Logo STUDILMU Career Advice
STUDILMU Career Advice - 5 Cara Tepat dalam Merespon Umpan Balik Negatif

5 Cara Tepat dalam Merespon Umpan Balik Negatif


STUDILMU Users
by Studilmu Editor
Posted on Oct 13, 2018

 
“Hei, apakah kamu punya waktu untuk mengobrol di ruangan saya?”
Tidak peduli dalam situasi apapun, kata-kata itu bisa menimbulkan ketakutan di hati para pendengarnya, bahkan bagi seseorang yang paling percaya diri sekalipun. Dan tentu saja, tidak peduli seberapa baik Anda melakukan pekerjaan Anda, menerima umpan balik negatif dari atasan Anda, klien, atau bahkan laporan langsung akan sangat sulit untuk ditelan.
 
Sepanjang karier Anda, Anda akan selalu diberikan umpan balik dalam beberapa bentuk atau lainnya, dan kemungkinan besar atasan Anda akan menyoroti hal yang Anda lakukan dengan baik dan hal yang harus Anda tingkatkan. Ini adalah bagian penting dari pertumbuhan profesionalitas. Ketika umpan balik tersebut diberikan dengan benar dan dengan niat baik, itu bisa menjadi hal yang sangat berharga untuk memajukan karir Anda
 
Namun, hal itu juga dapat membuat Anda merasa tidak nyaman atau bahkan menjengkelkan. Katakanlah Anda telah mengerahkan seluruh upaya dalam karir Anda dan Anda merasa bangga akan pekerjaan Anda. Namun, saat Anda mendapat kritik negatif, kritik tersebut dapat benar-benar meruntuhkan harga diri Anda.
 
Anda mungkin tidak bisa memilih umpan balik mana yang seharusnya dan yang tidak seharusnya datang. Yang menjadi hal terpenting adalah bukan umpan balik itu sendiri, tetapi cara Anda dalam menerima dan merespon umpan balik tersebut. Cara Anda menerima dan merespon umpan balik yang datang, khususnya umpan balik yang bersifat negatif, akan sangat mempengaruhi rasa percaya diri, kompetensi, juga profesionalitas Anda. Mungkin Anda mengevaluasi umpan balik yang telah Anda terima dan menerapkannya untuk maju. Namun, apa yang seharusnya Anda lakukan saat Anda sedang mendapatkan umpan balik negatif tersebut? Berikut adalah 5 hal yang harus Anda hindari jika Anda tetap ingin memiliki kekuatan dan ketenangan setelah mendapatkan umpan balik dari atasan, rekan kerja atau bahkan klien Anda.
 
1. Jangan bersikap defensif
Selama percakapan umpan balik, Anda mungkin akan bersikap defensif. Ini adalah reaksi yang benar-benar alami, tetapi hal itu juga bisa menjadi tidak baik. Cobalah untuk mengendalikan rasa defensif Anda semaksimal mungkin.
 
Cobalah untuk menghindari bahasa yang menuduh atau subjektif seperti "tidak adil" atau "sepertinya selalu seperti itu", dan sebagai gantinya, fokus pada membuat pernyataan "Saya" yang menunjukkan bahwa Anda bertanggung jawab atas tindakan dan hasil Anda. Sebagai contoh, katakanlah bahwa Anda berhutang tentang laporan pekerjaan Anda kepada bos Anda. Anda telah meminta seseorang untuk mencetaknya, tetapi dia salah memahami instruksi Anda dan terlambat menyampaikan laporan tersebut. Bos Anda tidak peduli bahwa itu disebabkan oleh rekan Anda. Semua yang dia tahu adalah Anda terlambat memberikan laporan tersebut. Tentu Anda perlu untuk bertanggung jawab untuk itu, dan pertimbangkanlah cara yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan kepercayaan bos Anda terhadap Anda di masa depan (misalnya, "Saya tahu laporannya terlambat, dan saya akan memastikan itu tidak akan terjadi lagi di masa depan" ).
 
