Logo STUDILMU Career Advice
STUDILMU Career Advice - Cara Terbaik Menunjukkan Etika Kerja yang Kuat

Cara Terbaik Menunjukkan Etika Kerja yang Kuat


STUDILMU Users
by Studilmu Editor
Posted on Apr 09, 2019

 
Etika kerja, ketika rekan-rekan Career Advice mendengar dua kata tersebut, apa yang ada di dalam benak rekan-rekan pembaca? Beberapa orang merasa sangat sulit untuk bisa memfokuskan diri mereka agar memiliki etika kerja yang baik, namun beberapa dari kita juga sangat mudah untuk mendapatkannya. Pada artikel kali ini, kita akan membahas tentang seperti apa etika kerja yang dapat dikatakan ‘kuat’? bagaimana penilaian dari para manajer, tim manajemen, pimpinan perusahaan saat mereka menetapkan seorang karyawan memiliki etika kerja yang kuat? Serta, bagaimana cara memiliki etika kerja yang kuat, jika kita memang sangat sulit untuk mendapatkannya? Yuk, kita simak penjelasannya berikut ini. 

Seperti Apa Tampilan Etika Kerja yang Kuat?
Saat kita ingin menilai etika kerja seorang karyawan, kita bisa melihat dari ‘hasil’ yang diberikan dari pekerjaan yang dilakukannya. Secara umum, para karyawan yang menampilkan etika kerja yang kuat menerapkan beberapa tindakan seperti ini: 
- Datang tepat waktu, setiap hari. Ya! Setiap hari. Ini juga bisa diartikan secara umum. Maksudnya, karyawan selalu datang tepat waktu jam 9:00 pagi dan bekerja sampai 5:00 sore. Namun, ini juga dapat diartikan bahwa ketika jam kerja, mereka benar-benar melakukan pekerjaan mereka. Tidak berjalan-jalan di luar kantor tanpa sepengetahuan bos, atau asyik membuka media sosial saat mengerjakan pekerjaan kantor. 
- Melakukan apa yang perlu dilakukan. Seseorang yang memiliki etika kerja yang kuat, mereka akan mengerjakan semua tugas kerja yang mudah dan yang sulit sekalipun. Mereka tidak akan pergi meninggalkan tanggung jawab yang harus mereka kerjakan. Semuanya akan mereka kerjakan sampai selesai. 
- Tetap bekerja meskipun situasi buruk menghampiri. Tidak peduli seberapa besar cobaan dan godaan yang datang untuk mengganggu fokus kerja kita, atau membisikkan kita agar tidak bekerja dan kembali bersanta-santai, orang-orang yang memiliki etika kerja yang sangat kuat akan mampu melawan semua godaan itu. Misalnya, saat hujan rintik-rintik dan kita merasa kurang enak badan, dengan etika kerja yang kuat, kita tidak akan bolos kerja. Namun, jika seorang karyawan benar-benar merasa sakit yang tidak tertahankan dan cuaca juga semakin memburuk, misalnya hujan dengan angin kencang. Maka, situasi berbahaya tersebut bisa menjadi alasan yang kuat seseorang tidak bekerja, dan bukan berarti mereka tidak memiliki etika kerja yang baik. 
- Selalu berusaha memberikan yang terbaik. Nah, seseorang yang memiliki etika kerja yang baik juga akan selalu memberikan upaya yang terbaik yang dia miliki. Semua ini dilakukan demi mendapatkan hasil yang terbaik juga. Seperti yang sudah dibahas di awal, etika kerja yang baik dapat dinilai berdasarkan ‘hasil’ yang diberikan dari pekerjaan yang seseorang lakukan. 
 
Apa yang Dilihat Manajer ketika Karyawan Memiliki Etika Kerja yang Kuat?
Tentu saja, sebagian besar manajer, bos, pimpinan perusahaan dan tim manajemen lainnya akan sangat menghargai etika kerja kuat yang dimiliki oleh para karyawannya. Bagaimana tidak, ini adalah hal yang sangat perlu disyukuri dan diapresiasi, karena tidak semua karyawan dapat memiliki etika kerja yang tinggi. Para manajer yang menghargai mereka dapat memberikan apresiasi berupa kenaikan gaji, bonus, promosi, pujian, dan lain sebagainya.
 
