STUDILMU Career Advice - Digitalisasi dan Penghematan Anggaran

Digitalisasi dan Penghematan Anggaran


by Paulus Bambang Widjanarko Santoso
Posted on Feb 23, 2018

Headline Bisnis Indonesia membuat banyak pihak terpana. Bayangkan judulnya ditulis dengan warna biru pada hemat dan alinea pertama tertulis “Pemerintah mempertimbangkan untuk memangkas belanja senilai Rp 200 triliun – Rp 290 triliun guna mengantisipasi melesetnya penerimaan akibat penurunan harga minyak”.

HEMAT dan MEMANGKAS sebetulnya sangat berbeda. Hemat itu tetap belanja dengan kualitas yang sama tapi memotong bungkus yang tidak substansial. Misalnya biasa beli baju Branded sekarang buat sendiri. MEMANGKAS artinya memotong, memutus dan membuat pembelian itu jadi kecil atau malahan nihil.

Pemerintah berargumen, kalau harga minyak turun menjadi $35 - $40 maka negara punya potensi kehilangan pendapatan sebesar Rp 67 – Rp 100 triliun. Ini suatu kepastian karena secara matematik sangat mudah dikalkulasi dengan asumsi volume minyak sama.

Nah, kalau ada POTENSI PENURUNAN pendapatan, biasanya langkah mudah harus diikuti dengan RENCANA PENURUNAN pengeluaran. Bahasa manajemen adalah COST REDUCTION PROGRAM alias EFISIENSI.

Tunggu dulu .... Bagi saya ini bukan kerja puyeng, tapi malahan bisa dijadikan pijakan untuk kerja pinter ...

Caranya, mudah sekali. Dengan rencana anggaran yang dipotong dari Rp 2.096 triliun menjadi sekitar Rp 1.900 triliun, maka harus dilakukan perencanaan yang lebih terbuka agar publik bisa tahu kualitas dan kuantitas program secara gamblang. Ini tidak mungkin dilakukan tanpa IT atau DIGITALISASI. E-Budgeting menjadi penting dimulai dari perencanaan yang sangat BENAR dan BAIK. BENAR artinya, tidak memasukkan unsur korupsi, dan BAIK artinya kebutuhan yang tepat guna.

DIGITALISASI  bukan hanya akan MENGHEMAT Anggaran tapi akan MENINGKATKAN KUALITAS Anggaran juga.

Setidaknya tiga hal yang bisa diperoleh, sebagai tolok ukur, dengan DIGITALISI ANGGARAN :

Pertama, Mengurangi KEMUBAZIRAN. 

Mubazir artinya tidak berguna atau paling tidak tidak bermanfaat untuk saat ini. Misalnya menganggarkan pemasangan UPS di daerah yang listriknya hanya 30 % up time. Sebaiknya menganggarkan proyek listrik terlebih dulu. Menganggarkan studi banding di luar negeri, bukannya tidak perlu tapi kalau bisa di sini kenapa mesti disana.

Kedua, Mengurangi KEBOCORAN. 

Kalau sdh tidak mubazir, tolok ukur kedua adalah dalam implementasinya apa ada pos yang lari ke tempat yang bukan seharusnya. Kebocoran dari atas ke bawah, yang membuat kualitas proyek di lapangan berkurang karena kebocoran tadi. Proyeknya sudah benar tapi hasilnya tidak baik karena terjadi penyunatan spesifikasi.

Ketiga, Mengurangi KETERBENGKELAIAN. 

Terbengkelai artinya tidak bisa terpakai dan akhirnya rusak karena tidak diikuti prasarana penunjang yang memadai. Misalnya, membangun proyek listrik tapi lupa transmisinya sehingga yang ada jadi tidak berguna. Membangun pelabuhan tanpa ada trayek dan kesana, membangun jalan tol tapi tidak ada anggaran untuk pembebasan tanah akibatnya hanya separuh jalan dan terhenti. Membangun prasarana oleh raga, hanya untuk satu kali event nasional dan lokasinya sangat jauh untuk dijangkau masyarakat yang ingin memanfaatkannya.

