Logo STUDILMU Career Advice
STUDILMU Career Advice - 6 Gaya Kepemimpinan dalam Menjadi Manajer yang Efektif

6 Gaya Kepemimpinan dalam Menjadi Manajer yang Efektif


STUDILMU Users
by Studilmu Editor

Seperti Apa Manajer yang Efektif Itu? 

Banyak para pemimpin yang berlomba-lomba mencari tahu cara menjadi manajer yang profesional. Hal ini mereka lakukan karena keyakinan yang begitu kuat bahwa peranan manajer sangatlah penting dalam suatu manajemen. Ada banyak manajer sukses di Indonesia yang bisa menjadi panutan kita dalam menjadi manajer yang baik dan efektif. Mempelajari sikap dan perilaku mereka adalah langkah yang bagus untuk dilakukan, karena pada kenyataannya menjadi manajer yang efektif bukan hanya dengan memenuhi syarat menjadi manajer perusahaan saja. Ada berbagai hal lain yang perlu kita pelajari juga. Manajer yang efektif adalah seorang manajer yang memiliki kompetensi untuk menyelesaikan setiap pekerjaannya dengan baik dan pandai untuk memilih cara alternatif serta cara yang efektif dalam mencapai tujuan. 
 
Dengan kata lain, beberapa karakteristik manajer yang efektif adalah memiliki keterampilan yang apik, berpengetahuan dan berwawasan luas, mampu menyelesaikan tugas dengan baik, memiliki keunggulan kompetitif yang mampu membantu perusahaan, dan mengerjakan setiap pekerjaan dengan metode penyelesaian yang tepat. Jadi, sekarang rekan-rekan sudah ada gambaran kan manajer yang baik itu seperti apa? 
 

Apa Saja Gaya Kepemimpinan untuk Menjadi Manajer yang Efektif?

Jika rekan-rekan pembaca semakin penasaran untuk mengetahui “Bagaimana sih caranya menjadi manajer yang efektif?” Nah, perlu rekan pembaca ketahui bahwa Anda sedang membaca artikel yang tepat untuk pengembangan diri dan kualitas kepemimpinan rekan pembaca. Jadi, pastikan rekan-rekan membaca artikel ini sampai selesai ya. 
 
Dilansir dari website business dot com, ada 6 gaya kepemimpinan dalam menjadi manajer yang efektif, yang mana kita bisa menerapkannya dengan gaya kepemimpinan pilihan kita masing-masing. Dalam hal ini, kita tidak perlu mengadopsi keenam cara tersebut secara sekaligus, namun kita bisa memilih satu gaya kepemimpinan atau mengkombinasikan beberapa gaya kepemimpinan tersebut ke dalam pekerjaan kita sebagai manajer. 
 
Mengapa kita tidak perlu mengadopsi keenam gaya kepemimpinan tersebut secara sekaligus? Karena manajer yang baik dan efektif akan menerapkan gaya kepemimpinan yang sesuai pada keadaan lingkungan kerja dan karyawannya. Jadi, apa saja ya 6 gaya kepemimpinan dalam menjadi manajer yang efektif? Yuk, kita simak penjelasannya berikut ini. 
 

1. Gaya Kepemimpinan Manajer: Autokrat. 

Gaya kepemimpinan pertama yang baik untuk menjadi manajer efektif adalah gaya autokrat. Gaya kepemimpinan ini menggarisbawahi tentang “dari mana terbentuknya suatu keputusan? Tentu saja, jawabannya adalah dari manajer”. Keuntungan dari gaya kepemimpinan yang seperti ini adalah pengambilan keputusan yang cepat. 
 
Secara logika ini memang benar, karena kita tidak perlu melemparkan permasalahan kepada pihak lain untuk didiskusikan kembali. Pengendali, pengontrol dan pengambil keputusan utama adalah manajer itu sendiri, tidak ada orang lain lagi. Kita tidak perlu mengadakan diskusi, konsultasi atau meminta dukungan dari pihak lain hanya untuk menghasilkan suatu keputusan. 
 