2. Jangan meminta maaf secara berlebihan
Di sisi lain, jangan berlebihan. Jika umpan balik didasarkan pada kesalahan, kesalahpahaman, atau perilaku tertentu, minta maaflah. Namun, cukup sekali saja. Hitunglah permintaan maaf Anda. Permintaan maaf yang Anda berikan harus tulus, singkat, dan menunjukkan bahwa Anda memahami masalahnya dan menemukan cara untuk menghindarinya di masa depan. Bos Anda akan menghargai ini dan kemungkinan besar ia ingin mengatakan kepada Anda "tidak apa-apa". 

3. Jangan cepat bereaksi
Ketika Anda menerima umpan balik yang benar-benar sulit diterima atau bahkan benar-benar tidak beralasan, jangan tergoda untuk segera bereaksi. Itu adalah waktu saat emosi Anda berada pada puncaknya. Jadi, penting untuk Anda mengambil napas dalam-dalam dan memberi diri Anda beberapa ruang untuk menyerap komentar tersebut dan menjernihkan pikiran Anda sebelum meresponnya. Orang yang memberi Anda umpan balik mungkin ingin membahasnya secara langsung, tetapi biasanya Anda lebih baik mengatakan sesuatu seperti, “Saya sangat menghargai mendengar kekhawatiran Anda. Saya ingin meluangkan waktu untuk mengumpulkan pikiran saya sehingga saya dapat menanggapi dengan lebih baik tentang hal yang telah saya dengar. ”Lalu, keluarkan diri Anda secara fisik dengan berjalan-jalan di luar. Ini  selalu menjadi ide yang baik untuk memberi ruang bagi diri Anda sendiri. Tenangkan pikiranmu.

4. Jangan lewatkan kesempatan untuk menjelaskan
Setelah Anda memiliki kesempatan untuk menjernihkan pikiran Anda, kembalilah dan pikirkan tentang poin-poin utama yang disampaikan bos Anda. Apakah poin-poin tersebut cukup masuk akal, atau adakah sesuatu yang benar-benar keluar dari jalur? Jika ya, mintalah bos Anda untuk memberikan Anda kesempatan dalam meninjau kembali umpan balik yang mengejutkan tersebut. Minta juga pendapatnya dan pemahaman yang lebih baik tentang apa yang perlu Anda kerjakan?
 
Tidak pernah ada ide yang buruk untuk kembali bersamanya setelah beberapa hari atau minggu dan mengatakan sesuatu seperti, “Berdasarkan evaluasi saya, inilah tiga poin utama yang saya pahami yang harus saya tingkatkan, dan inilah yang saya pahami Saya melakukannya dengan baik dan harus terus melakukannya. Ada satu hal yang Anda sebutkan yang cukup menarik perhatian saya, dan inilah alasannya. Orang yang memberi Anda umpan balik akan menghargai bahwa Anda telah meluangkan waktu untuk menganalisisnya dan jelas tentang langkah-langkah yang harus Anda ambil untuk memperbaiki masa depan.
 
5. Jangan memikirkan umpan balik tersebut berlarut-larut
Ketika umpan balik negatif datang dan mengejutkan Anda, menunjukkan kelemahan yang membuat Anda sadar diri, atau bersifat pribadi, Anda pasti akan merasa buruk tentang itu. Itu benar-benar normal. Ketika Anda memberikan diri Anda waktu untuk mengatasi perasaan itu, Anda juga harus membiarkan rasa buruk tersebut hilang.
 
Ingatlah bahwa Anda bukanlah pekerjaan Anda, dan penilaian rekan Anda tentang kinerja profesional Anda tidak berkorelasi dengan kehidupan Anda.
 
Umpan balik merupakan sesuatu yang dapat menunjang pertumbuhan Anda. Namun ingatlah bahwa umpan balik bukanlah hal yang menggambarkan kehidupan Anda secara keseluruhan. Jika Anda merasa bahwa umpan balik tersebut sangat menyakitkan, itu merupakan hal yang wajar. Namun, jangan sampai Anda mengambil langkah yang salah dalam meresponi umpan balik tersebut. 
Featured Career Advices
Etika Memuji Rekan Kerja di Lingkungan Kerja

