Logo STUDILMU Career Advice
STUDILMU Career Advice - Sikap dan Perilaku

Sikap dan Perilaku


STUDILMU Users
by Studilmu Editor
Posted on Feb 14, 2019

 
Mari sedikit berandai-andai, tentang bawahan atau rekan kerja idaman. Tapi di sini kita akan mendaftar kriteria yang tidak kita inginkan, jadi silahkan bayangkan kebalikan dari segala poin rekan kerja grade-A yang Anda inginkan. Sebutkan, jika perlu tuliskan untuk memudahkan. Setelah itu, coba hitung kriteria yang bisa digolongkan dalam Sikap, Perilaku atau Attitude. Berdasarkan pengalaman kami, ada lebih banyak golongan sikap (Attitude) ketimbang Kompetensi yang didaftarkan dalam kriteria. 
 
Saya – dan mungkin masih banyak individu lainnya hingga kini – dididik dalam lingkungan yang meyakini bahwa kesuksesan tergantung pada bakat, kecakapan, kecerdasan, atau kemampuan. Selebihnya didukung keberuntungan dan kesempatan. Karena itu nilai ujian yang baik waktu itu masih dijadikan acuan seberapa berhasilnya saya saat itu dan kelak. Seiring itu, saya juga diajarkan untuk memiliki sikap dan berperilaku baik. Tapi tidak pernah ditekankan sebagai poin utama meraih kesuksesan. Aptitude comes first, attitude is complement.
 
Bertambah usia dan pengalaman kerja, perlahan keyakinan keramat tersebut menemukan pencerahannya. Beberapa contoh peristiwa di tempat kerja menjadi pembuka mata. Saat nyaris tidak ada rekan yang merasa nyaman dan mau secara suka rela bekerjasama dengan seorang leader tim marketing di pekerjaan terdahulu, saya mencoba melakukan sebaliknya. Saya berusaha menjadikan diri saya teman terbaiknya di sana. Jika biasanya ia datang di pagi dengan rute by pass ke meja kerjanya tanpa bertegur sapa, saya mencoba memulai habit baru sapaan pembuka hari ke semua orang – termasuk dia. Ini memaksanya membalas sapa dan senyum sebagai pembuka. Mengajaknya berkumpul bersama di jam makan siang, dengan gerutuan dan tatap galak memprotes dari beberapa rekan. Dan lainnya, yang intinya saya hanya ingin membuatnya terbiasa melakukan hal-hal positif bersama. “Supaya lebih akrab” cengir saya kala itu. Tapi tidak butuh satu tahun untuk saya menyadari alasan banyak orang menjaga jarak darinya.
 
Beliau adalah sosok yang tangguh dan memiliki semua pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk ada di jabatannya. Tapi feedback yang terus menerus dilontarkan orang-orang di lingkarannya – secara off the record di belakangnya – adalah perihal sikap dan perilakunya. Caranya memandang dan memperlakukan orang lain dengan remeh seolah mereka adalah asistennya, bagaimana ia berkomunikasi dengan bossy dan tanpa empati, hingga keberaniannya untuk berdebat terbuka dalam tensi tinggi (istilah halus untuk berkelahi verbal) dengan tujuan win-lose dengan siapa saja (ya, dia yang harus win, others lose). Anggota tim yang rutin bongkar pasang menjadi catatan berulang manajemen. Ketidak akuran dengan banyak rekan yang akhirnya enggan menjadi tim support aktivitasnya, bahkan semaksimal mungkin menghindari interaksi langsung dengannya, menjadi racun yang membunuh perlahan.
 
Bagaimana mungkin kita dapat bekerja sendirian, tanpa dukungan pihak lain yang memberi hasil kerjanya sebagai satu rangkaian proses? Bagaimana mungkin kita berkoordinasi dengan pihak yang sudah enggan mendengarkan karena kerap sakit hati? Bagaimana bisa mencapai laju maksimal sesuai waktu tempuh yang ditargetkan, jika “onderdil” kendaraan bolak balik dipreteli dan diganti? Bagaimana pula caranya mempersiapkan dan menyelesaikan segala hal sendirian, karena tidak ada yang mau menjadi bala bantuan kecuali terpaksa dan tak punya pilihan? Bagaimana mungkin mendapatkan hasil maksimal dari orang-orang yang bekerja bersamanya setengah hati setengah benci? Segala efek itu sukses menggerogoti performanya secara kualitas dan kuantitas.
 
Tidak ada rekan yang memeluknya dengan wajah sedih saat ia akhirnya memilih mengundurkan diri, dan pamit di hari terakhirnya. Mungkin mereka memang orang-orang tangguh yang terbiasa melepas kepergian rekan, atau jangan-jangan masih belum bisa melupakan. Tidak ada yang berubah, dan tidak ada yang merasa kehilangan. Karirnya terpaksa berhenti setelah konsisten merosot di tiap kali peninjauan hasil kerja. Tidak ada yang bersaksi membelanya saat berbagai masalah kerja ditemukan. 
 