Ketika krisis melanda dimana kita harus mengambil kecepatan dengan secepat mungkin, gaya kepemimpinan ini menjadi sangat efektif. Apa contohnya? Misalnya saya adalah seorang produsen suatu produk makanan. Saya dan tim memiliki program untuk menyertakan hadiah langsung ke dalam kemasan produk makanan kami. Fatalnya, banyak konsumen kami yang terserang infeksi listeria karena bakteri yang ada pada hadiah di dalam kemasan produk tersebut. 
 
Tentu saja ini keadaan yang gawat dan kecepatan dalam mengambil suatu keputusan sangatlah kritikal dalam hal ini. Jika keputusan tidak diambil secepat mungkin dalam krisis ini, maka bisnis yang saya dirikan bisa bangkrut secara cepat. Namun, bukan berarti kita tidak bisa menimbang atau melakukan perundingan ketika menggunakan gaya kepemimpinan ini loh, rekan-rekan. Ketika krisis sudah mereda, manajer bisa berdiskusi dengan anggota timnya terhadap “keputusan kilat” yang sudah dirinya ambil. 
 
Kekurangan dari gaya kepemimpinan ini, anggota tim merasa tidak memiliki kekuatan apapun untuk menyampaikan ide-ide mereka. Terlebih lagi jika manajer mengambil keputusan secara cepat, secara tidak langsung anggota tim jugalah yang mendapatkan imbasnya. Gaya kepemimpinan manajer seperti ini sering disebut sebagai diktator atau otoritatif. Siapa tokoh terkenal yang mengadopsi gaya kepemimpinan ini? Salah satu praktisi terkenal yang menerapkannya adalah Henry Ford. Rekan-rekan pembaca pasti mengenalnya kan? 
 

2. Gaya Kepemimpinan Manajer: Konsultan. 

Gaya kepemimpinan manajer efektif yang kedua adalah menggunakan gaya konsultan. Nah, seorang praktisi terkenal yang mengadopsi gaya kepemimpinan ini adalah Elizabeth Dole. Menurut Dole, “Apa yang selalu Anda lakukan sebelum mengambil keputusan adalah berkonsultasi”. 
 
Jika pada gaya kepemimpinan autokratis kita tidak mengenal kata “konsultasi”, karena keputusan tertinggi hanya ada pada manajer, maka gaya kepemimpinan konsultan ini agak sedikit berbeda dari sebelumnya. Manajer konsultan selalu menerapkan diskusi atau kegiatan perundingan dengan anggota timnya sebelum mengambil keputusan. Meskipun begitu, keputusan terakhir dan tertinggi tetap ada pada manajer, bukan pada orang lain. 
 
Sejauh ini, gaya kepemimpinan seperti ini paling banyak diterapkan oleh para manajer. Namun kekurangannya, para karyawan yang tidak diikutsertakan pada konsultasi ini akan merasa diremehkan atau tidak dianggap. 
 
Kelemahan lainnya, jika para konsultan hebat resign atau keluar dari perusahaan, kemungkinan besar manajer akan merasa kesulitan untuk menghadapi permasalahan berikutnya. Mengapa demikian? Karena apabila manajer menggunakan ide atau masukan dari konsultan sebelumnya dalam memecahkan masalah, ketika ada permasalahan baru di masa depan yang masih berkaitan dengan masalah sebelumnya, maka ini bisa menjadi kondisi yang cukup gawat. 
 

3. Gaya Kepemimpinan Manajer: Demokratis. 

Gaya kepemimpinan manajer efektif ketiga adalah mereka yang menggunakan jalan demokratis. Pada gaya kepemimpinan ini, keputusan yang diambil menggunakan pilihan mayoritas. Jadi semakin para anggota tim tegas dan kuat dalam mempertahankan ide atau aspirasi mereka, maka ide mereka bisa menjadi keputusan yang terpilih. Terutama jika idenya masuk ke dalam pilihan mayoritas. 
 