Etika Memuji Rekan Kerja di Lingkungan Kerja

Satu Pertanyaan yang Mengubah Hidup Lebih Baik

Satu Pertanyaan yang Mengubah Hidup Lebih Baik

3 Alasan Cerita Singkat Baik untuk Bisnis

3 Alasan Cerita Singkat Baik untuk Bisnis

Menjual Produk dan Jasa melalui Cerita Singkat

Menjual Produk dan Jasa melalui Cerita Singkat

4 Karakter Kepemimpinan yang Wajib Dimiliki

4 Karakter Kepemimpinan yang Wajib Dimiliki

Peranan E-Learning dalam Pengembangan Karier

Peranan E-Learning dalam Pengembangan Karier

3 Pikiran Negatif yang Menghambat Kebahagiaan dalam Karier

3 Pikiran Negatif yang Menghambat Kebahagiaan dalam Karier

Bagaimana Cara Mengembangkan E-Learning atau Pembelajaran Online?

Bagaimana Cara Mengembangkan E-Learning atau Pembelajaran Online?

4 Karakteristik Manusia yang akan Sukses di Dunia Bisnis dan Kesehatan

4 Karakteristik Manusia yang akan Sukses di Dunia Bisnis dan Kesehatan

6 Cara Menentukan Harga Jual Produk yang Tepat

6 Cara Menentukan Harga Jual Produk yang Tepat

5 Cara Menguji Strategi Bisnis yang Baru di Media Sosial

5 Cara Menguji Strategi Bisnis yang Baru di Media Sosial

10 Cara Mencintai Diri Sendiri untuk Karier Cemerlang

10 Cara Mencintai Diri Sendiri untuk Karier Cemerlang

5 Manfaat Menjaga Kebahagiaan Sejati Karyawan bagi Perusahaan

5 Manfaat Menjaga Kebahagiaan Sejati Karyawan bagi Perusahaan

Bisakah Memasarkan Bisnis Startup Sendirian?

Bisakah Memasarkan Bisnis Startup Sendirian?

11 Cara Memiliki Pola Pikir untuk Berani Memulai Bisnis

11 Cara Memiliki Pola Pikir untuk Berani Memulai Bisnis

7 Rahasia Menjadi Tangguh di Dunia Kerja

7 Rahasia Menjadi Tangguh di Dunia Kerja

10 Cara Membawa Rasa Bahagia di dalam Tim Kerja

10 Cara Membawa Rasa Bahagia di dalam Tim Kerja

4 Cara Menuju Pensiunan Dini di Umur 40 Tahun

4 Cara Menuju Pensiunan Dini di Umur 40 Tahun

5 Cara Meningkatkan Etika Kerja di Perusahaan Indonesia

5 Cara Meningkatkan Etika Kerja di Perusahaan Indonesia

5 Strategi untuk Menang dalam Presentasi Bisnis

5 Strategi untuk Menang dalam Presentasi Bisnis

3 Tingkat Kesadaran Diri

3 Tingkat Kesadaran Diri

10 Cara untuk Mulai Mengasah Strategi Pemasaran

10 Cara untuk Mulai Mengasah Strategi Pemasaran

3 Pertanyaan Sebelum Memulai Bisnis dan Menjadi Pengusaha

3 Pertanyaan Sebelum Memulai Bisnis dan Menjadi Pengusaha

5 Karakter Buruk Generasi Milenial yang Diperlukan dalam Bisnis

5 Karakter Buruk Generasi Milenial yang Diperlukan dalam Bisnis

11 Fakta Mengejutkan tentang Kepribadian Manusia

11 Fakta Mengejutkan tentang Kepribadian Manusia

35 Karakteristik Wirausaha

35 Karakteristik Wirausaha

5 Manajemen Krisis untuk Mengubahnya Menjadi Peluang

5 Manajemen Krisis untuk Mengubahnya Menjadi Peluang

7 Cara Mendapatkan Investor untuk Bisnis Startup

7 Cara Mendapatkan Investor untuk Bisnis Startup

9 Pelajaran Hidup yang Tidak Didapatkan dari Sekolah Bisnis

9 Pelajaran Hidup yang Tidak Didapatkan dari Sekolah Bisnis

10 Cara Orang Sukses Menjadi Semakin Kaya

10 Cara Orang Sukses Menjadi Semakin Kaya