×
STUDILMU Career Advice - 10 Cara Teknologi Membajak Kepribadian Manusia
Innovation

10 Cara Teknologi Membajak Kepribadian Manusia

STUDILMU Users By STUDiLMU Editor

Pengertian Kepribadian Manusia

Untuk mengetahui arti dari kepribadian manusia, kita harus bisa memahami arti dari “kepribadian” atau behavior itu sendiri. Beberapa ahli telah berusaha untuk mendefinisikan kepribadian. Menurut John F. Cuber, kepribadian adalah keseluruhan sifat yang tampak dan dapat dilihat oleh seseorang. Bagi M.A.W. Brower, kepribadian adalah corak tingkah laku sosial yang terdiri dari dorongan, keinginan, opini dan sikap-sikap seseorang. 
 
Kepribadian manusia adalah sifat, karakter dan sikap yang terdapat di dalam individu. Selain itu, kepribadian manusia terbagi menjadi tiga bagian yaitu, introvert, ekstrovert dan ambivert. Introvert biasanya terdiri dari orang-orang yang suka menyendiri, pemikir, pendiam, pemalu dan cukup sulit bergaul. Ekstrovert sifat kebalikan dari introvert yang mana orang-orang ekstrovert akan lebih aktif, terbuka, suka bergaul dan sangat percaya diri. Sedangkan ambivert adalah orang-orang yang sifatnya dapat berubah-ubah, tergantung dengan situasi atau mood yang sedang dirasakannya. 

Teknologi dapat Membajak Kepribadian Manusia

Tidak peduli apapun jenis kepribadian yang kita miliki, entah itu introvert, ekstrovert atau ambivert. Disadari atau tidak, perkembangan teknologi di zaman modern telah membajak kepribadian manusia di muka bumi ini. Hmm, maksudnya pembajakan seperti apa ya? Dunia virtual yang diciptakan oleh teknologi telah menampilkan banyak fitur-fitur baru dan iklan produk yang sering menipu kita, sehingga kita memiliki keyakinan yang luar biasa untuk membeli produk tersebut. 
 
Dunia virtual juga membuat kita lebih betah untuk melihat layar ponsel atau laptop selama berjam-jam, daripada menatap wajah orang-orang terkasih di depan kita. Perkembangan teknologi juga membuat kita sering lalai dengan tugas-tugas kerja di kantor dan memiliki waktu yang lebih sedikit untuk beristirahat. Contohnya, rekan pembaca pernah tidak melihat pasangan kekasih yang sedang nge-date dan keduanya saling menatap layar ponsel masing-masing? Padahal, waktu berdua dengan orang terkasih adalah waktu berkualitas untuk saling bertukar cerita. Berdasarkan contoh ini kita dapat melihat dengan jelas bahwa teknologi telah membajak kepribadian manusia. Kepribadian manusia yang dulunya suka mengobrol dengan orang-orang di sekitarnya, sekarang berubah menjadi lebih memperhatikan ponselnya. 
 
Menurut website entrepreneur, ada 10 cara bagaimana teknologi telah membajak kepribadian manusia di zaman modern saat ini. Yuk, kita lihat penjelasannya berikut ini. 
 

1. Teknologi telah Mengalihkan Perhatian Kita. 

Sulit dipercaya bahwa benda seperti ponsel telah berhasil mengalihkan perhatian kita, bahkan sampai sekarang. Setiap kali ponsel kita bergetar, berbunyi atau menyala secara sekejap, kita pasti langsung buru-buru mengecek ponsel kita untuk melihat notifikasi apa yang ada di dalam ponsel. 
 
Lucunya lagi, meskipun ponsel kita tidak memberikan tanda-tanda bahwa ada pesan atau notifikasi baru, misalnya bunyi, getar atau menyala, kita tetap saja suka mengecek ponsel kita. Tiba-tiba kita mencoba meraih ponsel dan berkata dalam hati, “ada whatsapp tidak ya?” atau “ada info terbaru apa ya dari akun Instagram saya?” dan lain sebagainya. 
 
Ketika kita tidak melihat atau mengecek ponsel untuk beberapa waktu yang cukup lama, kita merasa seperti ada yang kurang dalam hidup kita. Padahal, jika kita tidak mengecek ponsel, hidup kita mungkin akan aman-aman saja. Teknologi telah mengalihkan perhatian kita dari sesuatu yang seharusnya tidak perlu diperhatikan menjadi hal yang sangat diperhatikan secara berlebihan. 

2. Teknologi Membuat Kita Memerlukan Ruang Mental yang Lebih.

Sebagian orang mengakali cara untuk tetap fokus dan tidak terkecoh dengan ponsel dengan cara mematikan notifikasi atau mengubah mode ponsel menjadi silent (senyap). Ups! Tapi, nyatanya tidak semudah itu loh. Ketika kita telah sadar untuk mengabaikan ponsel dan mematikan notifikasi yang ada, kita tetap saja tergoda untuk mengecek ponsel. 
 
