STUDILMU Career Advice - Kegagalan di Puncak Sukses

Kegagalan di Puncak Sukses


by Berny Gomulya
Posted on Aug 03, 2018

Tiga raksasa otomotif Amerika Serikat - General Motos Corp (GM), Chrysler LLC, dan Ford Motor Co - yang dikenal dengan ”The Big Three” meminta dana talangan kepada kongres Amerika sebesar 34 Milliar Dollar AS guna menyelamatkan industri otomotif yang membawa citra Amerika Serikat dari kebangkrutan sekaligus juga menghindari gelombang pemutusan hubungan kerja. Tetapi sampai tulisan ini dibuat, dana talangan tersebut belum disetujui oleh senat Amerika Serikat.
 
Itulah sepenggal berita yang dimuat berbagai media internasional dan lokal di awal tahun 2009. Saya terkejut ketika pertama kali membaca berita itu. Bagaimana mungkin tiga perusahaan-perusahaan otomotif terbesar, berumur ratusan tahun, hadir di lebih dari 30 negara, memiliki sekitar 160 pabrik di seluruh dunia dan produk-produknya merajai jalan-jalan hampir di seluruh dunia, bisa nyaris bangkrut. Bukankah dulunya mereka perusahaan-perusahaan sangat sukses? Mengapa sekarang mereka bisa nyaris bangkrut?
 
Memikirkan nasib ”The Big Three”, saya langsung teringat sebuah kalimat seorang rekan, CEO dari sebuah perusahaan besar di Australia. Dia berkata, ”Nothing fails like success (tidak ada kegagalan seperti kesuksesan).” Kalimat yang luar biasa, bukan?
 
Suatu kali Bill Gates berkata, ”Adalah baik jika pemimpin merayakan kesuksesan, tetapi yang lebih penting adalah memerhatikan pelajaran-pelajaran penting dari setiap kegagalan.”Sesungguhnya, Anda, saya, pemimpin, dan semua organisasi, menjadi lebih rentan ketika telah mencapai kesuksesan. Karena seringkali kesuksesan membawa perusahaan pada sebuah tempat dimana tidak lagi efisien, sombong, dan arogan. Ketika orang dan bisnis mencapai kesuksesan, seringkali mereka menjadi lebih mencintai diri mereka sendiri. Mereka tidak lagi menghargai pelanggan seperti sebelum mereka sukses. Mereka berhenti berinovasi, tidak lagi bekerja keras, dan takut mengambil risiko. Mereka begitu sibuk dengan diri sendiri untuk mempertahankan kesuksesan yang telah mereka raih, dan tidak lagi fokus untuk memperbaiki diri. Mereka begitu terbuai dengan kesuksesan. Itulah yang dialami oleh ”The Big Three.”
 
 
”Adalah baik jika pemimpin merayakan kesuksesan, tetapi yang lebih penting adalah memerhatikan pelajaran-pelajaran penting dari setiap kegagalan.”
~Bill Gates~
 
 
Lihat saja bagaimana para pemimpin ”The Big Three” di tengah krisis keuangan perusahaan masih bisa terbang dengan jet pribadi dari Detroit ke Washington untuk ”mengemis” dana talangan ke kongres Amerika. Menurut data, pada tahun 2007, biaya seorang pekerja di pabrik GM di Amerika adalah 73 dollar AS per jam, sedangkan Toyota hanya mengeluarkan biaya 48 dollar AS per orang setiap jam. Tahun lalu Toyota dapat membuat sebuah mobil atau truk dengan biaya operator 4.000 dollar AS lebih sedikit dari GM. Toyota memiliki tingkat produktivitas yang lebih baik dari pada GM. Kesuksesan membuat perusahaan terlena.
 
Di dalam keluarga pun hal ini perlu diwaspadai. Tidak sedikit keluarga yang hancur pada saat suami atau istri berada di puncak karir. Saking sibuknya, mereka tidak lagi saling memerhatikan. Anak-anak mereka terjerumus ke dalam pergaulan yang salah.
 
Contoh lain. Beberapa waktu lalu, saya pergi ke sebuah restoran seafood di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Saya kaget, karena restoran tersebut sepi. Padahal, kira-kira setahun lalu restoran itu sangat ramai dikunjungi orang. Antrian panjang sekali. Tetapi, karena pada saat itu mereka merasa telah sukses, mereka tidak lagi memerhatikan pelanggan mereka. Pelayanan semakin lambat dan kualitas makanannyapun menurun.
 
Menarik pelajaran dari ”The Big Three” dan restoran seafood itu, maka seharusnya, semakin sukses, pemimpin harus semakin rendah hati, semakin berkomitmen untuk terus lebih efisien, konsisten melakukan perbaikan-perbaikan, terus meningkatkan pelayanan, lebih bekerja keras, semakin mencintai pelanggan, dan terus menerus memberikan nilai tambah. Albert Einstein pernah berucap, ”Cobalah untuk tidak hanya menjadi pemimpin sukses, tetapi menjadi pemimpin yang memberikan nilai tambah dalam hidup ini.” Kata-kata luar biasa!
 
Syukuri kesuksesan kepemimpinan Anda, tetapi jangan terbuai olehnya. Karena, jika para pemimpin berhenti melakukan hal-hal yang telah membawa mereka pada puncak gunung kesuksesan, maka pada saat itu juga mereka sedang tergelincir dalam lembah kegagalan. Jadi, tetaplah waspada pada saat Anda di puncak kesuksesan, karena seringkali kegagalan dimulai dari kesuksesan Anda.

Tinggalkan Komentar Anda

Featured Career Advices

20 Cara Baru untuk Memberi Hadiah kepada Karyawan

Rapat Kerja yang Efektif

Aplikasi Sosial Media dan Pengaruhnya

Memberikan Umpan Balik Konstruktif

Sikap Positif Menunjang Kesuksesan Anda

5 Cara Meningkatkan Daya Ingat Otak

2 Hal Penting Sebelum Mengundurkan Diri

Memahami Pola Pikir

Hindari 4 Strategi Pemasaran Digital yang Rumit Ini

Perbedaan Motto Hidup dan Kutipan Hidup

5 Kebahagiaan Meraih Keseimbangan Hidup

7 Halangan Diri Untuk Meraih Keseimbangan Hidup

4 Strategi Meraih Keseimbangan Hidup Bagi Pengusaha

Tetap Semangat Mencapai Impian

5 Hal Yang Perlu Diketahui Saat Menghadiri Wawancara Kerja

Menjadi Selangkah Lebih Maju

Pemimpin, Hentikan Perilaku Ini

Tips Sederhana Mempersiapkan Diri sebelum Wawancara Kerja

Cara Menghilangkan Stres Secara Sehat dan Tidak Sehat

7 Alasan Kuat Dalam Meraih Mimpi

Budaya Kerja dan 3 Cara Mendemonstrasikannya

Pengertian Afirmasi dan 10 Afirmasi Positif

5 Cara Tampil Menarik Dalam Wawancara Kerja

3 Cara Menghilangkan Kebiasaan Buruk

7 Pertanyaan Interview Kerja

5 Cara Menghargai Diri Sendiri

Sikap Negatif dan Cara Mengubahnya

7 Kunci Kesuksesan dan Kepuasan Kerja

10 Kemampuan Soft Skill Dalam Dunia Kerja

10 Cara Membangun Hubungan Kerja Yang Positif