Logo STUDILMU Career Advice
STUDILMU Career Advice - Apakah Sibuk sama dengan Produktif?

Apakah Sibuk sama dengan Produktif?


STUDILMU Users
by Studilmu Editor
Posted on May 07, 2018

It’s not enough to be busy. So are the ants. The question is : what are we busy about?

-Henry David Thoreau-


Memang betul, sibuk seringkali menjadi hal yang dikeluhkan oleh banyak orang, apalagi leader. Bahkan dalam quote di atas dikatakan semut saja sibuk. Lalu apa bedanya kita dengan semut? Apa yang membuat kita sibuk?

Pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab, bahkan oleh para leader yang telah mengaku dirinya sibuk. Sudah berusaha masuk lebih pagi, selama jam kerja pun merasa tidak pernah nganggur, istirahat rasanya masih dikejar-kejar ini-itu, dan tiba-tiba saja sudah waktunya pulang. Besok lagi pun masih seperti itu. Namun, herannya, tidak ada sedikitpun pekerjaan kita yang berkurang, target tidak tercapai, development pending, rencana inovasi cancel. Apa yang salah?

Banyak orang merasa dirinya sibuk, namun tidak menyadari apa saja yang telah membuatnya sibuk. Seakan-akan ditimbun pekerjaan, namun tak sedikit pun result yang didapat. Apakah Anda salah satu diantaranya?

Jika iya, mari kita mulai dengan mengagetkan diri kita dengan cara mendaftar hal-hal apa yang telah kita kerjakan setiap harinya, sekecil apapun itu. Jika perlu buatlah kolom yang dilengkapi dengan waktu. Daftar ini pasti mencengangkan kita, karena kemungkinan besar daftar tersebut berisi banyak, ya.. banyak hal.. banyak aktifitas. Namun tak banyak yang terlihat begitu penting.

Penting dalam hal ini didefinisikan sebagai hal yang produktif, memberi dampak bagi team, target, goals, dan tujuan kita. Sementara itu, ternyata sangat sedikit bahkan mungkin tidak ada hal penting yang produktif dan berdampak jangka panjang, yang kita lakukan sehari-hari. Itulah mengapa kita merasa selalu dan terlalu sibuk, namun tak beranjak mendekati kesuksesan.

Daftar pekerjaan kecil yang bisa jadi mengisi waktu kita sepanjang hari misalnya : mengangkat telepon dari marketing kartu kredit, mengecek email di pagi hari, membaca berita terbaru, menunggu dimulainya meeting, merapikan area meja kerja kita, menyapa dan sedikit ngobrol dengan rekan yang kita temui di pantry, bahkan sampai ke hal-hal yang sepertinya berhubungan dengan pekerjaan namun sebenarnya tidak terlalu berdampak pada kemajuan, sehingga tidak harus dilakukan pada hari itu. Misalnya, menghadiri meeting yang sebenarnya bisa didelegasikan, merapikan file-file dokumen yang berantakan, me-fotocopy proposal, menemui tamu (vendor) yang menawarkan produknya, menelepon terlalu lama, dan sebagainya.

Yang menentukan suatu pekerjaan penting atau tidak memang diri kita sendiri. Dan itulah tantangannya. Kita merasa satu hal penting, namun sebenarnya jika dibandingkan dengan hal lain ternyata ada yang jauh lebih penting. Kita mengerjakan pekerjaan yang di depan mata, bukan berdasarkan prioritas. Kita terbenam dalam batu kerikil pekerjaan yang sederhana karena merasa mudah untuk dilakukan, padahal sebenarnya ada batu besar yang harus kita pindahkan supaya proses berikutnya ada kemajuan.

Hal-hal kecil, sederhana, seperti kerikil ini adalah whirl wind, atau jika kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah angin puting beliung. Jika kita hanya melihat ujung angin puting beliung yang berada dekat dengan tanah tempat kita berpijak, sepertinya hanya titik kecil yang bisa kita lewati, tidak berbahaya, dan cenderung kita sepelekan.