Ya, walaupun mungkin tidak ada telepon atau chat apapun yang masuk ke dalam selular kita sih. Tapi, tetap saja rasanya seperti ingin selalu mengecek ponsel secara berkala. 
 
Para peneliti dari University of Texas di Austin, University of California, San Diego dan Disney Research baru-baru ini melakukan penelitian dan menemukan bahwa ketika ponsel seseorang berada di dekatnya, di atas meja atau bahkan diletakkan  di dalam ruangan yang sama, kondisi ini akan membuat kinerja seseorang menjadi menurun. Kognitif mereka akan memerlukan waktu penalaran yang cukup lama. Akibatnya? Kita akan sulit untuk fokus dalam mengerjakan tugas kantor. 
 
Ketika fokus kita menurun karena terlalu berfokus pada ponsel, penurunan fokus ini sama saja seperti efek dari kurang tidur loh! Jadi, para peneliti ini menyarankan agar kita bisa lebih fokus pada pekerjaan dan tidak cepat lelah, solusi yang terbaik adalah menjauhkan diri kita dari ponsel. Akankah lebih baik jika kita tidak meletakkannya di samping kita, sehingga fokus kita akan tetap terjaga. Teknologi telah membuat manusia memerlukan ruang mental lebih agar bisa terhindar dari gangguan ponsel dan fokus dengan pekerjaan. 

3. Kita Mudah Terpengaruh terhadap Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence. 

Yap! disadari atau tidak, teknologi dan artificial intelligence (kecerdasan buatan) telah berusaha untuk mengumpulkan informasi-informasi penting yang kita miliki. Nantinya, semua informasi penting tersebut akan mempengaruhi keputusan kita dalam berbelanja atau memilih suatu produk dan layanan jasa. 
 
Cara ini bekerja ketika kita sedang melihat-lihat barang di salah satu e-commerce. Kita memilih satu produk yang sangat murah dan menarik perhatian kita, lalu kita masukkan ke dalam keranjang belanja virtual. Akan tetapi, kita belum sempat melakukan “check out” atau pembayaran dari barang tersebut. Beberapa waktu kedepan, ketika kita mencoba masuk ke dalam e-commerce yang sama, kita akan melihat iklan-iklan yang berkaitan dengan produk yang kita pilih sebelumnya. Singkatnya, kita akan terus “dihantui” oleh iklan-iklan tersebut sampai akhirnya kita akan membeli produk yang dimaksud. 
 
Dari contoh ini, kita bisa melihat dengan jelas bahwa para penjual online di e-commerce pun dapat mempengaruhi pikiran dan keputusan kita dalam memilih produk. Kecerdasan teknologi telah mempengaruhi keputusan kita secara mendalam. Keputusan yang kita ambil bukan lagi ditentukan oleh kepribadian, namun ditentukan oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).

4. Teknologi telah Memperpendek Rentang Perhatian Kita. 

Seorang penulis buku yang berjudul Irresistible: Rise of Addictive Technology, Adam Alter mengatakan bahwa penelitian yang dia temukan menunjukkan bahwa rentang perhatian yang dimiliki manusia semakin lama semakin menurun. Awalnya, rentang perhatian manusia adalah 12 detik dan sekarang rentang perhatian yang paling rendah telah menurun menjadi 8 detik, dan rata-rata rentang perhatian adalah 9 detik. 
 

5. Teknologi Membuat Kita Sulit Membedakan Jenis Kepribadian Manusia. 

Di sisi lain, teknologi juga akan membuat kita “ketagihan”. Dulu kepribadian kita akan menentukan apa yang kita sukai. Misalnya, seorang yang introvert akan lebih suka membaca buku dan seorang ekstrovert akan lebih suka mengobrol dengan teman-temannya. Akan tetapi dengan perkembangan teknologi seperti sekarang ini, semua jenis kepribadian manusia akan merasa ketagihan ketika mereka melihat foto-foto produk di dalam Instagram, membaca cerita fiksi atau komik secara online, dan lain sebagainya. Semua hal yang membuat ketagihan tersebut akan membuat kita sulit untuk membedakan jenis-jenis kepribadian manusia. 

6. Teknologi Mengubah Persepsi Manusia terhadap Pilihan. 

Perkembangan teknologi telah menawarkan banyak pilihan yang bisa kita putuskan. Dahulu, pilihan kita hanya terbatas dengan beberapa pilihan saja karena kita tidak memiliki akses yang luas untuk melihat pilihan-pilihan lain di luar lingkup kita. Ketika teknologi datang dan semakin berkembang, manusia memiliki banyak pilihan yang belum pernah mereka temukan sebelumnya. 
 
