Logo STUDILMU Career Advice
STUDILMU Career Advice - 6 Cara Bersaing secara Sehat

6 Cara Bersaing secara Sehat


STUDILMU Users
by Studilmu Editor
Posted on Mar 06, 2019

 
Bersaing. Ini adalah kata yang dijauhi oleh beberapa orang, namun benar-benar dicari oleh sebagian orang lainnya, bahkan sangat diperlukan bagi mereka. Orang-orang yang menyukai lingkungan yang dipenuhi oleh persaingan yakin bahwa mereka dapat menjadi pribadi yang jauh lebih baik saat menceburkan diri ke dalam lingkungan tersebut. Mereka akan lebih berinovasi dan kreatif dalam berpikir dan bertindak.  
 
Menurut pandangan tradisional, persaingan dapat menghasilkan hasil yang terbaik di dalam diri seseorang, karena ini membantu mereka dalam berkembang untuk terus maju, dan dalam waktu yang sama juga dapat menerima sebuah kekalahan. 
 
Bersaing secara sehat akan menjadi baik diterapkan jika kita (perusahaan) bersaing dengan perusahaan lainnya, yang mungkin memiliki target pasar yang sama atau berbeda. Namun, bagaimana jika lingkungan kompetitif yang dimaksud terjadi di dalam perusahaan itu sendiri? Apakah itu adalah situasi yang baik dan menguntungkan untuk karyawan perusahaan tersebut? 
 
Tidak perlu bingung ya rekan-rekan Career Advice, karena pada artikel ini kita akan membahas cara bersaing secara sehat yang mengarah pada mentalitas: tim kita harus menang, bukan saya harus menang. Yuk, kita coba menginspirasi karyawan atau tim melalui 6 cara hebat di bawah ini. 
 
1. Menentukan Jumlah Pesaing
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa persaingan dapat menghasilkan hasil yang terbaik di dalam diri seseorang dan dapat membantu individu dalam menerima kekalahan. Intinya, persaingan adalah hal yang penting, bahkan sangat diperlukan agar kita memiliki rasa ‘greget’ untuk terus maju ke depan dan menjadi lebih baik dari yang lain. 
 
Sayangnya, persaingan yang terus terjadi tanpa henti akan membuat karyawan menjadi kewalahan dan terbebani. Penting untuk kita menentukan persaingan yang tepat, seperti memikirkan “dengan siapa kita seharusnya bersaing?” hal ini menunjukkan bahwa bukan semua bisnis dan perusahaan adalah pesaing kita, apalagi jika mereka jelas-jelas memiliki produk dan target pasar yang jauh berbeda dengan kita. 
 
Menurut penelitian yang ada, saat kita menentukan satu atau dua pesaing, ini akan membantu kreativitas karyawan menjadi semakin inovatif dan kreatif. Kita akan lebih mudah dalam membaca setiap pergerakan dari para pesaing, sehingga anggota tim tidak kewalahan dalam hal ini. 
 
2. Memiliki Struktur yang Kuat untuk Mendorong Pembangunan Tim
Persaingan dapat bersifat kolaboratif, jika sebuah perusahaan memiliki struktur organisasi yang kuat di dalamnya. Kita semua di dalam tim harus memiliki prinsip yang kuat dalam membantu semua anggota tim yang ada di dalamnya. Dukungan yang diberikan oleh atasan pada setiap kompetisi yang ada di luar perusahaan, akan meningkatkan motivasi kerja dalam sebuah tim untuk menciptakan “kami lah yang terbaik”, berusaha lebih unggul dari produk perusahaan lainnya. Ini juga dapat memotivasi rekan kerja untuk saling bekerja sama, saling membimbing, dan mendukung rekan-rekan mereka.
 
3. Memasangkan Karyawan Secara Efektif 
Cara ini dilakukan dengan sengaja dengan bertujuan untuk meningkatkan kinerja karyawan secara menyeluruh. 
 