Begitu juga dengan pekerjaan-pekerjaan kecil yang sepertinya sederhana, gampang diselesaikan, dan mungkin membuat kita berpikir “ah, hanya pekerjaan kecil ini.. gapapa lah dikerjakan duluan.. nanti kalau sudah selesai saya bisa mulai melakukan pekerjaan besar lainnya”

Namun sayangnya, angin puting beliung bukan hanya sekedar pusaran kecil yang boleh dipandang enteng, angin ini memiliki rentetan panjang, besar, bahkan berkekuatan luar biasa yang membahayakan. Jika kita sampai tersedot di dalam kumparannya, kita akan masuk ke dalam lubang besar yang berbahaya, dan tak bisa dikendalikan kekuatannya. Kita bisa terombang-ambing tak terkendali hanya mengikuti arah kemana angin tersebut akhirnya akan menghempaskan kita.

Ketika kita mulai terhisap ke dalam aktifitas kecil yang tak berujung, kita sebenarnya sedang tersedot masuk ke dalam angin puting beliung aktifitas kita. Awalnya kita merasa akan baik-baik saja dengan mengerjakan pekerjaan sederhana itu, lalu berlanjut ke pekerjaan sederhana lainnya, yang selalu ada dan muncul, lalu kita kerjakan, dan muncul lagi, hingga akhirnya kita tak akan mudah untuk mengendalikannya. Kita tanpa disadari sedang melakukan berbagai macam kesibukan tanpa makna yang menjauhkan kita dari goal dan tujuan kesuksesan kita. Kita tidak sadar sedang menghabiskan banyak waktu dalam hidup kita hanya untuk meladeni si angin puting beliung tersebut.

Sibuk tidak sama artinya dengan produktif. Sibuk yang tidak produktif biasanya karena disibukkan oleh angin puting beliung. Jadi, untuk mengatasi angin puting beliung ini kita perlu memastikan apakah setiap aktifitas yang kita lakukan menghasilkan, dan cukup produktif. Batasannya adalah, tujuan, goals, visi, dan impian kesuksesan kita.

Langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah mendefinisikan goal, tujuan, dan kesuksesan yang ingin kita raih. Lalu, berikutnya adalah memilah aktifitas-aktifitas mana yang membuat langkah kita lebih mendekat ke arah goal tersebut, dan mana yang justru menjauhkan. Tandanya adalah, aktifitas produktif biasanya akan berdampak besar di kemudian hari membawa kita mencapai goal yang telah kita tentukan sebelumnya.

Memang whirl wind cukup mengganggu. Namun sebagai seorang leader, semakin tinggi jabatan dan tanggung jawab kita, maka kemungkinan adanya whirl wind semakin besar. Dan itu tidak bisa dihindari. Yang bisa dilakukan justru memberi ruang sekaligus menetapkan batasan waktu menyelesaikannya.

Misal, kita alokasikan, mengikuti prinsip pareto, 80% waktu kerja efektif kita khusus untuk mengerjakan whirl wind. Yang artinya, kita akan stop jika alokasi tersebut sudah mencapai batasannya, dan mulai untuk mengerjakan 20% bagian dari aktifitas produktif, yang membawa kita semakin dekat ke goal.

Melakukan hal tersebut perlu kedisiplinan yang tinggi, karena godaan angin puting beliung cukup kuat hingga seringkali kita, dan banyak leader lainnya, tetap tergoda, terseret untuk mengerjakan hal tersebut. Dengan pengalokasian mengikuti prinsip pareto ini, akan membantu kita tetap mengerjakan hal-hal kecil yang menginterupsi dan tak bisa dihindari, namun juga tetap mengerjakan aktifitas produktif yang efektif.

Karena sibuk tidak sama dengan produktif, maka marilah kita menjadi leader yang tetap produktif, baik terlihat sibuk maupun tidak, dengan pengaturan waktu dan mawas diri terhadap whirl wind yang selalu ada setiap harinya. Selamat menjadi sibuk, namun jangan lupa untuk tetap produktif!

