Logo STUDILMU Career Advice
STUDILMU Career Advice - 10 Resolusi Konflik di Tempat Kerja

10 Resolusi Konflik di Tempat Kerja


STUDILMU Users
by Studilmu Editor

 
Konflik adalah hal yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan kita. Tidak semua konflik adalah buruk, mungkin rekan-rekan Career Advice sudah membaca artikel kami sebelumnya bahwa ada yang dinamakan konflik dan stres kerja yang sehat. Akan tetapi, bagaimana cara agar kita bisa mempunyai resolusi konflik yang efektif di tempat kerja? Terlebih lagi, bagi para pemimpin, bos atau manajer, kemampuan pada resolusi konflik adalah salah satu hal utama yang perlu dimiliki oleh setiap pemimpin.
 
Rekan pembaca tidak perlu khawatir, berikut ini adalah 10 resolusi konflik di tempat kerja. 

1. Identifikasi Hasil untuk Resolusi

Langkah pertama yang perlu kita lakukan dalam resolusi konflik adalah menentukan hasil yang ingin kita capai dari resolusi konflik tersebut. Resolusi konflik di tempat kerja ini agak sedikit unik, tidak seperti resolusi pada permasalahan di hubungan lainnya. 
 
Pada setiap resolusi konflik, bukan berarti ini selalu berakhir dengan pelukan, jabatan tangan atau bahkan selfie bersama-sama untuk diposting di media sosial. Apabila kita sudah tahu dan yakin terkait hasil apa yang diinginkan dari resolusi konflik tersebut, maka kita bisa memilih pendekatan yang tepat dalam hal ini. Dan, pendekatan yang kita pilih untuk menyelesaikan konflik yang ada, akan memiliki hasil yang berbeda-beda. Semuanya tergantung pada hasil yang ingin kita capai atau tipe kepribadian kita. 
 
Berikut ini adalah jenis-jenis pendekatan untuk resolusi konflik:
- Kolaboratif: Pendekatan kolaboratif ini adalah pendekatan yang sangat baik. Mengapa? Karena kedua belah pihak tidak mencoba untuk saling menjatuhkan. Melainkan, mereka akan saling berusaha untuk mencari jalan keluar dari konflik yang ada.  
 
- Penghindaran: Pendekatan ini memang sangat tidak dianjurkan, namun apabila hasil yang akan didapat dari resolusi konflik benar-benar bernilai sangat rendah atau dengan melakukan pendekatan penghindaran ini, hubungan kedua belah pihak tidak akan semakin memburuk (akan tetap biasa saja), maka pendekatan ini bisa diterapkan untuk resolusi konflik.
 
- Akomodasi: Ini merupakan pendekatan yang sangat tulus. Dalam pendekatan ini, salah satu pihak lebih mementingkan kebutuhan pihak lain, dan menganggap kebutuhan pihak lain jauh lebih penting dari yang mereka butuhkan. Sehingga, pihak ini membiarkan pihak lawannya untuk “menang” dan memilih solusi damai. Dalam kata lain, salah satu pihak berupaya untuk menyenangkan pihak lain. 
 
- Kompromi: Pada pendekatan kompromi ini, menandakan bahwa masing-masing pihak sepakat untuk membuat keputusan bersama dan bersedia bekerja sama untuk menghasilkan hasil yang sama-sama menyenangkan bagi kedua belah pihak.
 
Dengan pendekatan ini, tidak akan ada yang kalah karena masing-masing individu, organisasi atau perusahaan saling berusaha untuk menjaga keseimbangan. 
 
Intinya, hasil resolusi konflik yang akan kita dapatkan tergantung pada tingkat konflik, jenis konflik, dan hasil yang kita inginkan.
 

2. Tetapkan Beberapa Aturan

“Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun sebuah hubungan, namun hanya diperlukan waktu sedikit untuk menghancurkan hubungan” Ini adalah pepatah lama yang mungkin sampai sekarang masih sering kita dengar. Pepatah ini mungkin ada benarnya. Itulah mengapa kita perlu menetapkan beberapa peraturan penting agar bisa mendapatkan resolusi konflik yang terbaik. 
 
Jadi, ketika kita ingin menyelesaikan sebuah konflik di antara rekan kerja, seperangkat aturan yang telah menjadi standar dan dipatuhi oleh semua anggota, akan menjadi pendukung kita dalam memecahkan masalah. Selain itu, dengan adanya aturan, maka tempat kerja akan terasa lebih aman, tentram dan ini sangat bertentangan dengan konflik. 

3. Asah Keterampilan Komunikasi dan Jadilah Pendengar yang Baik

Resolusi konflik ini juga sangat tergantung dengan bagaimana kita mau mendengarkan dengan baik, apa yang orang lain sampaikan. Pahami dengan seksama apa yang mereka sampaikan. Meskipun kita sedang memiliki atau menghadapi konflik, kita perlu memahami apa yang pihak lain katakan. Mendengarkan bukan hanya untuk merespons, namun mengerti dengan tulus. 
 