Kita dituntut untuk dapat bekerja sama dengan semua karakter yang dimiliki dari masing-masing karyawan. Meskipun begitu, para pemimpin juga memiliki andil yang kuat dalam mencocokkan pasangan karyawan untuk bekerja sama dalam satu tim. Misalnya, karyawan A memiliki karakter yang baik dalam bekerja, dia gigih, ulet dan selalu termotivasi dengan baik dalam setiap pekerjaan yang diselesaikannya, sayangnya karyawan A ini tidak suka berpikir di luar batas, sehingga ide-ide yang dia berikan terdengar sangat monoton. Di sisi lain, karyawan B terlihat kurang termotivasi namun memiliki kreativitas yang tinggi, sehingga pemimpin mengambil langkah untuk memadukan mereka menjadi satu tim.
 
Dalam hal ini, karyawan A dapat membantu karyawan B untuk menjadi lebih termotivasi dan semangat dalam bekerja. Sedangkan, karyawan B dapat membantu karyawan A untuk bisa berpikir lebih kreatif dan inovatif. 
 
Positifnya lagi, ini juga bisa membantu semua anggota tim untuk saling terlibat, mengenal dan belajar antar anggota tim. 
 
4. Membuka Jalur Kreativitas 
Untuk menciptakan budaya yang kompetitif, diperlukan pintu yang terbuka agar para karyawan dapat masuk menorehkan ide-ide cemerlang yang mereka miliki. Jika di dalam perusahaannya saja, segala ‘pintu kreativitas’ seakan tertutup, bagaimana mereka dapat masuk dan berkontribusi untuk masa depan perusahaan yang lebih inovatif?
 
Dalam hal ini, pemimpin perlu mengajak dan mendorong para karyawan untuk tidak ragu-ragu dalam menyampaikan aspirasi mereka. Sebagai contoh, saat saya sebagai seorang manajer memperlihatkan reaksi yang baik dan menyenangkan saat ada karyawan yang memberikan ide mereka dan tidak hanya itu, saya juga memberikan apresiasi kepada karyawan tersebut dengan berterima kasih kepada karyawan. Meskipun pada ujungnya, saya tidak menerapkan pendapat yang dia berikan. Namun setidaknya, karyawan akan merasa senang karena mereka diberi kesempatan untuk menyampaikan aspirasi mereka. Dari skenario ini, budaya kerja yang kompetitif akan semakin tercipta, karena karyawan lainnya akan berlomba-lomba untuk memberikan aspirasi yang mereka miliki kepada perusahaan. Bisa jadi kan selama ini mereka tidak memberikan ide apapun karena takut ditolak mentah-mentah? 
 
5. Pikirkan “Kira-kira Sumber Daya Apa yang Karyawan Perlukan?”
Selain membuka jalur kreativitas, penting untuk para pemimpin menyediakan sumber daya yang diperlukan oleh karyawan agar budaya kompetitif dapat terbentuk dengan baik. Jika pembaca Career Advice adalah seorang pemimpin, coba berikan diri Anda luang waktu untuk berpikir sejenak, “kira-kira sumber daya atau fasilitas apa saja ya yang diperlukan oleh karyawan saya, agar mereka menjadi tim yang kreatif?” Sebagai contoh, apakah kita perlu menawarkan kelas internal, tutorial, dan lokakarya, yang memungkinkan karyawan kita memiliki akses ke mentor dan para eksekutif top.
 
6. Jadikan kompetisi berharga
Jangan terapkan langkah-langkah di atas tanpa tujuan yang jelas dan pasti. Budaya kerja kompetitif yang ingin dibangun di lingkungan kerja haruslah memiliki arah yang jelas.  Nah, tujuan dari kompetisi kerja harusnya bukan semata-mata untuk mendapatkan kemenangan, hadiah atau laba. Kompetisi kreatif harus mengarah pada pengembangan keterampilan, dan mendorong pembangunan hubungan antar departemen.
Featured Career Advices
Benarkah Kebahagiaan adalah Mendapatkan Pekerjaan Impian?

Benarkah Kebahagiaan adalah Mendapatkan Pekerjaan Impian?

