STUDILMU Career Advice - LEGO, Lebih Dari Sekedar Mainan Anak

LEGO, Lebih Dari Sekedar Mainan Anak


by Heria Windasuri
Posted on Oct 10, 2018

 
Metode training baru dengan memanfaatkan LEGO®? Serius nih? LEGO® dijadikan metode training?? Ternyata LEGO® memang sungguh bukan sekedar mainan anak (atau pencintanya dari berbagai usia). Dengan metode ini, banyak pembelajaran yang bisa secara langsung kita terapkan dan rasakan. Imej LEGO® di mata saya sungguh berubah. Jika menonton prosesnya saja memberi banyak manfaat, bagaimana dengan mengalaminya sendiri? 
 
Dikutip dari Wikipedia.org, grup Lego bermula dari sebuah usaha kerajinan kayu milik Ole Kirk Chiristiansen, di kota Billund, Denmark. Christiansen membeli sebuah toko kerajinan kayu di Billund yang membantu pembangunan rumah dan pembuatan mebel kayu. Christiansen mulai memproduksi versi miniatur tangga dan papan setrikaan sebagai pembantu rancangan. Model-model miniatur inilah yang menginspirasinya untuk mulai memproduksi mainan. Pada tahun 1934, perusahaannya kemudian disebut "Lego", dari frase Denmark leg godt, yang berarti "bermain dengan baik”.
 
Setelah Perang Dunia II, plastik hadir di Denmark. Christiansen memperoleh contoh barang bata plastik yang bisa saling melekat satu dengan yang lain (interlocking) yang diproduksi oleh perusahaan Kiddicraft. "Kiddicraft Self-Locking Building Bricks" ini dirancang dan dipatenkan di Inggris oleh Mr. Hilary Harry Fisher Page, dan tahun 1949 Grup Lego mulai memproduksi bata yang sama, menamainya "Automatic Binding Bricks" (Bata Yang Melekat Secara Otomatis). Pada tahun 1953 bata-bata ini diberi nama baru: Lego Mursten, atau "Bata Lego". Pada tahun 1958 bata-bata ini disempurnakan dengan silinder-silinder berlubang di bawahnya. Perusahaan ini mematenkan rancangan produk yang baru ini, untuk menghindarkan diri dari saingan bisnis.
 
 
Hingga tahun 2000-an LEGO® masih terus berkembang sebagai mainan untuk berbagai segmen, hingga  akhirnya mereka mengembangkan metode LEGO® SERIOUS PLAY®. Konsep yang diambil merubah pakem yang selama ini ada di organisasi, yaitu pemecahan masalah dengan berfokus pada action, do first, then think. Let your hand do the think. Konsep anti mainstream ini ternyata begitu efektif memancing kreatifitas setiap partisipan.
 
Walau di awal-awal metode ini banyak digunakan untuk Business Process, tetapi ternyata tiap level dan divisi bisa menarik pembelajaran yang kaya di dalamnya. Contoh pembelajaran yang sejak awal bisa dilihat adalah perbedaan mencolok saat pengerjaan tugas pertama. Selama ini, kita sering kekurangan waktu karena banyak tersita untuk proses berpikir. Tetapi dalam metode LEGO® SERIOUS PLAY®, kita dirangsang untuk bertindak lebih cepat dan mengurangi perdebatan dalam diri kita sendiri. Don’t talk to yourself too much! Ada kalanya dengan berani memulai ide kita akan lebih lancar mengalir, lewat kreatifitas dan inovasi.
 
 
Selama ini, tanpa disadari kita membangun batasan bagi kreatifitas kita sendiri. Dan ini, sedikit banyak berpengaruh pada kreatifitas kita dalam melakukan pekerjaan. Saat mengikuti program LEGO® Serious FUN® yang telah BusinessGrowth kembangkan dari metode LEGO® SERIOUS PLAY®, Anda akan melihat betapa pakem kita atas hal yang “benar” selama ini menjadi penghambat berkreasi. Misalnya saat kita diharapkan membuat satu bentuk hewan dengan jumlah LEGO® yang terbatas, bayangan kita akan bentuk yang “benar” hewan tersebut membuat kita merasa bahwa sumber daya yang diberikan tidak akan mencukupi. Butuh lebih banyak brick, butuh bentuk tertentu, butuh petunjuk pembuatan, atau bahkan butuh warna yang lebih sesuai. Dan jika tantangannya ditambah dengan singkatnya waktu, saya tidak akan heran jika hal yang makin menyita waktu kita justru adalah mengeluh, berbicara pada diri sendiri. “Gimana caranya bikin itu dengan  LEGO® segini??”. Separuh atau mungkin sepertiganya barulah waktu penggarapan. Kita merangkai bentuk yang paling mendekati dengan keterbatasan sumber daya. 
 
 
Saat akhirnya kita mulai membiarkan tangan kita yang “berpikir” dan mulai menyusun kepingan LEGO®, hasil yang kita buat sering tak terduga, karena kita dibebaskan dari batasan yang selama ini menjadi kotak tak terlihat yang membatasi gerakan dan kreatifitas kita. Pada akhirnya kita menemukan kecocokan bentuk. Kita mencoba yang terbaik yang kita bisa, bentuk terdekat yang dapat dirangkai dengan segala keterbatasan. Mencoba menghasilkan yang terbaik dengan apa yang kita punya, tak lagi mengikuti pakem ideal yang ada dalam pikiran kita. Kita tidak membuang waktu dan tenaga meributkan kendala, berkutat mempermasalahkan apa yang tidak tersedia, karena kita berfokus memberikan hasil, bukan nilai kosong. Dan ini merupakan pembelajaran pertama dari sekian banyak, dari tugas kecil pertama.

Tinggalkan Komentar Anda

Featured Career Advices

4 Jenis Komunikasi

7 Cara Mengatasi Stres Kerja

Etos Kerja

6 Cara Membangun Kreativitas Tim

Karakteristik Generasi Z

3 Kondisi Kerja yang Menekan dan Cara Menghadapinya

15 Ciri Komunikasi Efektif

Komunikasi Efektif Dalam Pengembangan Karier

Cara Menulis Surat Lamaran Kerja

12 Bahasa Tubuh Yang Dihindari Pada Wawancara Kerja

3 Cara Menjadi Diri Sendiri

Cara Kerja di Perusahaan Baru

3 Tips Merespon Pekerjaan Tambahan

Ingin Hasil Kerja Lebih Baik? Lakukan 8 Hal ini.

Pengalaman Interview Seseorang

4 Cara Negosiasi Yang Efektif

Menjaga Komitmen Kerja

6 Hal Menjadi Pribadi Yang Lebih Baik

40 Kata-Kata Motivasi Kerja

7 Strategi Manajemen Waktu

3 Cara Menghadapi Kesulitan

Wawancara Kerja: Hobi, Pengalaman dan Kesuksesan

4 Cara Meraih Kesuksesan Di Bidang Penjualan

3 Cara Utama Menjadi Wanita Karier Hebat Indonesia

Perbedaan Empati dan Simpati

8 Cara Menghadapi Lingkungan Kerja yang Sulit

2 Cara Keluar Dari Zona Nyaman

3 Cara Agar Sukses di Usia Muda

7 Cara Hidup Bahagia

15 Cara Agar Berhasil Melewati Wawancara Kerja