Dengan DIGITALISASI maka perencanaan akan lebih baik (karena transparansi dan integrasi sistem) sehingga simpul penghambat satu proyek dengan proyek lain bisa diminimalisasikan. Alhasil Kemubasiran, Kebocoran dan Keterbengkelaian bisa dikurangi.

Dalam skala mikro, tingkat perusahaan, pengHEMATan dan peMANGKASan anggaran juga pasti terjadi karena pertumbuhan ekonomi belum seperti yang diharapkan. Sama seperti pada level makro, perusahaan yang sudah DIGITAL akan mampu menyikapi penurunan pendapatan dengan program alokasi anggaran yang lebih baik. Tidak sekedar asal POTONG, asal KURANG dan asal asalan lain, tapi diteliti dengan cermat.

Saya yakin, kondisi ini akan membuat perusahaan mengubah BUSINESS PROCESS dan BUSINESS MODEL sehingga menghasilkan sesuatu yang baru yang pada ujungnya bukan mengHEMAT atau meMANGKAS pengeluaran saja tapi malahan bisa meNAMBAH dan memperLUAS potensi pendapatan yang ada.

Dalam krisis, selalu ada ide gila. Dalam kepepet sering muncul inovasi baru.

Semoga, kali ini kita sebagai BANGSA dan bagian dalam PERUSAHAAN bahkan sampai level KELUARGA bisa memanfaatkan ‘tantangan’ ini untuk muncul sebagai JAWARA baru yang lebih punya VALUE tinggi dengan COST terendah.

Bukankah itu akan menjadi BLUE OCEAN kita?


Salam,

Paulus Bambang

adalah Director PT Astra International Tbk dan Penulis buku-buku laris dengan judul Built to Bless Company, Lead to Bless Leader, As CEO’s Soulmate dan Balancing Your Life.

Tinggalkan Komentar Anda

Featured Career Advices

Menciptakan Stres Dari Hasil Tes DISC

Cara Berkomunikasi Efektif dengan Seseorang Dari Hasil Tes DISC

6 Tips Mengubah Suasana Rapat Kerja Lebih Interaktif

Pengolahan Data dengan Desain Dashboard

Seni Memfasilitasi Rapat Kerja dengan Post-it Kecil

Memahami Perilaku Manusia dari Model DISC

20 Kriteria Pemimpin Yang Baik

10 Contoh Pemberian Umpan Balik yang Efektif

7 Tips Memberikan Coaching Yang Efektif

8 Cara Membuat Rapat Kerja Lebih Menyenangkan

5 Cara Mencintai Diri Sendiri

Pantang Menyerah Dengan Cara Cerdas

20 Cara Baru untuk Memberi Hadiah kepada Karyawan

Rapat Kerja yang Efektif

Aplikasi Sosial Media dan Pengaruhnya

Memberikan Umpan Balik Konstruktif

Sikap Positif Menunjang Kesuksesan Anda

5 Cara Meningkatkan Daya Ingat Otak

2 Hal Penting Sebelum Mengundurkan Diri

Memahami Pola Pikir

Hindari 4 Strategi Pemasaran Digital yang Rumit Ini

Perbedaan Motto Hidup dan Kutipan Hidup

5 Kebahagiaan Meraih Keseimbangan Hidup

7 Halangan Diri Untuk Meraih Keseimbangan Hidup

4 Strategi Meraih Keseimbangan Hidup Bagi Pengusaha

Tetap Semangat Mencapai Impian

5 Hal Yang Perlu Diketahui Saat Menghadiri Wawancara Kerja

Menjadi Selangkah Lebih Maju

Pemimpin, Hentikan Perilaku Ini

Tips Sederhana Mempersiapkan Diri sebelum Wawancara Kerja