Berbeda dengan gaya kepemimpinan autokratis, gaya kepemimpinan demokratis akan membuat proses pengambilan keputusan menjadi cukup lama untuk dicapai. Kelebihan dari gaya kepemimpinan ini akan terlihat ketika manajer dan anggota tim menghadapi permasalahan yang sangat kompleks. Dengan menerapkan gaya ini, setiap anggota tim akan memberikan ide-ide dan aspirasi cemerlang mereka yang akan membuat penyelesaian masalah ini menjadi sangat baik dan efektif. Logikanya, semakin banyak otak yang berpikir untuk menyelesaikan masalah tersebut, maka semakin baik solusi yang didapatkan. Siapa tokoh terkenal yang mengadopsi gaya kepemimpinan ini? Dia adalah John F. Kennedy. Kennedy menyatakan, “Cara terbaik bagi kita untuk bergaul adalah bergaul dengan orang lain”. 
 

4. Gaya Kepemimpinan Manajer: Laissez-Faire. 

Apakah rekan pembaca pernah mendengar istilah “Laissez- Faire” sebelumnya? Istilah ini berasal dari bahasa Perancis yang memiliki arti “biarkan terjadi” atau “biarkan berbuat”. Sesuai dengan arti dari istilah laissez-faire, gaya kepemimpinan laissez-faire yang diadopsi oleh manajer akan membuat dirinya menjadi seorang mentor. 
 
Para manajer yang mengadopsi gaya kepemimpinan ini tidak akan menjadi seorang yang autokrat, namun dirinya akan membiarkan para karyawan untuk bekerja dan mengerjakan pekerjaannya secara bebas. Manajer membiarkan karyawannya untuk membuat keputusan dan manajer akan turun tangan jika memang diperlukan. 
 
Kelebihan dari gaya kepemimpinan ini adalah para karyawan akan merasa “dihargai” kehadirannya karena mereka memiliki otonomi untuk memberikan pendapat dan membuat keputusan. Namun dikarenakan terlalu banyak orang yang ingin mengambil “andil” dalam suatu permasalahan, maka keputusan yang diambil bisa menjadi kacau balau. 
 
Ibaratnya, kondisi ini seperti terlalu banyak koki yang memasak di dapur. Ada yang ingin memasukkan bumbu A, ada yang ingin mencampurkan bumbu B, dan lain sebagainya. Konsekuensinya, rasa masakannya akan terasa aneh. Praktisi terkenal yang mengadopsi gaya kepemimpinan ini adalah Warren Buffett. 
 

5. Gaya Kepemimpinan Manajer: Persuasif. 

Hampir sama dengan gaya kepemimpinan konsultan dan demokratis, gaya kepemimpinan persuasif sangat tergantung pada para karyawan atau anggota tim yang berhasil untuk membujuk atau melakukan persuasif pada manajernya dalam mengambil suatu keputusan. 
 
Gaya kepemimpinan ini sangat baik dan efektif untuk diterapkan para manajer. Mengapa? Karena melalui gaya ini, baik manajer dan anggota akan memiliki rasa saling percaya satu sama lain. Sehingga, mereka saling melakukan persuasif untuk mencapai tujuan yang diinginkan. 
 
Namun, gaya kepemimpinan ini akan menjadi kacau ketika kedua belah pihak, baik manajer dan anggota (karyawan) tidak memiliki rasa kepercayaan. Dengan kondisi yang seperti ini, gaya kepemimpinan persuasif tidak akan berjalan secara efektif. Siapa tokoh terkenal yang mengadopsi gaya kepemimpinan ini? Yap! Dia adalah Martin Luther King, Jr, yang selalu dikenal sebagai seorang pemimpin yang paling persuasif sepanjang masa. 
 

6. Gaya Kepemimpinan Manajer: Pendengar yang Baik. 

Terakhir, kita akan menemukan gaya kepemimpinan manajer yang selalu menjadikan dirinya sebagai pendengar yang baik. Para manajer yang mengadopsi gaya kepemimpinan ini tidak akan segan untuk “menceburkan” dirinya ke dalam parit bersama para karyawan. Mereka mau meluangkan waktunya untuk mendengarkan keluh kesah, ide dan aspirasi yang dimiliki karyawan untuk mencari fakta-fakta dalam mengatasi permasalahan dari awal. Di sinilah, para manajer dapat menawarkan konseling atau bimbingan kepada karyawannya, bukan sekedar arahan atau suruhan semata. 
 