Tidak selalu tentang kecakapan. Begitu banyak hal yang bisa diraih dengan kecakapan, namun harus dijalin menyatu agar kuat bertahan menggunakan sikap dan perilaku. Kita perlu selalu mengingat ini, agar tidak mengulangi kisah ironis yang sama. Jangan sampai sikap dan perilaku kita membanting kita jatuh, dari ketinggian yang dicapai kecakapan.
 
 
“Your Attitude, not your Aptitude, will determine Your Altitude.” 
-Zig Ziglar-
Featured Career Advices
Rapat Kerja dengan Keberagaman Suku Bangsa

Rapat Kerja dengan Keberagaman Suku Bangsa

5 Cara Membuat Logo Produk Menjadi Terkenal

5 Cara Membuat Logo Produk Menjadi Terkenal

Cara Mengatasi Stress terhadap Finansial

Cara Mengatasi Stress terhadap Finansial

Pengertian E-learning dan Lanskapnya pada 2019

Pengertian E-learning dan Lanskapnya pada 2019

Pentingkah Memiliki Tujuan Bekerja?

Pentingkah Memiliki Tujuan Bekerja?

Rapat Kerja dengan Komunikasi yang Efektif

Rapat Kerja dengan Komunikasi yang Efektif

5 Cara Pengusaha Sukses Tetap Bahagia

5 Cara Pengusaha Sukses Tetap Bahagia

7 Cara Menjadi Tokoh Terkenal di Dunia Bisnis

7 Cara Menjadi Tokoh Terkenal di Dunia Bisnis

10 Kesalahan Fatal yang Menghancurkan Bisnis Plan

10 Kesalahan Fatal yang Menghancurkan Bisnis Plan

Etika Memuji Rekan Kerja di Lingkungan Kerja

Etika Memuji Rekan Kerja di Lingkungan Kerja

Satu Pertanyaan yang Mengubah Hidup Lebih Baik

Satu Pertanyaan yang Mengubah Hidup Lebih Baik

3 Alasan Cerita Singkat Baik untuk Bisnis

3 Alasan Cerita Singkat Baik untuk Bisnis

Menjual Produk dan Jasa melalui Cerita Singkat

Menjual Produk dan Jasa melalui Cerita Singkat

4 Karakter Kepemimpinan yang Wajib Dimiliki

4 Karakter Kepemimpinan yang Wajib Dimiliki

Peranan E-Learning dalam Pengembangan Karier

Peranan E-Learning dalam Pengembangan Karier

3 Pikiran Negatif yang Menghambat Kebahagiaan dalam Karier

3 Pikiran Negatif yang Menghambat Kebahagiaan dalam Karier

Bagaimana Cara Mengembangkan E-Learning atau Pembelajaran Online?

Bagaimana Cara Mengembangkan E-Learning atau Pembelajaran Online?

4 Karakteristik Manusia yang akan Sukses di Dunia Bisnis dan Kesehatan

4 Karakteristik Manusia yang akan Sukses di Dunia Bisnis dan Kesehatan

6 Cara Menentukan Harga Jual Produk yang Tepat

6 Cara Menentukan Harga Jual Produk yang Tepat

5 Cara Menguji Strategi Bisnis yang Baru di Media Sosial

5 Cara Menguji Strategi Bisnis yang Baru di Media Sosial

10 Cara Mencintai Diri Sendiri untuk Karier Cemerlang

10 Cara Mencintai Diri Sendiri untuk Karier Cemerlang

5 Manfaat Menjaga Kebahagiaan Sejati Karyawan bagi Perusahaan

5 Manfaat Menjaga Kebahagiaan Sejati Karyawan bagi Perusahaan

Bisakah Memasarkan Bisnis Startup Sendirian?

Bisakah Memasarkan Bisnis Startup Sendirian?

11 Cara Memiliki Pola Pikir untuk Berani Memulai Bisnis

11 Cara Memiliki Pola Pikir untuk Berani Memulai Bisnis

7 Rahasia Menjadi Tangguh di Dunia Kerja

7 Rahasia Menjadi Tangguh di Dunia Kerja

10 Cara Membawa Rasa Bahagia di dalam Tim Kerja

10 Cara Membawa Rasa Bahagia di dalam Tim Kerja

4 Cara Menuju Pensiunan Dini di Umur 40 Tahun

4 Cara Menuju Pensiunan Dini di Umur 40 Tahun

5 Cara Meningkatkan Etika Kerja di Perusahaan Indonesia

5 Cara Meningkatkan Etika Kerja di Perusahaan Indonesia

5 Strategi untuk Menang dalam Presentasi Bisnis

5 Strategi untuk Menang dalam Presentasi Bisnis

3 Tingkat Kesadaran Diri

3 Tingkat Kesadaran Diri