Sebagai contoh, saya ingin minum kopi di kafe yang unik dan instagramable. Saya hanya perlu mengetik keywords “Kafe lucu di Jakarta” di Google, lalu saya akan mendapatkan banyak pilihan yang ditawarkan oleh Google terkait kafe-kafe lucu dan terkenal di Jakarta. 
 
Dari banyaknya pilihan tersebut, saya akan memberikan persepsi yang beragam atas setiap pilihan yang ada. Kepribadian saya yang pemalu dan tertutup mungkin akan berubah menjadi seorang yang sangat aktif dan kritis ketika saya menilai pilihan-pilihan yang ada. Berdasarkan contoh ini kita bisa melihat bahwa banyaknya pilihan yang dibawa teknologi telah mengubah persepsi banyak orang. 
 

7. Teknologi dapat Membantu Memperkuat Keyakinan Kita. 

Katakanlah kita adalah seorang yang sangat sulit untuk mempercayai suatu hal. Kepribadian yang kita miliki memang sangat keras karena sulit bagi orang lain untuk meyakinkan diri kita. Nah, teknologi bisa membajak kepribadian kita ini loh! Mungkin sebelumnya kita tidak akan percaya bahwa Lombok adalah memiliki pantai-pantai yang indah. Namun, ketika kita search “pantai indah di Lombok Indonesia”, kita akan terkagum-kagum dan mulai yakin bahwa pantai-pantai di sana memang indah. Teknologi akan membuat kita dari tidak yakin menjadi yakin, dari yakin menjadi tidak yakin, atau dari tidak yakin menjadi bertambah tidak yakin dan dari yakin menjadi semakin yakin. 
 

8. Teknologi dapat Menipu Kita dalam Berpikir Sesuatu. 

Perkembangan teknologi juga telah memberikan dampak yang besar terhadap industri perfilman. Hal-hal mustahil yang mungkin akan terjadi di dalam kehidupan manusia telah menjadi suatu hal yang real dan diyakini oleh orang banyak. Dengan kata lain, teknologi bisa menipu banyak orang. Misalnya, film Spiderman. Anak-anak kecil mungkin akan berpikir bahwa Spiderman itu benar-benar ada dan mereka mungkin juga akan berpikir bahwa digigit laba-laba akan membuat kita menjadi sosok Spiderman. 
 
Bahkan, penipuan yang dibawa oleh teknologi bukan hanya dari industri perfilman. Kabar-kabar hoax yang sering tersebar di kalangan masyarakat juga membuat banyak orang memikirkan hal-hal mustahil yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan (karena hanya tipuan). 

9. Teknologi telah Mengubah Kehidupan Sehari-Hari Menjadi Game.

Game. Semua orang pasti sangat familiar dengan kata ini. Bagaimana tidak? Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, game adalah permainan atau aplikasi yang digandrungi oleh banyak orang dari berbagai kalangan sosial. Teknologi telah membuat kehidupan sehari-hari manusia menjadi game atau permainan. Gamifikasi ini akan memudahkan para individu menjadi lebih semangat karena mereka menjalani kehidupan seakan-akan sedang berkompetisi seperti di dalam games. 
 
Sebagai contoh, program ojek online mengharuskan para drivernya untuk mengumpulkan poin per harinya agar para driver bisa mendapatkan bonus atau insentif dari perusahaan ojek online tersebut. Sistem ini dibuat seperti game yang mana semakin banyak poin yang kita dapatkan dalam sebuah permainan, maka semakin banyak hasil yang akan kita dapatkan. 

10. Teknologi mengubah Cara Berkomunikasi Manusia. 

Pernah tidak rekan-rekan pembaca berkenalan dengan seseorang di dunia maya? Ketika rekan pembaca berkomunikasi dengan orang tersebut melalui chat dan telepon, kenalan baru Anda ini adalah orang yang sangat aktif dan suka mengobrol. Namun, ketika kalian memutuskan untuk bertemu, kenalan rekan pembaca ini ternyata adalah seorang yang sangat pasif. Apakah rekan pembaca pernah berada dalam kondisi seperti ini? 
 
Contoh tersebut adalah pengaruh dari perkembangan teknologi yang telah membajak kepribadian manusia. Seorang yang introvert bisa saja akan menjadi seorang yang sangat ekstrovert ketika berkomunikasi dengan orang lain melalui teknologi, begitu juga sebaliknya. Ini membuat kita tersadar bahwa teknologi tidak sepenuhnya dapat memberikan kita clue yang tepat tentang kepribadian seseorang. 
 
Yap, itulah penjelasan dan contoh bagaimana teknologi telah membajak kepribadian manusia di zaman modern seperti sekarang ini. Jadi, untuk sepenuhnya percaya atau setengah percaya terhadap teknologi, semua itu kembali pada persepsi kita masing-masing.

Featured Career Advice