STUDILMU Career Advice - Tugas Pemimpin

Tugas Pemimpin


by Studilmu Editor
Posted on Feb 12, 2019

 
Tidak mengherankan jika kita mendengar para ibu berkumpul dan membanggakan prestasi anaknya. Dalam gaya dan konteks yang mungkin berbeda, para ayah pun mengapresiasi pencapaian anaknya di hadapan orang lain. Hal ini sangat umum. Tidak bisa dipungkiri, keberhasilan anak adalah kebanggaan terbesar orangtua. Kesuksesan mereka seolah menjadi refleksi kesuksesan orangtua menjalankan tugasnya sebagai pemimpin dan pembimbing. Hal yang serupa, terjadi juga di lingkungan kerja – pada mereka yang menjalankan tugasnya sebagai pemimpin di tahap tertingginya.
 
Jika Anda bertanya pada para orangtua, apa hal yang rela mereka korbankan demi keberhasilan anaknya, jawaban seragam akan Anda terima: segalanya – atau setidaknya setara itu. Berapa banyak kita mendengar para ibu memutuskan berhenti mengejar karier demi fokus membesarkan anaknya. Orang tua yang melepaskan peluang memiliki rumah baru atau materiil baru – simbol pencapaian personalnya, demi menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Mengabaikan perawatan penampilan demi budget tambahan untuk memanjakan buah hatinya, dan segudang kisah pengorbanan lainnya. Saat menjadi orang tua, pencapaian bagi mereka bukan lagi tentang dirinya.
 
Di pekerjaan, mungkin kita pernah – mungkin juga sering, mendengar tentang atasan yang sibuk mengejar prestasi pribadi dan menonjolkan diri dengan mengorbankan anggota timnya sebagai bahan bakar penggerak motornya. Anggota timnya berpeluh demi menyumbangkan hasil kerja terbaik bagi pencapaian tim, sementara ia mendapat kredit atas segala prestasi tim (tentu saja, kan dia atasannya?). Dalam tahap lebih ekstrim, ada yang bagai berkompetisi dengan anak buahnya sendiri. Menuding anak buahnya sebagai si pembuat kesalahan saat kekacauan terjadi, mengakui hasil kerja dan buah pemikiran anak buahnya sebagai miliknya, hingga berusaha menutupi keunggulan yang ditunjukkan anak buahnya – yang dirasa bisa mengancam posisinya jika banyak pihak lain yang tahu. Atasan yang saya sebut sebagai Si Palu, yang kerjanya memukul paku yang menonjol.
 
Saya pernah berada di bawah kepemimpinan seorang atasan Palu. Bekerja demi pencapaian tim, namun dikhianati lewat berbagai pengakuan atas prestasi dan ide. Menjadi si kambing hitam penanggung salah saat ada masalah, hingga mandek tak berkembang baik pengetahuan maupun ketrampilan. Saat itu, yang saya lakukan hanyalah pasrah menerima dan berjanji dalam hati bahwa kelak saya tak akan menjadi pemimpin seperti dirinya. Walau saat itu saya tidak mengetahui, apa hal yang seharusnya bisa saya sarankan untuk ia lakukan. Saya hanya berjanji tidak akan melakukan hal serupa.
 
Pencerahan datang bertahun-tahun kemudian, saat saya duduk di kelas kepemimpinan dengan pembicara seorang senior leader dari satu korporat gurita Indonesia. Saat itu beliau mengingatkan kami, bahwa tugas seorang pemimpin berdiri di atas pundak anak buahnya. Jika anak buah tiarap, tentu rendah pula atasan berdiri. Namun jika anak buah berdiri tegak, maka semakin tinggi pula ia berdiri di atas bahu mereka. Dengan kata lain, seharusnya seorang pemimpin membantu mereka yang ada di bawahnya untuk semakin tampil dan berdiri tegak. Karena itu menjadi bukti kesuksesan tugasnya sebagai pemimpin, yang mampu mengembangkan orang-orang di dalam lingkarannya dan menunaskan kader pemimpin baru. Seperti halnya orangtua yang menyudahkan gilirannya, lalu mendorong anaknya untuk tampil menggantikan.
 
Saat seorang pemimpin berbesar hati mengakui perkembangan anak buahnya, tidak hanya ia menunjukkan kualitas ksatria, namun juga kenyataan bahwa ia telah siap untuk menapak ke jenjang selanjutnya. Meyakinkan pimpinan yang lebih tinggi bahwa ia siap mewariskan tampuk kepemimpinan pada penerusnya – yang tak lain adalah hasil didiknya. Ini adalah tugas kepemimpinan yang lebih tinggi. Di mana keberhasilannya berarti pertumbuhan orang-orangnya, dan tropinya adalah anak didiknya. Ini, adalah tugas kepemimpinan yang hingga saat ini masih terus saya coba lakukan. Karena nyatanya, menekan ego diri untuk merasa “cukup” tidak semudah menganggukan kepala tanda setuju, saat mendapat pencerahan yang menggugah dari sang pembicara.
 
Tertarik untuk mencoba bersama-sama?
 
“Before you are a leader, success is all about growing yourself. When you become a leader, success is all about growing others.” –Jack Welch-

Tinggalkan Komentar Anda

Featured Career Advices

20 Cara Baru untuk Memberi Hadiah kepada Karyawan

Rapat Kerja yang Efektif

Aplikasi Sosial Media dan Pengaruhnya

Memberikan Umpan Balik Konstruktif

Sikap Positif Menunjang Kesuksesan Anda

5 Cara Meningkatkan Daya Ingat Otak

2 Hal Penting Sebelum Mengundurkan Diri

Memahami Pola Pikir

Hindari 4 Strategi Pemasaran Digital yang Rumit Ini

Perbedaan Motto Hidup dan Kutipan Hidup

5 Kebahagiaan Meraih Keseimbangan Hidup

7 Halangan Diri Untuk Meraih Keseimbangan Hidup

4 Strategi Meraih Keseimbangan Hidup Bagi Pengusaha

Tetap Semangat Mencapai Impian

5 Hal Yang Perlu Diketahui Saat Menghadiri Wawancara Kerja

Menjadi Selangkah Lebih Maju

Pemimpin, Hentikan Perilaku Ini

Tips Sederhana Mempersiapkan Diri sebelum Wawancara Kerja

Cara Menghilangkan Stres Secara Sehat dan Tidak Sehat

7 Alasan Kuat Dalam Meraih Mimpi

Budaya Kerja dan 3 Cara Mendemonstrasikannya

Pengertian Afirmasi dan 10 Afirmasi Positif

5 Cara Tampil Menarik Dalam Wawancara Kerja

3 Cara Menghilangkan Kebiasaan Buruk

7 Pertanyaan Interview Kerja

5 Cara Menghargai Diri Sendiri

Sikap Negatif dan Cara Mengubahnya

7 Kunci Kesuksesan dan Kepuasan Kerja

10 Kemampuan Soft Skill Dalam Dunia Kerja

10 Cara Membangun Hubungan Kerja Yang Positif