Logo STUDILMU Career Advice
STUDILMU Career Advice - Menjadi Pemimpin Yang Efektif

Menjadi Pemimpin Yang Efektif


STUDILMU Users
by Studilmu Editor

 
Setelah semua kehebohan yang terjadi, dia mengelus rambut anaknya yang sudah tenang. Mengajaknya berbicara tentang do and don’t, good and bad, serta konsekuensi yang harus diterima. Si bocah mengangguk-angguk dengan bibir masih cemberut, mengawasi mata ibunya yang sedang bicara. Kemudian dia mengusap matanya, dan tertawa ketika ibunya mengulurkan tangan untuk menggandengnya. Satu tangannya kemudian menjangkau tangan petugas yang menatapnya sambil tersenyum, membuat gerakan salim, lalu melambaikan tangan dan beranjak. “Ayo kita beli es krim” saya mendengar si ibu berkata saat lewat. Si ayah terlihat lega dan mengikuti dari belakang.
 
Peristiwa sore itu unik dan membekas dalam ingatan. Kami sedang memilih-milih jaket ketika seorang anak berteriak marah dan menarik jatuh manekin di bagian pakaian anak, yang untungnya tidak menimpanya. Si ibu berteriak kaget dengan wajah khawatir, sementara si ayah terbelalak kaget tanpa berkata-kata. Masih belum puas, bocah berumur sekitar lima tahun tadi mengacak-acak tumpukan pakaian yang ditata rapi, sambil menjerit berulang-ulang meminta tas bergambar satu karakter kartun. Agaknya dia tidak setuju diajak ke area pakaian, karena lebih meminati yang lain. Petugas jaga yang ada berusaha mencegah lebih banyak tumpukan rapi roboh berhamburan, sementara si ayah membantu memunguti hamburan di lantai sambil meminta maaf. Yang luar biasa adalah respon si ibu selanjutnya. Saat si ayah hendak merayu dan menggendong anaknya yang mulai melempar diri ke lantai dalam raungan tangis tantrumnya, si ibu mencegah dan hanya mengawasi si anak sambil berjaga di dekatnya, agar ia tidak menabrak sudut-sudut tajam berbahaya. Hampir sepuluh menit keriuhan ini belangsung, si ibu tak bergeming. Si ayah meminta maaf pada orang-orang yang lalu lalang melempar tatapan protes, rautnya tampak tegang dan tidak enak hati. Saat akhirnya si anak berhenti bergulingan menangis di lantai, si ibu mulai mengajaknya berbicara, dan tak lama kemudian si anak mulai membantu petugas yang sedang melipat dan menyusun pakaian. Hasil lipatannya memang belum oke, tapi dia membantu hingga selesai.
 
Tidak banyak orang yang berani dan “tega” mendidik anaknya dengan cara demikian. Si ibu berani menerima tatapan tak bersahabat orang-orang di sekitarnya, menyanggah si ayah, dan membiarkan si anak merasa tidak mendapat pertolongan. Ia juga tegas meminta anaknya menerima konsekuensi tingkah salahnya, dan memberi feedback dan peringatan langsung. Sementara banyak orang – termasuk si ayah – yang berkomentar soal tidak sayang anak, bahwa si anak masih terlalu kecil untuk diajari benar salah, dan perilaku welas asih lainnya. Saya sendiri jadi teringat perkataan direktur kami, tentang memimpin dengan cara yang benar. 
 
Justru karena kita menyayangi mereka, maka penting untuk mengajari mereka tentang apa yang baik dan buruk, apa yang boleh dan tidak boleh, apa yang benar dan salah. Bukan untuk menyenangkan mereka dengan mengijinkan mereka melakukan apapun yang disuka, tapi untuk mengembangkan mereka di jalur yang semestinya. Memimpin dengan gaya seperti ini berlaku di lingkup manapun, entah itu personal maupun profesional. Melakukan apa yang benar dengan cara yang benar, walau banyak yang menentang karena menganggap “tidak semestinya”. Setiap orang tahu bahwa mengajarkan baik-buruk itu penting, tapi banyak yang akhirnya memberi toleransi terlalu longgar. Setiap pemimpin yang efektif sadar bahwa umpan balik dan hukuman adalah harus, tapi tidak semua berani mendapat permusuhan dari tindakan itu.
 
Tetapi memang itu peran penting pemimpin yang efektif. Tidak nyaman, memang. Tidak benar? Bukan. Tidak ada orang yang suka mendapat teguran dan hukuman. Tapi tidak ada yang akan menyangkal bahwa tindakan salah perlu hukuman. Toh mereka semua mengenal prinsip “membela yang benar”. Tidak ada yang senang “menyakiti” orang lain, tapi tidak “menyakiti” bisa berarti semakin menjerumuskan. Karena itu artinya kita membiarkan mereka terus melakukan kesalahan dan bebas dari konsekuensinya. Kita tidak mendidik mereka menjadi sosok yang lebih baik.
 
Setiap pemimpin yang efektif harus melewati dilema ini. Saat satu sisi ingin menyenangkan hati bawahan, sisi lain menuntut penegakan kebenaran – walau sepahit apapun. Satu sisi ingin merangkul banyak orang, sisi lain menegaskan bahwa kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Pada akhirnya, pemimpin yang efektif memang bukan sosok yang tugasnya membahagiakan semua orang. Bukan ajang menebar citra pujaan setiap kalangan. Akan selalu datang waktu dimana kita harus membuat keputusan tidak populer yang mengundang tentangan, permusuhan, hingga kemarahan. Tidak masalah, mereka boleh marah. Setidaknya untuk saat itu. Namun di jangka panjang mereka akan setuju, obat yang manjur tidak mungkin semanis madu.
 

“If you want to make everyone happy, don’t be a leader. Sell ice cream.”