik Orang yang Menjadi Penghambat Kesuksesan

5 Cara Mudah Memenangkan Hati Atasan

5 Cara Mudah Memenangkan Hati Atasan

7 Sifat Negatif Pemimpin yang Menjadi Penghambat Kesuksesan Tim

7 Sifat Negatif Pemimpin yang Menjadi Penghambat Kesuksesan Tim

3 Cara Mengatasi Emosi Negatif

3 Cara Mengatasi Emosi Negatif

Fungsi Moodle dalam Bidang Pendidikan

Fungsi Moodle dalam Bidang Pendidikan

8 Cara Generasi Milenial Menjadi Jutawan dalam 5 Tahun

8 Cara Generasi Milenial Menjadi Jutawan dalam 5 Tahun

10 Cara Orang Sukses Berhenti Merendahkan Harga Diri Mereka

10 Cara Orang Sukses Berhenti Merendahkan Harga Diri Mereka

7 Cara Meningkatkan Kebahagiaan Sejati dan Produktivitas Para Karyawan

7 Cara Meningkatkan Kebahagiaan Sejati dan Produktivitas Para Karyawan

10 Rasa Takut yang Harus Diatasi Ketika Memulai Bisnis

10 Rasa Takut yang Harus Diatasi Ketika Memulai Bisnis

Pengertian Moodle dan 9 Fungsi Moodle di dalam Bisnis

Pengertian Moodle dan 9 Fungsi Moodle di dalam Bisnis

10 Hal yang Tidak Boleh Diucapkan di Tempat Kerja

10 Hal yang Tidak Boleh Diucapkan di Tempat Kerja

6 Prinsip Dasar yang Dapat Menciptakan Inovasi dan Kreativitas

6 Prinsip Dasar yang Dapat Menciptakan Inovasi dan Kreativitas

6 Tips Membuat Rapat Tinjauan tentang Peningkatan Kinerja Karyawan

6 Tips Membuat Rapat Tinjauan tentang Peningkatan Kinerja Karyawan

5 Alasan Pentingnya Pelatihan untuk Menjadi Trainer Handal

5 Alasan Pentingnya Pelatihan untuk Menjadi Trainer Handal

5 Tips untuk Rapat Kerja yang Lebih Baik

5 Tips untuk Rapat Kerja yang Lebih Baik

Training for Trainer, 7 Cara Pelatihan Menjadi Trainer Handal

Training for Trainer, 7 Cara Pelatihan Menjadi Trainer Handal

Pertemanan adalah Hal yang Bermanfaat di Tempat Kerja

Pertemanan adalah Hal yang Bermanfaat di Tempat Kerja

6 Tips Bekerja dengan Rekan yang Tidak Memiliki Kesadaran Diri

6 Tips Bekerja dengan Rekan yang Tidak Memiliki Kesadaran Diri

9 Cara Mendapatkan Kebahagiaan

9 Cara Mendapatkan Kebahagiaan

Apa yang dimaksud inovatif dalam Bisnis? 5 Cara Ini Dapat Membantu.

Apa yang dimaksud inovatif dalam Bisnis? 5 Cara Ini Dapat Membantu.