Meskipun terlihat cukup efektif, namun gaya kepemimpinan ini juga memiliki kekurangan loh, rekan-rekan. Pertama, ketika karyawan tidak menyukai pihak manajemen, maka saran apapun yang diberikan manajer dalam konseling tidak akan berpengaruh apa-apa. Kedua, jika seorang manajer hanya berpura-pura untuk menjadi pendengar yang baik, maka para karyawan tidak akan menyampaikan keluh kesah dan ide-ide yang jujur. Malahan, karyawan cenderung akan diam saja atau “membumbui” percakapan dengan pembicaraan yang menyenangkan, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Siapa tokoh terkenal yang mengadopsi gaya kepemimpinan ini? Praktisi terkenal yang mengadopsi gaya ini adalah Steve Jobs. Wah, siapa coba yang tidak mengenal tokoh ini!
 

Lantas, Gaya Kepemimpinan Mana yang Paling Terbaik Jika Kita Ingin Menjadi Manajer yang Efektif?

Keenam gaya kepemimpinan di atas akan membuat kita menjadi manajer yang efektif, jika kita menerapkannya sesuai dengan lingkungan kerja dan kondisi karyawan yang kita miliki. Tentunya, setiap manajer di dunia ini akan menghadapi karakteristik karyawan dan memiliki lingkungan kerja yang berbeda-beda. 
 
Jadi, sesuai dengan pengertian dari manajer yang efektif bahwa dirinya adalah seorang yang pandai untuk memilih cara alternatif serta cara yang efektif dalam mencapai tujuan, maka manajer yang efektif tahu gaya kepemimpinan mana yang paling cocok untuk dirinya terapkan. Selamat mencoba gaya kepemimpinan di atas ya, rekan-rekan Career Advice.
Featured Career Advice
Mengenal Fungsi Komunikasi dan 4 Contohnya dalam Bisnis

Communication

Mengenal Fungsi Komunikasi dan 4 Contohnya dalam Bisnis

Pengertian Kepemimpinan secara Umum dan 6 Jenis Kepemimpinan

Leadership

Pengertian Kepemimpinan secara Umum dan 6 Jenis Kepemimpinan

Mengenal Gaya Kepemimpinan dalam Organisasi dan 5 Keutamaannya

Leadership

Mengenal Gaya Kepemimpinan dalam Organisasi dan 5 Keutamaannya

Apa Itu Keterampilan Sosial dalam Kerjasama Tim?

Teamwork & Collaboration

Apa Itu Keterampilan Sosial dalam Kerjasama Tim?

Apa Itu Kerjasama Tim? dan Bagaimana Perusahaan Mendorongnya?

Teamwork & Collaboration

Apa Itu Kerjasama Tim? dan Bagaimana Perusahaan Mendorongnya?

Apa itu Etika Bisnis? dan 6 Cara Menulis Kode Etik untuk Bisnis

Leadership

Apa itu Etika Bisnis? dan 6 Cara Menulis Kode Etik untuk Bisnis

3 Alasan Mengapa Millennial Fokus Pada Kecerdasan Emosional

Emotional Intelligence

3 Alasan Mengapa Millennial Fokus Pada Kecerdasan Emosional

5 Risiko Human Resources Paling Teratas dan Cara Menanganinya

Leadership

5 Risiko Human Resources Paling Teratas dan Cara Menanganinya

5 Rahasia Hebat Untuk Memecahkan Krisis Employee Engagement

Leadership

5 Rahasia Hebat Untuk Memecahkan Krisis Employee Engagement

8 Kebahagiaan bagi Generasi Millennial di Tempat Kerja

Happiness

8 Kebahagiaan bagi Generasi Millennial di Tempat Kerja

3 Alasan Mengapa Motivasi Saja Tidak akan Cukup untuk Kesuksesan

Motivation

3 Alasan Mengapa Motivasi Saja Tidak akan Cukup untuk Kesuksesan