Kita juga perlu memahami bahwa agama, etnis, suku dan latar belakang setiap orang pastinya berbeda-beda. Sehingga, apa yang kita anggap sebagai sesuatu yang sopan, belum tentu orang lain juga memandang hal tersebut sebagai suatu kesopanan, begitu juga sebaliknya. Maka dari itu, penting bagi kita untuk selalu mengasah keterampilan komunikasi dan berusaha menjadi pendengar yang baik bagi orang lain. 
 

4. Hindari Serangan Pribadi

Menyerang orang lain secara pribadi adalah hal yang sangat tidak kami anjurkan, ini tidak bisa menjadi resolusi konflik yang baik. Terlebih lagi, bagi konflik yang terjadi di tempat kerja, serangan pribadi sangat tidak pantas dilakukan oleh seseorang yang profesional. Ada banyak cara lain untuk menyelesaikan masalah yang lebih bijak dan baik, tanpa harus saling menyerang dan mencemooh.

5. Hindari Sikap Saling Menyalahkan

Sebenarnya poin ini hampir sama dengan poin sebelumnya. Sikap saling menyalahkan lama-kelamaan akan terbawa menjadi sikap saling menyerang satu sama lain. Ini adalah sikap yang paling cepat dalam menghancurkan suatu hubungan. Saat terjadi suatu konflik, ini menandakan bahwa ada kesalahan dari dua belah pihak.
 
Ada dua jenis cerita yang teridentifikasi dalam setiap konflik yaitu, kisah yang kita ceritakan kepada diri sendiri untuk membenarkan apa yang terjadi, dan kisah yang kita ceritakan kepada diri sendiri tentang orang lain. Nah, kedua jenis cerita ini hanya akan menempatkan kita pada posisi yang tidak bersalah, yang salah adalah orang lain. Namun percayalah rekan-rekan Career Advice, resolusi konflik semacam ini bukanlah pilihan yang baik. 

6. Mengadakan Pertemuan Tatap Muka

Meskipun era digital telah menawarkan berbagai platform untuk dapat berkomunikasi secara jarak jauh, namun penyelesaian konflik yang terbaik adalah melalui pertemuan secara langsung. Mengapa? Karena kita akan merasa kesulitan untuk menyampaikan emosi di dalam email atau platform media sosial lainnya. Pertemuan secara tidak langsung hanya akan menghilangkan nilai-nilai dari komunikasi non-verbal. Padahal, komunikasi non-verbal ini merupakan alternatif lain agar seseorang dapat mengekspresikan diri dengan baik. Perkataan “saya minta maaf” secara langsung akan lebih baik dan tulus, dibandingkan dengan pernyataan “saya minta maaf” yang dikirim melalui email. 

7. Mencari Kesamaan antara Kedua Belah Pihak

Seringkali konflik terjadi karena adanya perbedaan yang sangat signifikan dari kepentingan yang dimiliki oleh kedua belah pihak. Sehingga, sulit bagi mereka untuk mencari jalan tengah yang menguntungkan masing-masing pihak. Sehingga ketika konflik datang, kita perlu mencari kesamaan yang mungkin bisa berbentuk dalam ide, minat atau kepercayaan yang disukai oleh kedua pihak. 
 
Mungkin resolusi konflik yang satu ini terdengar mudah dan sederhana, namun sebenarnya ini sangat sulit untuk diterapkan loh. Meskipun begitu, bukan berarti kita tidak bisa mencari kesamaan antara kedua pihak yang bermasalah, bukan? Cobalah untuk mencarinya dan negosiasikan solusi-solusi yang dapat saling menguntungkan. 
 

8. Selesaikan Konflik Berdasarkan Fakta, bukan Opini

Fakta adalah data-data valid yang bisa menjadi patokan kita dalam menyelesaikan masalah. Namun, seringkali fakta terkalahkan oleh opini. Orang-orang yang terlibat dengan konflik akan sangat mudah terpancing emosi. Misalnya, “Rina terjatuh karena tersandung oleh kakinya Ratna” ini adalah fakta, dan ini akan menjadi sebuah masalah jika diubah menjadi sebuah opini. Maka, ini akan berubah menjadi “Rina terjatuh karena Ratna sengaja ingin mendorongnya”. Tentu saja kedua pernyataan tersebut memiliki arti yang sangat berbeda, bukan? 

9. Identifikasi Hambatan yang Mencegah Perdamaian

Cobalah untuk mengidentifikasi akar permasalahan dari konflik yang terjadi. Mengapa tidak ada perdamaian setelah berbagai usaha telah dilakukan? Identifikasi ini akan lebih baik jika dilakukan bersama-sama dengan kedua belah pihak yang terlibat konflik. 
 

10. Sewa Mediator Eksternal

Apabila konflik yang terjadi benar-benar tidak dapat terselesaikan secara internal, maka kami menyarankan agar konflik tersebut dibantu oleh mediator eksternal, yang mana dia akan memiliki pandangan yang netral dan tidak berpihak kepada siapapun. 
 
Nah, itu dia 10 resolusi konflik di tempat kerja yang bisa kita terapkan untuk menyelesaikan segala perpecahan yang terjadi, terutama di dalam lingkungan kerja. Jadi, apakah rekan-rekan Career Advice sudah siap untuk memecahkan sebuah permasalahan? Jika ya, yuk terapkan cara-cara hebat di atas. Selamat mencoba ya, rekan-rekan Career Advice.