Strategi Pemasaran E-mail untuk Generasi Milenial

Strategi Pemasaran E-mail untuk Generasi Milenial

5 Strategi Pemasaran melalui E-mail

5 Strategi Pemasaran melalui E-mail

Perencanaan Keuangan yang Salah di Umur 20-an

Perencanaan Keuangan yang Salah di Umur 20-an

Pentingnya Integritas dan Kejujuran Hati di Dunia Kerja

Pentingnya Integritas dan Kejujuran Hati di Dunia Kerja

Asumsi adalah Penyebab Kegagalan Wirausaha

Asumsi adalah Penyebab Kegagalan Wirausaha

Rapat Kerja dengan Keberagaman Suku Bangsa

Rapat Kerja dengan Keberagaman Suku Bangsa

5 Cara Membuat Logo Produk Menjadi Terkenal

5 Cara Membuat Logo Produk Menjadi Terkenal

Cara Mengatasi Stress terhadap Finansial

Cara Mengatasi Stress terhadap Finansial

Pengertian E-learning dan Lanskapnya pada 2019

Pengertian E-learning dan Lanskapnya pada 2019

Pentingkah Memiliki Tujuan Bekerja?

Pentingkah Memiliki Tujuan Bekerja?

Rapat Kerja dengan Komunikasi yang Efektif

Rapat Kerja dengan Komunikasi yang Efektif

5 Cara Pengusaha Sukses Tetap Bahagia

5 Cara Pengusaha Sukses Tetap Bahagia

7 Cara Menjadi Tokoh Terkenal di Dunia Bisnis

7 Cara Menjadi Tokoh Terkenal di Dunia Bisnis

10 Kesalahan Fatal yang Menghancurkan Bisnis Plan

10 Kesalahan Fatal yang Menghancurkan Bisnis Plan

Etika Memuji Rekan Kerja di Lingkungan Kerja

Etika Memuji Rekan Kerja di Lingkungan Kerja

Satu Pertanyaan yang Mengubah Hidup Lebih Baik

Satu Pertanyaan yang Mengubah Hidup Lebih Baik

3 Alasan Cerita Singkat Baik untuk Bisnis

3 Alasan Cerita Singkat Baik untuk Bisnis

Menjual Produk dan Jasa melalui Cerita Singkat

Menjual Produk dan Jasa melalui Cerita Singkat

4 Karakter Kepemimpinan yang Wajib Dimiliki

4 Karakter Kepemimpinan yang Wajib Dimiliki

Peranan E-Learning dalam Pengembangan Karier

Peranan E-Learning dalam Pengembangan Karier

3 Pikiran Negatif yang Menghambat Kebahagiaan dalam Karier

3 Pikiran Negatif yang Menghambat Kebahagiaan dalam Karier

Bagaimana Cara Mengembangkan E-Learning atau Pembelajaran Online?

Bagaimana Cara Mengembangkan E-Learning atau Pembelajaran Online?

4 Karakteristik Manusia yang akan Sukses di Dunia Bisnis dan Kesehatan

4 Karakteristik Manusia yang akan Sukses di Dunia Bisnis dan Kesehatan

6 Cara Menentukan Harga Jual Produk yang Tepat

6 Cara Menentukan Harga Jual Produk yang Tepat

5 Cara Menguji Strategi Bisnis yang Baru di Media Sosial

5 Cara Menguji Strategi Bisnis yang Baru di Media Sosial

10 Cara Mencintai Diri Sendiri untuk Karier Cemerlang

10 Cara Mencintai Diri Sendiri untuk Karier Cemerlang

5 Manfaat Menjaga Kebahagiaan Sejati Karyawan bagi Perusahaan

5 Manfaat Menjaga Kebahagiaan Sejati Karyawan bagi Perusahaan

Bisakah Memasarkan Bisnis Startup Sendirian?

Bisakah Memasarkan Bisnis Startup Sendirian?

11 Cara Memiliki Pola Pikir untuk Berani Memulai Bisnis

11 Cara Memiliki Pola Pikir untuk Berani Memulai Bisnis