Featured Career Advices
3 Tips Memiliki Kepercayaan Diri dalam Setiap Percakapan

3 Tips Memiliki Kepercayaan Diri dalam Setiap Percakapan

12 Karakteristik Orang yang Memiliki Kesadaran Diri

12 Karakteristik Orang yang Memiliki Kesadaran Diri

4 Cara Mendapatkan Pengembangan Diri yang Baik

4 Cara Mendapatkan Pengembangan Diri yang Baik

7 Elemen Etos Kerja yang Sangat Penting

7 Elemen Etos Kerja yang Sangat Penting

7 Cara Meningkatkan Kesehatan di Lingkungan Kerja

7 Cara Meningkatkan Kesehatan di Lingkungan Kerja

4 Tanda Memiliki Hubungan Kerja dengan Klien yang Tidak Baik

4 Tanda Memiliki Hubungan Kerja dengan Klien yang Tidak Baik

4 Cara Meredakan Amarah

4 Cara Meredakan Amarah

5 Cara Mendorong Inovasi Terbaru di Perusahaan

5 Cara Mendorong Inovasi Terbaru di Perusahaan

8 Kunci Kebahagiaan dan Kesuksesan ala Richard Branson

8 Kunci Kebahagiaan dan Kesuksesan ala Richard Branson

6 Cara Menumbuhkan Kreativitas dan Inovasi

6 Cara Menumbuhkan Kreativitas dan Inovasi

8 Karakteristik Orang yang Menjadi Penghambat Kesuksesan

8 Karakteristik Orang yang Menjadi Penghambat Kesuksesan

5 Cara Mudah Memenangkan Hati Atasan

5 Cara Mudah Memenangkan Hati Atasan

7 Sifat Negatif Pemimpin yang Menjadi Penghambat Kesuksesan Tim

7 Sifat Negatif Pemimpin yang Menjadi Penghambat Kesuksesan Tim

3 Cara Mengatasi Emosi Negatif

3 Cara Mengatasi Emosi Negatif

Fungsi Moodle dalam Bidang Pendidikan

Fungsi Moodle dalam Bidang Pendidikan

8 Cara Generasi Milenial Menjadi Jutawan dalam 5 Tahun

8 Cara Generasi Milenial Menjadi Jutawan dalam 5 Tahun

10 Cara Orang Sukses Berhenti Merendahkan Harga Diri Mereka

10 Cara Orang Sukses Berhenti Merendahkan Harga Diri Mereka

7 Cara Meningkatkan Kebahagiaan Sejati dan Produktivitas Para Karyawan

7 Cara Meningkatkan Kebahagiaan Sejati dan Produktivitas Para Karyawan

10 Rasa Takut yang Harus Diatasi Ketika Memulai Bisnis

10 Rasa Takut yang Harus Diatasi Ketika Memulai Bisnis

Pengertian Moodle dan 9 Fungsi Moodle di dalam Bisnis

Pengertian Moodle dan 9 Fungsi Moodle di dalam Bisnis

10 Hal yang Tidak Boleh Diucapkan di Tempat Kerja

10 Hal yang Tidak Boleh Diucapkan di Tempat Kerja

6 Prinsip Dasar yang Dapat Menciptakan Inovasi dan Kreativitas

6 Prinsip Dasar yang Dapat Menciptakan Inovasi dan Kreativitas

6 Tips Membuat Rapat Tinjauan tentang Peningkatan Kinerja Karyawan

6 Tips Membuat Rapat Tinjauan tentang Peningkatan Kinerja Karyawan

5 Alasan Pentingnya Pelatihan untuk Menjadi Trainer Handal

5 Alasan Pentingnya Pelatihan untuk Menjadi Trainer Handal

5 Tips untuk Rapat Kerja yang Lebih Baik

5 Tips untuk Rapat Kerja yang Lebih Baik

Training for Trainer, 7 Cara Pelatihan Menjadi Trainer Handal

Training for Trainer, 7 Cara Pelatihan Menjadi Trainer Handal

Pertemanan adalah Hal yang Bermanfaat di Tempat Kerja

Pertemanan adalah Hal yang Bermanfaat di Tempat Kerja

6 Tips Bekerja dengan Rekan yang Tidak Memiliki Kesadaran Diri

6 Tips Bekerja dengan Rekan yang Tidak Memiliki Kesadaran Diri

9 Cara Mendapatkan Kebahagiaan

9 Cara Mendapatkan Kebahagiaan

Apa yang dimaksud inovatif dalam Bisnis? 5 Cara Ini Dapat Membantu.

Apa yang dimaksud inovatif dalam Bisnis? 5 Cara Ini Dapat Membantu.