Namun, bagaimana dengan para atasan yang tidak menghargai etika kerja kuat yang dimiliki para karyawannya? Para pimpinan yang tidak mengapresiasi etika kerja karyawannya justru malah melihat hal ini sebagai peluang untuk mengeksploitasi mereka. Sekarang mari kita lihat situasi ini dalam sebuah skenario. 
 
Apabila seorang bos memberikan tugas tambahan kepada Jihan, sudah dapat dipastikan Jihan akan mengelak dan mencari-cari alasan agar tugas tersebut tidak diberikan kepadanya. Namun, jika tugas tersebut diberikan kepada Herman, sudah dapat dipastikan Herman akan mengerjakannya, bahkan bekerja selama berjam-jam ekstra panjang, demi menyelesaikan semua tugas yang diberikan oleh bosnya. Namun, ternyata hal ini malah akan membuat Herman merasa iri kepada Jihan, karena Jihan mampu menyelesaikan tugas-tugas standar yang diberikan dari bos. 
 
Intinya, apabila rekan-rekan Career Advice adalah seorang manajer, bos atau seorang pemimpin di dalam perusahaan atau organisasi, rekan pembaca perlu mengelola para karyawan yang memiliki etika kerja yang kuat dengan sangat baik dan hati-hati. Sehingga, mereka tidak merasa tereksploitasi, namun merasa puas dengan etika kerja yang mereka miliki, karena perusahaan dan pimpinan menghargai jerih payah mereka.
 
Manajer harus memberi penghargaan kepada para pekerja keras dengan memberikan promosi, pujian, bonus atau kenaikan gaji. Bukan dengan memberikan pekerjaan yang tiada henti yang tidak diinginkan oleh orang banyak. Ingat, karyawan teladan kita juga memiliki kehidupan pribadi bersama keluarga dan pasangannya, yang perlu mereka nikmati. 

Bagaimana Cara Mendapatkan Etika Kerja yang Kuat?
Memang ini akan menjadi pekerjaan yang sedikit sulit, jika kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa memiliki etika kerja yang kuat, namun etika kerja tidak dapat kita miliki secara alami. Lalu, apa yang perlu kita lakukan dalam hal ini? Yang perlu rekan-rekan Career Advice lakukan adalah berusaha untuk tetap fokus dan menyelesaikan tugas-tugas kerja dengan baik dan tepat. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat rekan pembaca terapkan: 
- Matikan ponsel, non-aktifkan semua notifikasi media sosial atau mungkin kita bisa meletakkan ponsel yang jauh dari jangkauan kita. Misalnya, simpan di dalam laci meja kerja.
- Buat daftar tugas yang harus dikerjakan setiap harinya. Buat perjanjian kepada diri sendiri bahwa kita tidak akan mengerjakan hal-hal lain sebelum kita menyelesaikan tugas-tugas inti yang ada di dalam daftar tugas tersebut. Terutama, tinggalkan dan abaikan hal-hal yang tidak terlalu penting sebelum tugas inti kelar semuanya, ya.  
- Minta rekan kerja terdekat kita untuk memberikan aba-aba saat kita sedang melenceng dari tugas inti. Misalnya, saat kita sedang bekerja lalu tergoda untuk bergosip dengan rekan kerja lain, rekan kerja terdekat Anda bisa memberikan aba-aba sebagai peringatan kecil “Tugas, Jihan!” Sehingga, kita bisa tersadar untuk kembali ke pekerjaan inti. 
- Ketika rekan pembaca sudah berhasil menyelesaikan semua tugas-tugas inti dan tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya, coba bertanya kepada rekan kerja atau atasan, apakah ada pekerjaan lain yang bisa Anda bantu? Apabila hal ini rekan pembaca lakukan, saya yakin Anda semakin dekat dengan etika kerja yang kuat! 
- Boleh saja sih membuka media sosial, tapi tetapkan waktu yang pasti dan jangan melanggarnya, ya! Misalnya, buka Instagram hanya dalam waktu 10 menit, setelah 10 menit teng, langsung kembali bekerja lagi. 
- Terapkan kiat-kiat ini secara berulang-ulang, sampai etika kerja yang kuat bukan lagi hal yang tabu bagi Anda, namun sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging. 
 
Nah, setelah membaca artikel di atas, kira-kira pembaca Career Advice ingin memiliki etika kerja yang kuat atau tidak? Jika iya, selamat mencoba dan salam sukses rekan-rekan Career Advice.
Featured Career Advices
Benarkah Kebahagiaan adalah Mendapatkan Pekerjaan Impian?

Benarkah Kebahagiaan adalah Mendapatkan Pekerjaan Impian?

Strategi Pemasaran E-mail untuk Generasi Milenial

Strategi Pemasaran E-mail untuk Generasi Milenial

5 Strategi Pemasaran melalui E-mail

5 Strategi Pemasaran melalui E-mail

Perencanaan Keuangan yang Salah di Umur 20-an

Perencanaan Keuangan yang Salah di Umur 20-an

Pentingnya Integritas dan Kejujuran Hati di Dunia Kerja

Pentingnya Integritas dan Kejujuran Hati di Dunia Kerja

Asumsi adalah Penyebab Kegagalan Wirausaha

Asumsi adalah Penyebab Kegagalan Wirausaha

Rapat Kerja dengan Keberagaman Suku Bangsa

Rapat Kerja dengan Keberagaman Suku Bangsa

5 Cara Membuat Logo Produk Menjadi Terkenal

5 Cara Membuat Logo Produk Menjadi Terkenal

Cara Mengatasi Stress terhadap Finansial

Cara Mengatasi Stress terhadap Finansial

Pengertian E-learning dan Lanskapnya pada 2019

Pengertian E-learning dan Lanskapnya pada 2019

Pentingkah Memiliki Tujuan Bekerja?

Pentingkah Memiliki Tujuan Bekerja?

Rapat Kerja dengan Komunikasi yang Efektif

Rapat Kerja dengan Komunikasi yang Efektif

5 Cara Pengusaha Sukses Tetap Bahagia

5 Cara Pengusaha Sukses Tetap Bahagia

7 Cara Menjadi Tokoh Terkenal di Dunia Bisnis

7 Cara Menjadi Tokoh Terkenal di Dunia Bisnis

10 Kesalahan Fatal yang Menghancurkan Bisnis Plan

10 Kesalahan Fatal yang Menghancurkan Bisnis Plan

Etika Memuji Rekan Kerja di Lingkungan Kerja

Etika Memuji Rekan Kerja di Lingkungan Kerja

Satu Pertanyaan yang Mengubah Hidup Lebih Baik

Satu Pertanyaan yang Mengubah Hidup Lebih Baik

3 Alasan Cerita Singkat Baik untuk Bisnis

3 Alasan Cerita Singkat Baik untuk Bisnis

Menjual Produk dan Jasa melalui Cerita Singkat

Menjual Produk dan Jasa melalui Cerita Singkat

4 Karakter Kepemimpinan yang Wajib Dimiliki

4 Karakter Kepemimpinan yang Wajib Dimiliki

Peranan E-Learning dalam Pengembangan Karier

Peranan E-Learning dalam Pengembangan Karier

3 Pikiran Negatif yang Menghambat Kebahagiaan dalam Karier

3 Pikiran Negatif yang Menghambat Kebahagiaan dalam Karier

Bagaimana Cara Mengembangkan E-Learning atau Pembelajaran Online?

Bagaimana Cara Mengembangkan E-Learning atau Pembelajaran Online?

4 Karakteristik Manusia yang akan Sukses di Dunia Bisnis dan Kesehatan

4 Karakteristik Manusia yang akan Sukses di Dunia Bisnis dan Kesehatan

6 Cara Menentukan Harga Jual Produk yang Tepat

6 Cara Menentukan Harga Jual Produk yang Tepat

5 Cara Menguji Strategi Bisnis yang Baru di Media Sosial

5 Cara Menguji Strategi Bisnis yang Baru di Media Sosial

10 Cara Mencintai Diri Sendiri untuk Karier Cemerlang

10 Cara Mencintai Diri Sendiri untuk Karier Cemerlang

5 Manfaat Menjaga Kebahagiaan Sejati Karyawan bagi Perusahaan

5 Manfaat Menjaga Kebahagiaan Sejati Karyawan bagi Perusahaan

Bisakah Memasarkan Bisnis Startup Sendirian?

Bisakah Memasarkan Bisnis Startup Sendirian?

11 Cara Memiliki Pola Pikir untuk Berani Memulai Bisnis

11 Cara Memiliki Pola Pikir untuk Berani Memulai Bisnis